
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Whisk memang tidak mengatakan bahwa dia cemburu dan menjadi tidak suka pada Nirvana Kenziro karena tatapan pria itu terhadap Haz, tapi Zenneth seakan tahu hal yang dimaksud oleh Whisk dan hal yang memperkuat ketidaksukaannya pada Nirvana.
"Bagaimana dengan rencana kalian?" tanya Zenneth. Dia lebih memilih untuk tidak membahas soal Nirvana, sebelum Haz dan Whisk sama-sama meledak.
"Buruk sekali. Banyak polisi yang berjaga di sana," jawab Whisk sambil menunjuk ke arah garis polisi.
Zenneth hanya bisa menganggukkan kepalanya, tanda dia mengerti apa yang dimaksud oleh Whisk.
Akan sangat sulit untuk masuk ke dalam jika banyak polisi yang berjaga. Mereka juga tidak mungkin menerobos masuk. Mereka bisa menjadi buronan. Juga ... tentang Nicholas Qet Farnaz, sebenarnya dia ada di pihak siapa ini masih sangat buram, batin Zenneth. Apa-apaan ... kenapa aku jadi mengikuti gaya Hazelia dan berlagak sok detektif seperti ini?
"Aku tahu pasti kamu sedang memikirkan posisi Nicholas Qet Farnaz," kata Haz. Dia menatap Zenneth yang menatapnya sebal dan terkekeh. Wanita berambut panjang gelombang menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini cenayang atau apa sih?" tanya Zenneth.
"Tidak ada. Aku hanya Hazelia Lify dengan nama samaran Resplendent Nephila. Aku bukan cenayang, juga bukan dukun. Aku hanya makhluk yang mendambakan kebebasan di dunia yang penuh dengan aturan ini," jawab Haz.
"Sangat terdengar seperti dirimu, Hazelia," kata Zenneth sambil memutar bola matanya dengan malas.
"Jangan marah," goda Haz. "Aku minta maaf karena sering sekali menebak pikiran orang-orang dengan benar."
"Aku rasa itu lebih dari sekedar menebak," kata Cyan. "Kamu mengerikan Hazelia."
"Hei! Aku tidak semengerikan yang kalian pikirkan!" sangkal Haz. "Aku bukan kanibal seperti Dokter Hanibal dalam serialnya. Bahkan dokter itu lebih mengerikan dariku. Memanipulasi orang untuk masuk ke dalam jebakannya, lalu membunuh mereka."
"Ya, kamu memang tidak memakan daging manusia, Haz. Tapi, tetap saja kemampuan membaca pikiran orang lain itu hal yang sangat ... aneh dan bahkan hampir sangat mustahil," kata Whisk, membela Cyan dan Zenneth.
"Maaf sekali, Tuan Woods. Tapi, kamu pernah belajar psikologi kan? Nah, coba kamu terapkan ilmu psikologi yang kamu pelajari bersama dengan metode Sherlock Holmes—lebih tepatnya metode Sir Arthur Conan Doyle. Kamu akan bisa membaca pikiran seseorang," ujar Haz.
"Aku sudah mencobanya, tapi tetap saja tidak bisa. Metode itu hanya bualan belaka," ucap Whisk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu karena kamu tidak ingin memahami konsepnya!" seru Haz, tidak terima dengan Whisk yang mengatakan bahwa konsep Sir Arthur Conan Doyle adalah bualan belaka.
"Mau memahami atau tidak, tetap saja membaca pikiran manusia itu adalah hal yang sangat tidak mungkin dilakukan. Aku terkadang berpikir kamu adalah seseorang yang datang entah dari mana dan ingin mempermainkan manusia-manusia di bumi."
Whisk memijit pelipisnya. Dia hampir gila ketika berbicara tentang kekuatan untuk membaca pikiran orang lain dengan Haz. Dia merasa wanita berambut panjang gelombang mengatakan hal yang tidak masuk di akal sehat manusia sama sekali.
"Baiklah, mari kita perlebar pikiranmu yang sempit itu dengan beberapa pernyataan yang sudah kupikirkan secara baik-baik dan sangat masuk akal," kata Haz. Dia menyeringai manis.
****** aku! Dia ingin berargumen hal aneh apa lagi? Whisk langsung disergap perasaan buruk ketika melihat seringai yang ditunjukkan Haz.
"Aku tidak akan berargumen hal yang aneh, Whisky Woods. Argumen ini benar-benar dapat diterima oleh akal sehat." Haz terlihat seperti sedang seenaknya membaca pikiran seseorang.
"Aku tidak ingin mendengarnya," dusta Whisk. Padahal pria itu ingin mendengar argumen yang sudah dipersiapkan oleh Haz, walaupun argumen itu mungkin akan membuatnya merasakan sakit kepala. Dia penasaran sekali.
"Aku mulai dari yang paling mudah dijawab: Menurutmu Whisky Woods, kenapa orang-orang ingin belajar trik sulap?" tanya Haz.
Whisk langsung terdiam.
Benar juga. Trik sulap adalah sesuatu semacam sihir. Padahal yang dipermainkan adalah sebuah trik, kata Whisk di dalam hati.
"Sekarang kamu sudah mengerti kan? Satu kosong, Whisk. Argumenku sangat mudah diterima oleh akal sehat manusia. Lagipula, konsep dasar membaca pikiran orang lain sudah diberitahu ketika kita belajar psikologi. Dengan melihat ekspresi wajah, mata, dan perilaku seseorang kita bisa membaca apa yang sedang dipikirkan orang itu. Hanya tinggal melakukan perkembangan saja." Haz menjelaskan. "Apakah kamu bisa melakukan trik sulap?"
"Tentu. Ada beberapa trik yang bisa kulakukan."
"Coba tunjukkan kepadaku," kata Haz.
Whisk tersenyum penuh arti. Dia berdeham dan berkata, "Maafkan ketidaksopanan ku, Nona. Tapi, ini adalah sedikit trik yang akan ku tunjukkan."
Dia pasti akan mengerjai diriku dengan hal yang aku sukai. Dia kan El Diablo ... orang yang sangat menyebalkan, seperti setan. Haz mengumpat di dalam hati.
"Kalian lihat tanganku tidak ada apa-apa kan?"
Whisk menunjukkan tangannya yang kosong kepada semua orang. Dia lalu menepuk tangan tiga kali. Saat dia memperlihatkan tangannya lagi, sudah ada empat bungkus coklat matcha mini di atas sana.
Apa kubilang ... dia ini sangat menyebalkan .... Haz menghela napas dengan kesal.
"Aku yakin kamu sudah menduganya, Hazelia Lify," kata Whisk sambil mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum manis kepada wanita itu.
"Tentu saja aku sudah menduganya. Kamu kan El Diablo. Setan yang sangat menyebalkan. Kamu benar-benar! Aku sangat kesal sekarang," ujar Haz.
"Aku baru tahu ada trik sulap semacam itu." Zenneth sepertinya tertarik pada trik sulap yang ditampilkan oleh Whisk, tidak seperti Haz yang tertarik pada apa yang ada di tangan Whisk.
"Ada yang lebih profesional dibandingkan aku. Penciptanya. Aku hanya mengikuti apa yang diajarkan oleh mereka. Aku tidak benar-benar profesional." Whisk memberikan dua bungkus coklat matcha kepada Haz, sebelum wanita itu mengamuk padanya.
"Terima kasih," kata Haz ceria. Mood-nya akan bagus ketika dia memakan sesuatu yang manis atau diberikan sesuatu yang dia inginkan.
"Sama-sama," balas Whisk.
"Tetap saja apa yang kamu lakukan ini juga sangat hebat. Tidak semua orang memiliki kelebihan seperti ini," kata Cyan.
"Semua orang bisa belajar meskipun mereka tidak memiliki bakat sama sekali. Tidak ada yang namanya bakat terpendam. Orang-orang bisa belajar untuk melakukan hal yang ingin mereka lakukan. Tapi, mereka terlalu malas untuk sekedar mencari tahu, apalagi belajar."
"Kamu benar."
Cyan menerima coklat matcha yang diberikan oleh Whisk.
"Aku tidak mengerti, Haz. Kamu menyukai coklat, tapi kenapa tidak dengan coklat biasa?" tanya Whisk.
"Dia itu aneh. Dia tidak menyukai coklat biasa dan juga memiliki larangan untuk memakan coklat dari psikolog. Dia akan menjadi super aktif di malam hari karena coklat." Zenneth yang menjawab pertanyaan Whisk.
"Oh ... autis coklat. Aku pernah membaca tentang artikel ini. Sedikit unik," kata Whisk.
"Aku tidak peduli kata psikolog itu. Asalkan bukan coklat biasa, aku akan memakannya, meskipun itu berlabel coklat," ujar Haz sambil menikmati coklat matcha.
Whisk hanya bisa tersenyum geli ketika mendengarkan ucapan Haz. Dia menganggap Haz seperti seorang anak kecil. Dan, wanita itu cengeng ....
Ponsel Haz berbunyi nyaring, tapi dia tidak ingin mengangkatnya.
Pasti Jel, pikir Haz.
Ponsel itu mengganggu ketenangan Cyan dan Zenneth.
"Angkat ponselmu, Hazelia!" bentak Zenneth tidak tahan dengan deringan nya.
Haz mau tidak mau harus mengangkat telepon. Sesuai dugaannya, di layar tertera dengan jelas: LIULAIKA JELKESYA (JELLY). Dia menghela napas panjang, tidak ingin mengangkat telepon itu.
"Sini berikan kepadaku!" Zenneth langsung menyambar ponsel dari tangan Haz, menyambungkan telepon, dan mengaktifkan speaker.
"Halo?" tanya suara serak seberang sana. Seperti yang baru dialami oleh Haz, Jel juga baru saja menangis.
"Halo, ini siapa?" tanya Zenneth dengan malas, pura-pura tidak mengenal Jel.
Jel yang ada di seberang sana terdiam sebentar, lalu dia berkata, "Seharusnya itu adalah ucapan ku. Abaikan saja ... dimana Haz?"
Satu hal lagi, Jel terdengar tidak senang ketika menemukan orang yang mengangkat telepon darinya bukanlah Haz sendiri.
Maafkan aku, Jel. Benar kata Zenneth, terlalu dalam dengan seseorang bisa membuat diri sendiri menjadi sangat terluka. Ini berlaku juga untuk aku dan kamu, serta Alkaf dengan aku sebagai orang ketiga, batin Haz sambil mengigit bibir bawahnya.
Whisk menepuk bahu Haz pelan. "Jangan menyakiti dirimu sendiri," bisiknya.
"Dia sedang tidak ada di hotel. Dia meninggalkan ponselnya di sini," jawab Zenneth, sama tidak senangnya dengan Jel.
Haz, Whisk, dan Cyan saling menatap satu sama lain. Yang ada di dalam pikiran mereka: Sebentar lagi akan ada perang akhir zaman di antara Zenneth dan Haz.
Pilihan yang sangat buruk membiarkan Zenneth yang mengangkat telepon. Bagaimana ini? tanya Haz di dalam hati, gelisah.
"Oh." Jel menjawab dengan ketus. "Katakan kepada Haz kalau aku mencarinya. Ada hal yang harus dibicarakan bersama dengannya."
"A-"
Belum sempat Zenneth mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya, telepon sudah ditutup oleh Jel.
"Hah! Dasar tidak sopan!" umpat Zenneth.
"Sudahlah." Haz merebut kembali ponselnya dari tangan Zenneth.
"Jadi, apakah kamu akan menelepon balik kepada Liulaika Jelkesya?" tanya Zenneth. Dia melipat kedua tangannya di depan dada, menunggu jawaban Haz.
"Aku akan memikirkannya. Jika perasaanku sedang bagus, maka aku akan menelepon balik dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan. Jika perasaanku sedang buruk, aku akan meneleponnya ketika perasaanku membaik," jawab Haz.
"Aku sarankan kamu tidak usah menelepon dia. Menyebalkan sekali orang sepertinya. Dia akan menyebabkan dirimu terjebak dalam masalah bersama pacarnya lagi," kata Zenneth.
"Aku tidak selamanya bisa menghindar. Ada kalanya memang harus menghadapi masalah daripada terus-menerus menghindarinya. Aku akan baik-baik saja jika perasaanku membaik."