
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Memangnya kamu yakin bisa menahanku untuk pergi ke sewer sebelum ada aba-aba dari Zenneth?" tanya Haz.
"Aku tidak yakin, tapi aku harus yakin. Lagipula, kamu kan memang keras kepala. Jika saja aku tidak bisa menahanmu, maka aku harus bisa melindungimu," jawab Whisk sambil menyetir mobil.
Whisk terlihat keren dalam balutan kaos putih polos dan celana panjang hitam sport. Dia juga merapikan rambut kemerahannya ke belakang.
Tanpa sadar, Haz terus melirik ke arah Whisk. Dia seperti tersihir untuk melakukan hal itu. Sialnya, dia terpergok oleh sang empu.
"Kenapa terus melihatku? Aku tahu aku tampan, tapi jika kamu melihatku seperti ini terus ... aku kan jadi malu," goda Whisk.
"Diam kamu!" desis Haz. Wajahnya merona memerah. Dia yang malu karena tanpa sadar tidak bisa melepaskan tatapannya dari Whisk.
"Aku hanya bercanda. Kamu boleh menatapku sesukamu," kata Whisk. Dia tersenyum pada Haz dan kembali fokus menyetir.
Whisk memarkirkan mobil di depan sebuah kafe tenang yang berjauhan dari jalan besar.
"Dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya Haz.
"Aku bertanya kepada Jelkesya," jawab Whisk. "Katanya jika kamu sedang tidak mood, tempat ini adalah tempat terbaik yang bisa mengembalikan mood-mu. Jadi, aku memutuskan untuk makan malam di tempat ini saja. Aku dan kamu sama-sama suka ketenangan."
"Ya, aku memang sering ke tempat ini jika mood-ku tidak bagus. Tempat ini sangat tenang. Aku suka," kata Haz.
"Baguslah jika kamu menyukainya." Whisk menepuk-nepuk pelan kepala Haz dan keluar dari mobil.
Haz menyentuh kepalanya yang ditepuk pelan oleh Whisk. Dia juga ikut keluar dari mobil.
Mereka berdua berjalan beriringan masuk ke dalam kafe.
Suasana di dalam sangat tenang dan cocok dengan kepribadian mereka berdua. Tidak banyak orang di sana. Lagu mengalun santai dari speaker yang terpasang di dinding.
Haz dan Whisk memutuskan untuk duduk di meja dekat jendela kaca yang langsung menghadap ke arah taman mini kafe, menikmati pemandangan suasana malam di luar yang terbalut dalam remang-remang.
Seseorang yang sangat Haz kenali datang mendekati dirinya dan Whisk. Dia adalah pelayan kafe itu, Ratih.
"Eh, ada Nona Hazel." Ratih tersenyum centil kepada Haz. Dia sudah biasa melakukannya.
"Eh, ada Ratih. Piye kabarmu?" tanya Haz dalam bahasa Jawa.
"Baik-baik saja, Nona," jawab Ratih. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Whisk. "Iki sopo? Bojo ne po?—Ini siapa? Pacarnya kah?—Biasa ne teka—datang—bareng Nona Jel."
Wajah Haz kembali memerah ketika Ratih bertanya apakah Whisk adalah pacarnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Cie ... sing teka karo bojo ne—Cie ... yang datang bareng pacarnya. Ojo lali pajak jadian e—Jangan lupa pajak jadiannya—Nona Hazel." Ratih menggoda Haz. "Awas aja kalau Ratih ga kebagian. Ratih ngambek."
"Iya, Ratih. Iya." Wajah Haz sangat merah, seperti tomat matang. Apa karena mood-nya sedang bagus jadinya dia menerima semua perkataan Ratih? Dia tidak tahu. Dia bahkan tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri.
"Ya udah. Nona sama pacar bulenya ini mau pesan apa?" tanya Ratih, berhenti menggoda Haz dan mulai serius.
"Kasih daftar menu ke dia tuh," kata Haz. "Dia kan baru pertama kali datang ke sini. Belum tahu makanan di sini enak-enak semua."
"Oh iya, Ratih lupa," kekeh Ratih. Dia menyodorkan daftar menu kepada Whisk yang baru pertama kali datang ke tempat itu. "Ini. Silahkan dilihat-lihat dulu."
"Terima kasih," kata Whisk, menerima daftar menu yang disodorkan oleh Ratih. Dia melihat-lihat daftar menu itu.
"Nah, Nona Hazel mau apa?" tanya Ratih.
"Pengen makan semua," jawab Haz manja. Dia bingung ingin memesan apa. "Makanan di sini enak-enak sih."
"Loh heh. Mana boleh begitu," kata Ratih. "Ayo, jangan bingung-bingung. Nona mau pesan apa? Atau mau Ratih yang tentukan?"
"Hari ini apa yang banyak dipesan?" tanya Haz.
"Yang banyak dipesan ya?" Ratih terlihat berpikir. "Yang banyak dipesan itu nasi goreng kampung sama mi goreng. Karena bukan musim hujan, jadinya mi kuah ga begitu laku."
"Ya udah. Aku pesan nasi goreng kampung satu, telurnya diceplok, tambah mandi satu," pesan Haz.
"Mandi?" tanya Whisk tidak mengerti.
Ratih tertawa keras hingga menarik perhatian pengunjung lain. Dia langsung meminta maaf kepada para pengunjung dan menjawab pertanyaan konyol Whisk, "Mandi itu teh manis dingin. Disingkat doang jadi mandi. Nona Hazel ajarin gih pacar bulenya singkatan-singkatan bahasa Indonesia, biar ga bingung."
Astaga. Ternyata mandi itu es teh manis. Aku kira apa .... Whisk menutupi wajahnya memakai daftar menu.
"Maklumlah beb Ratih. Dia baru pertama kali ke Indonesia. Bisa bahasa Indonesia, tapi ga tahu singkatan," kata Haz.
"Oke. Ditunggu ya," kata Ratih. Dia langsung pergi dari meja Haz dan Whisk ketika sudah mendapatkan pesanan yang mereka inginkan.
Haz dan Whisk kembali menikmati suasana tenang dalam diam. Tidak berbicara sepatah kata pun sampai akhirnya Ratih datang membawa pesanan mereka berdua.
"Silahkan dinikmati." Ratih meletakkan pesanan Haz dan Whisk di atas meja.
"Terima kasih, Ratih." Haz tersenyum kepada Ratih.
"Sama-sama." Ratih membalas dan pergi dari sana, memberikan ruang kepada Haz dan Whisk untuk berbicara.
"Ternyata makanan di sini enak dan murah," kata Whisk ketika memasukkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
Sebagai bule yang pertama kali datang ke Indonesia, Whisk harus mengakui bahwa tempat asalnya lebih enak dibandingkan dengan restoran bintang lima yang ada di luar negeri. Setiap negara memiliki ciri khas mereka tersendiri.
"Tentu saja. Menurutmu apakah aku akan sering datang ke tempat ini jika masakannya tidak enak meskipun suasananya mendukung?" tanya Haz.
"Kamu kan maniak makan," ledek Whisk.
"Memang aku maniak makan," kata Haz. Dia tidak memungkiri ledekan Whisk—bahwa dia suka sekali makan dan ngemil.
"Aku tetap menyukaimu," kata Whisk frontal.
"Pria bermulut manis," ujar Haz ketika mendengar gombalan Whisk. Dia memutar bola mata dengan malas.
"Aku tidak berbohong. Aku tetap menyukaimu. Aku mencintaimu, Lady ...." Whisk hampir seperti berbisik ketika mengatakannya. Suaranya mendadak serak dan begitu dalam.
"Simpan gombalanmu untuk jodohmu kelak." Haz menolak mentah-mentah gombalan yang dilontarkan oleh Whisk. Dia merasa tidak pantas.
"Kamu adalah jodohku." Whisk menggenggam tangan Haz yang berada di atas meja.
Tepat saat itu juga, sebuah lagu terputar dari speaker.
You know I want you—Kamu tahu aku menginginkan dirimu
It's not a secret I try to hide—Ini bukanlah hal yang coba ku sembunyikan
I know you want me—Aku tahu kau menginginkan diriku
So don't keep sayin' our hands are tied—Jadi jangan terus bilang tangan kita terikat
You claim it's not in the cards—Kau mengklaim itu tidak ada di kartu
And fate is pullin' you miles away—Dan takdir menarikmu bermil-mil jauhnya
And out of reach from me—Dan berada di luar jangkauan ku
But you're here in my heart—Tapi kamu di sini di hatiku
So who can stop me if I decide—Jadi siapa yang bisa menghentikan ku jika aku memutuskan
That you're my destiny?—Bahwa kamulah takdirku?
What if we rewrite the stars?—Bagaimana jika kita menulis ulang takdir?
Say you were made to be mine—Mengatakan bahwa kamu tercipta hanya untuk diriku
Nothing could keep us apart—Tidak ada yang bisa memisahkan kita
You'd be the one I was meant to find—Kamu adalah orang yang aku cari-cari
It's up to you, and it's up to me—Itu pilihanmu, dan itu pilihanku
No one can say what we get to be—Tidak ada yang bisa mengatakan kita akan jadi apa
So why don't we rewrite the stars?—Jadi kenapa kita tidak menulis ulang takdir?
Maybe the world could be ours—Mungkin dunia akan menjadi milik kita
Tonight—Malam ini
(Rewrite The Stars - Zac Efron dan Zendaya)