
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Haz menghela napas kasar. Sudah hampir satu jam mereka menunggu di sana, namun tak kunjung keluar dokter yang bertugas dari dalam sana. Dia mengigit bibir bawahnya, berusaha menenangkan diri.
Ting!
Ponsel Whisk yang berada di tas selempang kecilnya berdering nyaring. Haz segera mengeluarkannya dan menatap layar ponsel, membaca nama penelepon. Senor Carmillađź’•, begitu yang tertera di layar. Wanita itu langsung mengerti mengapa ada tanda cinta di belakangnya. Dulunya, dia pasti adalah seseorang yang disukai oleh Whisky Woods, batinnya.
Haz segera mengangkatnya. "Halo?" sapanya dengan nada yang cukup ramah.
"Oh, You're Whisk's girlfriend, aren't you?—Oh, bukankah kamu pacar Whisk?" tanya suara wanita di seberang sana. Bukannya menanyakan keadaan Whisk, dia lebih penasaran tentang seorang Hazelia Lify.
"I'm not, Senor. Pardon, I'm Hazelia Lif-"
"Hazelia Lify!?" potong Milla.
"Em, Senor, do we know each other?—Em, Senior, apakah kita mengenal satu sama lain?" tanya Haz bingung.
"You'll know soon!—Kamu akan segera tahu!" seru suara di seberang sana senang.
Haz bahkan bisa mendengar wanita itu berkata, "Honey! I'm calling with Hazelia now! Do you believe?—Sayang! Aku tengah bertelepon dengan Hazelia sekarang! Kamu percaya?"
Memangnya ada apa denganku? batin Haz bingung.
"Ehem!" deham Milla. "I'm Whitney Carmilla Walker. You can call me Milla. So, where are you now?—Aku Whitney Carmilla Walker. Kamu bisa memanggilku Milla. Jadi, dimanakah kamu sekarang?"
"Hospital on the Major Arterial Road—Rumah sakit di jalan protokol," jawab Haz.
"Okay. Me and my hubby will be there soon. We're on the airport now. See you, Miss Hazelia. I do know you're Resplendent Nephila. Whisk told me 'bout it. I can't imagine sitting there and have a nice conversation with you!—Baiklah. Aku dan suamiku akan segera sampai di sana. Kami tengah berada di bandara sekarang. Sampai jumpa, Nona Hazelia. Aku tahu kamu adalah Resplendent Nephila. Whisk yang memberitahukan kepadaku tentang hal itu. Aku tak bisa membayangkan duduk di sana bersamamu dan memulai percakapan yang seru!"
"See you too, Senor Milla—Sampai jumpa juga, Senior Milla," kata Haz parau.
Klik!
Telepon ditutup.
"Siapa?" tanya Jel.
"Salah seorang Senior Whisky Woods. Dia menanyakan keberadaan rumah sakit ini," jawab Haz.
Brak!
Akhirnya pintu ruang UGD terbuka setelah satu jam lebih menunggu. Muncullah seorang dokter pria yang masih memakai masker dan sarung tangan yang penuh bercak darah.
Jel langsung membalikkan badannya. Wanita itu benar-benar takut dengan yang namanya darah. Dia bahkan bisa mengingat pertama kali dia melakukan tes darah di laboratorium sekolah. Wajahnya pucat pasi, kepalanya langsung berputar-putar layaknya baru saja memainkan wahana permainan memusingkan.
"Dok, bagaimana keadaan pasien?" tanya Haz.
"Keadaan tidak begitu parah, hanya saja pasien kehilangan banyak darah. Darah dari pasien juga sukar ditemukan," jawab dokter.
"Saya bisa mendonorkan darah saya, Dok," kata Alkaf dan Haz bersamaan.
"Hazelia, kamu itu wanita! Biar aku saja," kata Alkaf.
Dokter itu berjalan melalui mereka bertiga.
Alkaf memegang pundak Haz. "Tidak akan ada apa-apa. Setelah donor selesai, tinggal menunggu Whisky Woods membuka mata. Jika dia tidak membuka matanya, aku yang akan menghajarnya," kata pria berkacamata terkekeh, lalu segera berlalu dari hadapan Haz dan Jel.
Haz terduduk di atas bangku deret lagi. Dia menghela napas kasar dan menangkup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
Jel ikutan duduk di sebelah Haz dan menepuk bahu wanita itu. "Jangan bilang kamu ingin menyalahkan dirimu sendiri lagi," ucapnya tepat sasaran.
"Bagaimana bisa aku tidak menyalahkan diriku sendiri, Liulaika Jelkesya?" tanya Haz. Suaranya serak seakan akan menangis lagi.
"Tidak perlu menyalahkan dirimu seperti ini, adikku sayang." Suara wanita yang tadi didengar Haz di telepon sekarang menggema di telinganya dalam Bahasa Inggris.
Haz mendongak menatap seorang wanita dengan pakaian santai, namun sopan, berjalan mendekat ke arahnya bersama seseorang yang ... dia tahu siapa.
James Stetson, batin Haz. Ternyata Whisky Woods mengenali pemimpin The Phantom. Dan dia ...
"Senor Milla?" tanya Haz bingung.
Ditatap wanita yang bernama Milla itu dari atas ke bawah. Cantik, pikirnya. Namun, Haz merasa aneh dengan kedua bola mata yang berwarna abu-abu memudar dan hampir putih itu. Saat itu juga, langsung bisa disimpulkan olehnya bahwa Milla adalah seorang tunanetra.
Ini aneh, dia bahkan tidak memerlukan tongkat sebagai seorang tunanetra, batin Haz. Kecuali jika .... Aku harus memastikan ini sendiri.
Tanpa aba-aba ataupun ucapan dari Haz, dia bangkit dari duduknya, lantas melakukan high kick yang dengan mudahnya ditangkis oleh Milla.
"Hazelia Lify! Apa yang kamu lakukan!?" tanya Jel setengah berteriak. Jika saja dia lupa dimana mereka berada, dia akan mengeluarkan suara emas terpendamnya.
Oh! Benar dugaanku, Haz menurunkan kakinya. "Tidak heran," katanya. "Murid pertama yang pernah diceritakan oleh kakek kepadaku ternyata itu kamu, Senor Milla."
"Maksud kamu Guru Wen?" tanya Milla yang disambut anggukan kepala oleh Haz. "Selain penulis terkenal, ternyata kamu juga adalah murid Guru. Ini hebat sekali!" serunya senang.
"Perkenalkan di-"
"James Stetson," potong Haz. "Suamimu. Biar kutebak, menikah karena satunya merasa kejadian tragedi itu lucu dan satunya takut ditikam oleh istrinya," kekeh wanita berambut panjang gelombang tepat.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya James Stetson. Wajahnya merah padam menahan rona dan malu. "Tapi, itu tidak sepenuhnya benar. Ak-"
"Ingin menyatakan kepadanya di saat yang tepat, namun tragedi itu mempercepat pernikahan kalian, bukankah begitu? Tidak ada waktu yang tepat untukmu jika tragedi itu tidak terjadi, Tuan," potong Haz menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahunya berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh mulutnya sendiri.
"Peramal?" tanya James tidak percaya dengan apa yang didengar telinganya. Sepertinya telingaku rusak, pikirnya.
"Sherlock Holmes," jawab Haz singkat.
"Wajahmu terlihat lebih cerah sekarang," bisik Jel di samping Haz.
"Oh ya, perkenalkan ini Liulaika Jelkesya. Dia membantu banyak memindahkan Whisky Woods ke rumah sakit ini." Haz memperkenalkan Jel kepada James dan Milla.
"Senang berkenalan denganmu, Nona Liulaika!" Milla mengulurkan tangannya dan dijabat oleh Jel atas perintah Haz.
James juga melakukan hal yang sama.
"Jadi, apa yang terjadi dengan Whisky Woods?" tanya Milla mulai serius.