Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
56 : Nyaris


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Aku merasa tidak tenang," gumam Whisk pada dirinya sendiri.


Whisk sedang menyetir mobilnya untuk pergi ke sewer seperti yang dikatakan oleh Tyas kepadanya dan Haz. Namun sepanjang perjalanannya ke sewer yang lokasinya sudah diberitahu oleh Haz, dia terus memikirkan Haz. Dia merasakan hal tidak baik akan terjadi kepada wanita itu.


Mungkin ini hanyalah perasaanku saja. Tapi, tetap saja membiarkannya pergi seperti itu adalah hal terbodoh yang tidak akan pernah ku ulangi lagi. Mengapa aku merasa tidak tenang? Apa yang akan terjadi kepada Haz? batin Whisk.


"Hazelia Lify ... Hazelia Lify ... mengapa kamu begitu sulit dibilang dan malah membahayakan nyawamu sendiri? Aku yakin sekali ada orang yang berusaha mencelakainya. Nicholas Qet Farnaz sepertinya tidak sendirian di tempat itu. Dia pasti membawa seseorang bersamanya untuk melukai Hazelia Lify. Aku harus segera mencari wanita itu sebelum benar-benar terjadi apa-apa padanya. Masalah pergi ke sewer bisa diatur kembali lagi nanti."


Whisk segera memutar-balik mobil yang dikemudikannya ke arah berlawanan. Dia sudah membulatkan tekad untuk mencari Haz yang sedang bosan menunggu lampu lalu lintas berganti warna.


Di tempat Hazelia Lify ....


Oh astaga berapa lama lagi aku harus menunggu? Meskipun ini peraturan lalu lintas, tapi ini sudah sangat keterlaluan! Bagaimana bisa mereka menyuruh seseorang untuk menunggu begitu lama? keluh Haz dalam hati.


Haz bosan menunggu. Dia pun akhirnya mengeluarkan headset bluetooth yang tersimpan di dalam saku celana olahraga pendeknya, yang ternyata sudah terputar lagu. Sambil menunggu, dia pun bersenandung ria.


"I think I've seen this film before and I didn't like the ending—Aku pikir aku sudah pernah melihat film ini dan aku tidak suka ending-nya."


(Taylor Swift - Exile ft Bon Iver)


Akhirnya lampu lalu lintas berganti warna, dari merah ke hijau. Haz pun segera mengayuh sepedanya kembali dengan santai sambil melihat cermin mini yang dipegangnya. Tidak ada lagi mobil yang mengikutinya.


Kemana perginya mobil itu? tanya Haz dalam hati. Dia merasa sedikit kesal karena merasa bahwa rencananya telah gagal.


Betapa kagetnya Haz saat melihat mobil yang mengejarnya tadi sudah berada di depan sana dan sedang melaju cepat menuju dirinya.


Orang sial. Beraninya dia ingin melakukan hal curang kepadaku! Awas kau, Marjoram! seru Haz dalam hati. Dia merasa tertantang.


Melihat situasi dan kondisi jalan di tempat itu, Haz cukup yakin dengan dirinya sendiri—dia bisa melakukan parkour dari sepedanya menuju tepi jalanan sebelum mobil yang mengejarnya benar-benar menabraknya.


Saat sepeda Haz sudah beberapa sentimeter jaraknya dari mobil tersebut, wanita itu segera melompat dari atas sepedanya ke trotoar.


Semua orang, baik pejalan kaki maupun yang sedang mengemudi mobil, menganga melihat hal itu.


Beruntung sekali aku memakai pelindung siku dan lutut. Kalau tidak mereka pasti sudah terluka karena kenekatan ku melakukan hal gila seperti ini, pikir Haz.


Haz berdiri tegak dan membersihkan debu jalanan yang menempel di baju olahraganya. Dia menatap sepeda kesayangannya yang terpental cukup jauh karena ditabrak oleh mobil yang mengejarnya.


Aku harap Zenneth bisa mengkreditkan sepeda sebagus itu lagi. Sial sekali ia harus menjadi korban dari polisi brengsekk itu, batin Haz sembari menatap sedih ke arah sepedanya yang hancur.


Haz berjalan santai seperti tidak terjadi apa-apa. Dia meninggalkan sepedanya yang hancur di sana.


Beberapa saat kemudian, Whisk menemukannya sedang berjalan. Dia memelankan kecepatan mobilnya dan menyeimbangkan dengan langkah Haz.


"Halo, Nona Manis. Apakah kamu butuh tumpangan?" Whisk bertanya layaknya pria genit yang terpana melihat wanita cantik, meskipun kasusnya sangat berbeda dengan pria itu. Dia memang menyukai Haz apa adanya.


Haz mulai berlagak manja dan sok manis.


"Iya, honey?" tanya Whisk membalas perkataan manja Haz.


"Sepeda kesayanganku rusak," jawab Haz, matanya berkaca-kaca ketika mengatakannya.


"Kubilang apa ... jangan keras kepala, sayangku. Jadikan sepedanya rusak kan. Beruntung hanya sebuah sepeda, bukan manusianya," ledek Whisk.


Haz menatap galak ke arah Whisk. "Coba ulangi," katanya sambil berkacak pinggang.


"Kereta api sudah lewat," ujar Whisk. Dia kebetulan sekali ingat kalau Alkaf suka mengatakan hal itu ketika dia meminta diulangi perkataannya. "Ayo naik!"


Haz mau tidak mau pun naik ke atas mobil yang dikemudikan oleh Whisk. Dia melempar tas olahraga mini-nya ke dashboard mobil dengan jengkel, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.


"Sepeda kesayanganku menjadi korbannya!" keluh Haz. Dia mulai meradang ketika ada hal yang berjalan tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya.


"Masih beruntung sepedamu yang menjadi korbannya. Bagaimana jika orangnya?" Whisk bertanya dengan nada dingin kepada Haz. Dia tidak ingin Haz terluka karena melakukan hal bodoh. Namun wanita itu terlalu sulit untuk diberitahu, egonya besar dan dia hanya ingin melakukan hal yang ingin dilakukannya.


"Aku tahu kamu berniat membantu, Hazelia Lify. Tidak seperti ini caranya. Jika kamu memang benar-benar ingin membantu, jangan pernah libatkan dirimu sendiri di dalam bahaya. Itu hanya akan menambah beban orang yang ingin kamu bantu, bukan menyelesaikan masalahnya. Kamu dengar aku tidak?" Whisk berujar panjang lebar dan bertanya kepada Haz barangkali dia tidak mengerti keegoisan yang harus diperbaiki oleh dirinya sendiri.


"Iya, aku sudah mengerti," jawab Haz dengan nada menyesal. Dia menundukkan kepalanya dan memainkan jari-jari tangannya.


"Maafkan aku jika perkataanku menyakiti hatimu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka. Aku akan mentraktir makan malam, bagaimana?" tanya Whisk.


Mata Haz berbinar-binar ketika mendengar Whisk berkata seperti itu. Dia senang karena Whisk bisa mengerti dirinya dan apa saja kesukaannya.


Whisk tersenyum ketika melihat mata Haz memancarkan kesenangan. Baginya, kebahagiaan Haz adalah bagian dari kebahagiaannya.


"Nanti malam kita akan pergi ke sewer juga. Kamu kuat begadang, kan?"


Whisk memarkirkan mobil yang dikemudikannya tepat di depan rumah Zenneth.


"Bagaimana kamu bisa tahu aku ingin pergi ke rumah si kunyuk yang satu ini?" Haz tidak menjawab pertanyaan Whisk, melainkan bertanya balik kepada pria itu karena kaget dia membawanya ke rumah Zenneth.


"Aku hanya mengandalkan instingku. Kamu juga sering pergi ke tempat ini. Aku tidak sengaja melihatnya saat masih di rawat-inap di sana." Whisk berkata sambil menunjuk ke arah rumah sakit.


"Tidak heran. Ingatanmu kuat juga." Haz tersenyum singkat dan segera turun dari mobil.


"Zenneth!" Dengan nada suara seperti seorang opera, Haz memanggil Zenneth yang masih bersantai—duduk dan melihat drama Korea di komputernya.


"Kamu menjijikan. Langsung saja ke intinya," balas Zenneth. Dia mengklik pause dan menatap Haz serta Whisk bergantian.


"Siapa dia? Pacarmu?"