
Ehem... Ehem... Attention! Kenapa alurnya sangat lambat? Sengaja memang dibuat se-kompleks mungkin. Mungkin bagi sebagian orang karya ini sangat membosankan. Felis juga sudah memperingatkan (silahkan membaca deskripsi sebelum baca karya ini) kalau alurnya bertele-tele. Bukannya menyinggung atau apa ya Kakak-Kakak yang Ganteng dan Manis, sekedar mengingatkan kalau ga suka alur novel bertele-tele seperti punya Felis, silahkan angkat kaki. Tidak masalah yang baca sedikit asalkan kesabarannya tinggi. Sankyuuu~
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Haz sudah menyusuri setiap sudut apartemen. Dia tidak kunjung menemukan tanda-tanda bahwa Cyan dan Zenneth pernah dibawa ke sana.
Aku bahkan sudah mengecek gudang—tempat yang paling mungkin dalam menyembunyikan orang. Hah! Ini melelahkan sekali ... jika saja Cyan Vilmasyah sedikit pengertian dan tidak membuat kekacauan seperti ini .... Tidak, tidak. Hazelia Lify, kamu pasti bisa menemukan mereka. Ayolah! Setidaknya beri aku sebuah tanda, batin Haz frustasi sembari menggigiti kuku-kuku jemarinya.
Saat Haz hampir menyerah karena tak kunjung mendapat ilham dimana sebenarnya Keluarga Hassan menyembunyikan kedua sahabatnya, dia mendapatkan bahwa di lantai satu apartemen ternyata ada sebuah pintu misterius.
Haz mendekati pintu misterius tersebut. Sejak kapan ada pintu di sini? Tidak apa, jika ini kamar orang, pasti akan terkunci, pikirnya.
Haz menyentuh gagang pintu yang ternyata sudah usang dan berdebu. Dia menarik kembali tangannya. Eh? Sekilas terlihat sekali kalau bagian ini dan bagian itu berbeda, batinnya.
Haz berjongkok, mengamati dengan teliti, kemudian membatin, Di sini sangat berdebu. Sedangkan sisi lain yang aku lihat tidak ada debu. Berarti seseorang sudah mengunjungi tempat ini.
Ponsel Haz bergetar di saku celananya. Melalui airpod yang terpasang di telinga, wanita berambut panjang gelombang menjawab panggilan.
"Halo," sapa Haz.
"Hai. Bagaimana keadaanmu?" Whisk menyapa balik, kemudian bertanya.
Satu jam lima belas menit yang lalu ....
"Kamu pasti sudah bisa menebak siapa aku. Meski sensor yang ada padamu masih lambat, tapi sudah termasuk baik bisa membedakan kepribadian Haz," kata Fabel.
"Mungkin begitu." Whisk berucap sambil mengaduk-aduk kopi.
"Baiklah. Kalau begitu aku akan membantu Haz bersiap-siap," kata Haz yang sudah kembali. Dia bangkit dari duduk, menyambar ponselnya yang berada di atas meja, dan akan keluar dari ruang kerja pria bersurai kemerahan.
Saat langkah Haz mencapai ambang pintu, Whisk berujar padanya, "Jangan selalu menyalahkan dirimu. Bagaimana pun tidak semuanya adalah salahmu."
"Aku tahu. Aku tahu, Whisky Woods," balas Haz. Dia segera menghilang di balik tembok.
Whisk begitu khawatir dengan keadaan Haz, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan kepala batu wanita berambut panjang gelombang. Yang bisa dia lakukan hanyalah memberikan dorongan dan menghibur Sang Wanita jika diperlukan.
Hazelia Lify, semoga kamu cepat menyadari kalau kamu tidak boleh selalu menempatkan posisimu di bawah orang lain ya! seru Whisk dalam hati.
Kembali lagi pada Haz yang menemukan satu ruangan aneh dan usang di apartemen ....
"Uhuk! Uhuk!"
Debu yang beterbangan ke sana-sini membuat Haz terbatuk-batuk. Dia mengeram. Grrr ... sudah berapa lama ruangan ini tidak dibersihkan?! tanyanya di dalam hati sambil melirik tajam ke arah langit-langit di sudut-sudut ruangan yang dipenuhi sarang laba-laba. Dia bisa menjamin kalau masih ada laba-laba yang tinggal di sana.
Haz mengarahkan senter ke sisi lain ruangan, dia bisa melihat kalau ada sebuah ruangan yang sudah tidak berpintu. Kira-kira, kemana ia akan membawaku? tanya Haz dalam hati penasaran. Dia pun masuk ke dalamnya karena di ruangan sebelumnya dia tidak menemukan apa pun.
Haz pelan-pelan menilik ruangan yang baru saja dia masuki. Dia mengarahkan senter secara perlahan untuk melihat apa saja yang bisa dia temukan.
Tempat ini seperti sebuah gudang yang sudah tak pernah dipakai. Kenapa pemilik apartemen tidak ingin menggunakannya? Ruangan ini amat luas, pikir Haz.
Saat Haz mengarahkan senternya lagi ke sisi lain, dia bisa menemukan dua orang yang sangat dia kenal. Pupilnya melebar karena senang. Namun entah kenapa dia juga harus merasa waspada. Seperti ... ada orang yang sedang memperhatikannya.
"Awas ... awas ... dia ada di belakangmu!"
Haz langsung menggeser tubuhnya ke samping karena peringatan dari Cyan.
"Prang!"
Sebuah benda keras akhirnya hanya berhasil memukul lantai.
Haz melihat ke arah orang yang memukulnya, tapi dia tidak menemukan siapa-siapa.
"Belakang," gumam Cyan pelan. Untungnya hal itu masih bisa didengar oleh Haz. Wanita berambut panjang gelombang berterima kasih sekali pada Cyan yang masih menjaga kesadarannya walaupun wajahnya mengatakan bahwa dia sedang tidak baik-baik saja.
Haz hanya bisa menghindari serangan yang dilancarkan oleh orang itu. Dan, ketika mengarahkan senter ke wajahnya, Sang Wanita bisa melihat kalau itu adalah Ryan Hassan. Jarinya buru-buru bergerak dan menekan tombol record video kamera.
Sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Haz dan dia mengaktifkannya melalui airpods di telinga.
"Haz, apakah kau terluka?" tanya Whisk di panggilan telepon. Itu adalah kode yang didapat setelah perdebatan panjang antara mereka berdua.
Haz harus menjawab kode tersebut dengan tiga macam warna yang telah disetujui oleh mereka berdua.
Kode pertama adalah kode yang menunjukkan bahwa Haz berada dalam keadaan berbahaya bagi dirinya sendiri dimana dia sudah menemukan orang yang dicari: Ebony.
Kode kedua adalah kode yang menunjukkan bahwa Haz berada dalam keadaan berbahaya bagi dirinya sendiri dimana dia belum menemukan orang yang dicari: Scarlet.
Kode ketiga adalah kode yang menunjukkan bahwa Haz tidak sedang berada dalam keadaan berbahaya bagi dirinya sendiri dimana dia belum menemukan orang yang dicari: Pistachio.
Whisk bertanya sekali lagi melalui panggilan telepon, "Haz, apakah kau terluka?"
"Ebony," jawab Haz.
Haz tidak bisa melepaskan tatapan mata dari Ryan. Apalagi setelah dia tahu kalau R dan Ryan memiliki satu kesamaan: Sama-sama adalah PSIKOPAT.
Terkadang aku penasaran ... apakah gen psikopat bisa diturunkan begitu saja karena ada salah satu atau kedua orang tua memiliki gen psikopat? tanya Haz dalam hati.
Haz bisa mendengar Ryan mengatakan satu hal dalam nada yang amat rendah, dari berbisik sampai hilang. Dia penasaran apa yang sedang dikatakan oleh Ryan. Apa yang sedang dia katakan?
Haz mencoba fokus mendengar suara Ryan. Matanya tetap menatap awas. Ryan itu bagai banteng. Dia akan menyerang tiba-tiba dan Haz tahu itu.
Ayolah, aku pasti bisa mendengar apa yang dia katakan!
"Ka-"
Haz masih belum bisa mendengarnya. Sepertinya dia harus mendekati Ryan.
"Haz, apakah kau terluka?" Whisk akan bertanya seperti itu selama lima menit sekali. Itu juga adalah hasil perdebatan mereka.
"Ebony." Haz juga masih dalam jawaban yang sama.