Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
147 : Sifat Haz yang Kekanak-kanakan


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Kita akan pergi ke simpang jalan kemarin, Whisk. Entah kenapa aku ingin membeli bubur lagi." Haz menampakkan deretan gigi-giginya sambil terkekeh kecil dan itu tampak manis di mata Whisk.


"Baiklah. Aku akan menuruti keinginanmu, Haz," kata Whisk.


"Seharusnya mobil itu milik Iris. Dia kan tinggal di apartemen ini," bisik Haz.


Whisk melajukan mobilnya tanpa membalas bisikan Haz. Dia tentu saja tahu dan mengerti apa yang dikatakan oleh wanita berambut panjang gelombang. Dia tak perlu membalasnya.


"Cepat sedikit, Whisky Woods, aku lapar!" rengek Haz.


Whisk bertanya-tanya, bagaimana bisa mood Haz berubah dalam sekejap menjadi bagaimana pun yang dia inginkan? Apa karena adanya Fabel, Qerza, dan Ziesya? Rasanya bukan begitu.


Whisk tidak begitu yakin, tapi jika Haz memiliki mood-swing, akan sangat berbahaya. Dia bisa saja dianggap gila oleh pihak Rumah Sakit Jiwa.


"Duduklah dengan baik di tempatmu. Nanti juga segera sampai. Aku tidak mungkin melanggar protokol keamanan lalu lintas. Masa pagi-pagi saja sudah ngebut?"


Entahlah, tapi Whisk merasa kalau mood-swing Haz berguna di situasi tertentu. Dia harus bersyukur akan hal itu.


Haz bersikap seolah seperti anak kecil saat itu. Dia menggumamkan sederetan panjang kalimat untuk dirinya sendiri dan hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.


"Gugugu gaga ... gugaguga gagagugaga!"


Whisk tidak begitu mengerti dengan sikap Haz. Apakah nyaman bersikap seperti itu? Namun dia mengerti keadaan Haz.


Haz tidak mendapatkan kasih sayang sedari kecil. Itu memengaruhi pertumbuhan mentalnya. Tidak sepenuhnya gila saja sudah harus bersyukur.


Haz menghembuskan napas kesal. Dia memukul pahanya dengan tidak sabaran. Kalau dia ingin sesuatu, dia harus mendapatkan/diberikan dengan cepat. Kalau tidak, mood-swing akan mengubahnya menjadi karakter lain yang 'gila'.


Kemudian, Haz berhenti. Dia terdiam selama beberapa saat dan tatapannya kosong. Tak lama kemudian, dia menatap ke arah Whisk. Memang tidak menyeramkan, tapi cukup untuk membuat bulu kuduknya meremang.


"Apakah ada sesuatu yang salah di wajahku?" Whisk bertanya. Dia berusaha menyesuaikan sikapnya dengan Haz yang masih labil. Bukan labil karena pemikirannya, tapi karena mood-swing-nya.


Haz menggelengkan kepalanya dengan cepat selama beberapa saat, kemudian pandangannya teralihkan ke hal lain.


"Apakah ada hal yang mengganggumu, Haz?"


"Hakim. Entah kenapa aku merasa Hakim sangat aneh."


Haz menjawab dengan sederetan kalimat yang Whisk tak mengerti artinya.


Hakim? Apa hubungan Hakim dengan sesuatu yang mengganggunya? Apakah ini ada kaitannya dengan Keluarga Hassan? tanya Whisk dalam hati.


"Kita sudah hampir sampai." Whisk menyadarkan Haz.


Haz menatap ke arah Whisk yang memberhentikan mobil di pinggir jalanan yang digunakan sebagai tempat parkir.


"Oh, oke." Haz membalas singkat.


Setelah sarapan yang singkat, Haz dan Whisk memutuskan untuk langsung pergi ke Rumah Sakit dengan alibi untuk menjenguk Ric ....


"Mobil merah itu masih mengikuti kita," bisik Haz kepada Whisk ketika mereka berdua akan masuk ke dalam mobil.


"Biarkan saja. Nanti juga capek sendiri. Lagipula mereka tidak akan berani masuk ke dalam Rumah Sakit." Whisk menyuruh Haz untuk mengabaikan mobil merah yang sedari tadi mengikuti mereka.


Haz merasa sangat tidak nyaman. Bisa-bisa jika rasa tak nyaman itu menerobos batasannya, dia akan mendekati mobil merah itu dan melabrak orang yang mengemudikannya. Itu tidak bagus tentunya.


Whisk memasukkan Haz ke dalam mobil. Dia harus direpotkan dengan sikap wanita berambut panjang gelombang yang kadang-kadang kekanak-kanakan.


"Aku tidak suka ...!" Haz berseru.


"Aku pun demikian, Haz. Sudahlah ... lupakan saja dan mari kita pergi menjenguk Ric," kata Whisk, menenangkan Haz yang berwajah masam.


Mendengar nama 'Ric', Haz hanya bisa menghela napas panjang. Sepertinya, dia tidak begitu senang. Mengingat apa yang pernah terjadi antara dua orang itu.


"Haz? Kamu baik-baik saja?" tanya Whisk cemas.


Jika Haz tidak baik-baik saja, Whisk tidak akan membawanya pergi dengan alibi menjenguk Ric. Pria bersurai kemerahan akan membawanya pergi ke tempat lain. Taman hiburan, mungkin?


"Kalau mau, kita tidak akan menjenguk Ric, bagaimana?"


Menghadapi sikap kekanak-kanakan Haz tidaklah mudah. Maka dari itu, Jel dan Zenneth memiliki kesabaran yang luar biasa. Jika orangnya seperti Alkaf, jangan harap bisa mengerti seorang Haz.


"Kita akan tetap pergi," jawab Haz.


"Baiklah, lakukan saja seperti apa yang kamu inginkan."


Sesampainya di parkiran Rumah Sakit ....


Haz melirik ke ujung jalan, tempat dimana dia sering kunjungi karena ada Zenneth.


Sekarang, Zenneth entah dimana ... dimana dia? Dia baik-baik saja kan? tanya Haz dalam hati. Dia sangat khawatir dengan keadaan Zenneth.


Whisk menyenggol lengan Haz, membuat wanita berambut panjang gelombang memelototi dirinya.


"Apa?" ketus Haz.


Whisk menunjuk ke seberang mereka. Haz bisa melihat Nich melambaikan tangannya dan melihat jam tangannya.


"Oh? Nich?" sapa Haz canggung.


Whisk dan Nich masih saja dingin seperti biasanya.


"Haz." Nich menyapa balik dengan singkat. "Aku memiliki sesuatu untukmu."


Untung saja Whisk tahu kalau 'sesuatu' yang dimaksud oleh Nich bukanlah hal tak penting. Melainkan berkas-berkas tentang Kasus Riyan Hassan.


Haz menerimanya dan berterima kasih kepada Nich.


"Bagaimana kamu tahu bahwa kami akan pergi ke Rumah Sakit?" tanya Haz.


"Aku mencuri dengar dari pembicaraan kalian di telepon tadi. Hanya sedikit," jawab Nich.


"Maaf merepotkan." Haz memajang wajah bersalahnya.


"Tidak merepotkan sama sekali," kata Nich. "Baca-baca saja dulu. Barangkali kamu menemukan sesuatu di sana yang dapat membantu menangkap penjahat. Aku akan pergi bekerja. Sampai jumpa."


"Oh, baiklah. Sampai jumpa, Nich." Haz melambaikan tangannya sampai Nich terasa jauh dari pandangan.


Haz melirik Whisk yang ternyata sedang menatapnya.


"Ada apa?" tanya Haz.


"Nada," jawab Whisk. (Tidak ada.)


Haz hanya ber-oh ria. Dia berjalan meninggalkan Whisk yang masih setia menatapnya.


"Kamu tidak akan masuk?" tanya Haz ketika membalikkan badan dan mendapati kalau Whisk masih mematung.


Whisk berjalan dan mensejajarkan posisinya dengan Haz.


Haz tersenyum dan berbalik.


"Ayo!"


Hazelia Lify ... mood-swing-nya sangat parah. Bagaimana caranya dia menghadapi dirinya sendiri yang seperti itu? tanya Whisk dalam hati.


Whisk menepuk kepala Haz saat mereka akan menaiki tangga ke lantai atas.


Haz kaget, lalu menatap ke arah Whisk.


"Jika kamu merasa tidak baik-baik saja, katakanlah kepadaku. Jika kamu tidak ingin mengatakannya. Lampiaskan saja dengan pukulan untukku," bisik Whisk.


"Kamu bercanda." Haz terkekeh. "Aku baik-baik saja, Whisky Woods. Kamu tidak perlu khawatir kalau aku tidak akan baik-baik saja."