Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
55 : Ide yang Buruk


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Tetap saja Haz tidak bisa menghentikan imajinasi liarnya tentang apa yang sudah dilewatkan olehnya. Dia begitu penasaran dengan apa yang ingin dikatakan oleh Thomas Bara kepadanya. Sebenarnya dia sudah membuat kesimpulan lain selain dia melewatkan sesuatu seperti yang ingin disampaikan oleh Thomas Bara: Bahwa sebenarnya Thomas Bara sengaja melepaskan dirinya seperti itu dan membuatnya bingung padahal dia sudah melangkah di jalan yang benar—Thomas Bara ingin membuatnya bingung sehingga dia tidak dapat memecahkan kasus ini sama sekali.


Apa aku yang berpikiran terlalu banyak? Jika disederhanakan lagi kasus ini, apakah memungkinkan? pikir Haz.


"Hazelia, berhenti memikirkan tentang kasus ini dan jernih kan pikiranmu sejenak," kata Whisk memperingatkan Haz.


Whisk sedikit khawatir dengan keadaan Haz yang suka overthinking atas sesuatu yang berjalan tidak sesuai dengan keinginannya. Meskipun terkadang dia sendiri juga suka melakukan hal yang sama, tetapi tidaklah separah yang dilakukan oleh Haz.


Haz menatap ke arah Whisk. Dia menghela napas panjang, tidak menemukan jalan keluarnya. Dia tidak bisa membedakan kejujuran atau kebohongan yang dipancarkan tatapan Thomas Bara saat di tempat pembuangan tadinya.


Seandainya saja aku bisa memantapkan pilihanku, apakah aku harus mempercayai tatapan yang diberikan oleh Thomas Bara? Atau aku harus mempercayai jalan yang telah ditempuh sejauh ini dan benar-benar berdasarkan analisis yang kudapatkan?


Whisk menggenggam tangan Haz dan tersenyum lembut kepada wanita itu.


Tatapan mata Whisk sungguh tenang dan penuh cinta, membuat pikiran Haz yang berlarian ke sana-sini langsung berhenti dan kembali tepat di tengah-tengah kepalanya. Dia pun membalas tersenyum kepada pria itu.


"Aku percaya kepadamu, Hazelia Lify. Apa pun jalan yang kamu ambil—mau percaya dengan apa yang ingin Thomas Bara katakan kepadamu ataupun mau percaya dengan dirimu sendiri, jalan yang telah kamu buat dan kamu tempuh sejauh ini, aku akan selalu percaya dan mendukungmu," ujar Whisk.


"Terima kasih," kata Haz malu-malu.


"Ya, sama-sama," balas Whisk.


"Aku penasaran," kata Haz. Dia melihat ke luar sana, mobil yang mengikuti Whisk masih menunggu di luar. Meskipun tidak berada tepat di depan kafe, tapi hal itu membuat baik Whisk maupun Haz resah.


"Tentang apa? Orang yang berada di dalam mobil itu? Atau alasan orang itu mengikutiku?" tanya Whisk.


"Keduanya. Apa yang akan dia dapatkan dari mengikutimu? Bukankah lebih baik jika dia mengikutiku?" Haz balik bertanya. "Kecuali ...."


"Kecuali kalau apa? Jangan berbicara menggantung begitu, Hazelia. Aku tidak suka menjadi orang penasaran," keluh Whisk.


"Aku jadi semakin tidak ingin memberitahumu."


Haz menyeringai ketika Whisk menyipitkan matanya dan memasang ekspresi cemberut untuk mengancam Haz bahwa dia tidak akan menghiraukan wanita itu jika dia tidak memberitahu lanjutan dari perkataannya.


"Baiklah. Baiklah. Jangan mengancamku seperti itu. Aku hanya bercanda. Yang ingin kukatakan adalah kecuali kalau ada pihak lain yang ikut terlibat dalam kasus ini. Lagi."


Haz mengambil French Toast milik Whisk tanpa seizin pemiliknya. Whisk kelihatan tidak peduli dengan hal itu dan memikirkan perkataan Haz.


"Maksudmu ada pihak lain yang juga terlibat sehingga menimbulkan kesalahpahaman antara kita semua? Jika benar begitu maka Thomas Bara sedang memberitahukan kepadamu hal itu," kata Whisk.


"Tapi bisa jadi bukan itu. Jika ada pihak ketiga, pergerakan mereka akan segera tercium. Aku harus mencari tahu sesuatu. Bagaimana jika kita mengalihkan perhatian orang yang sedang mengejarmu saja?" tanya Haz.


"Bagaimana cara mengelabuinya? Apakah kamu memiliki cara yang bagus?" Whisk bertanya dan menatap Haz. Dia tidak tahu rencana apa yang sedang dipikirkan oleh Haz, tapi dia tahu bahwa itu adalah hal yang tidak akan disetujuinya. Haz kan sudah terkenal akan melakukan hal-hal gila. Bahkan sahabatnya, Liulaika Jelkesya, juga membenarkan hal itu.


"Aku tidak setuju." Whisk langsung menolak saran gila Haz. Dia jelas tidak ingin membuat Haz terluka, meskipun dia tahu Haz bisa menghindar. Tidak selamanya keberuntungan berpihak di sisi wanita itu.


"Kenapa?" Haz bertanya dengan nada kecewa. Wajahnya cemberut, berharap bahwa Whisk menerima usulannya. Dengan begitu dia akan mudah mencari tahu mengapa orang itu, Polisi Nicholas Qet Farnaz, mengejar Whisk.


"Tidak selamanya keberuntungan berpihak di sisimu. Bagaimana jika harimu ternyata buruk dan ada kesialan yang menimpamu? Aku sudah berjanji kepada Jelly untuk menjagamu. Tidak mungkin aku mengingkari janji itu. Nyawaku bisa melayang." Whisk tetap tidak menyetujui usulan dari Haz. Dia malah menggunakan Jel sebagai alasan.


"Aku akan tetap melakukannya."


Haz sangat keras kepala. Dia tidak menginginkan penolakan apa pun. Dia tetap percaya bahwa dia bisa melakukannya. Dia ingin dan percaya bahwa dirinya pasti bisa.


"Astaga, tidak bisakah kamu mendengarkan saran orang lain?" tanya Whisk.


"Menurutku kamu yang tidak bisa mendengarkan saran orang lain, Tuan Woods. Aku bisa melakukannya. Kamu juga tahu. Aku tidak merasa hariku sedang sial atau sejenisnya. Aku tetap akan melakukannya. Sampai jumpa," kata Haz, meninggalkan Whisk seorang diri di meja kafe.


Haz pergi ke kamar mandi kafe untuk mencopot wig yang dipakainya dan menghapus make-up di wajahnya. Dia menatap pantulan dirinya dari cermin. Ada sedikit ketakutan yang merasuk ke dalam dirinya.


Aku yakin aku bisa melakukannya. Ini hanya perasaanku saja, hasilnya kan belum tentu sama dengan apa yang aku rasakan sekarang, pikir Haz.


Haz menyambar tas olahraga mini-nya dan keluar dari kamar mandi kafe.


Haz membayar makanan yang dipesannya sekaligus yang dipesan oleh Whisk dan segera keluar dari kafe.


Haz melepas rantai sepeda dan menaikinya.


Ayo kita lakukan tugas ini. Semoga saja berjalan lancar dan sesuai keinginan. Harus yakin, batin Haz menyemangati diri sendiri.


Haz mengayuh pedal sepeda dengan santai melewati mobil yang mengejar Whisk.


Semuanya berjalan sesuai keinginan Haz. Melalui kaca kecil yang sengaja digenggamnya, wanita itu bisa melihat mobil yang mengejar Whisk mengikutinya.


Sisanya ku serahkan kepadamu, Whisky Woods. Semoga saja kamu bisa mengatasi masalahmu sendiri setelah ini. Sekarang yang harus kupikirkan adalah kemana aku akan membawa mobil ini?


Haz berpikir sambil terus mengayuh sepedanya dengan santai. Dia berhenti tepat di sebuah perempatan.


Tidak banyak mobil yang berlalu-lalang. Namun karena lampu lalu lintas masih berwarna merah, maka mau tak mau dia harus menaati peraturan termasuk rambu-rambu lalu lintas.


Lama sekali ....


Haz menghela napas panjang.


Berapa lama lagi aku harus menunggu?