
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Data semua orang pasti dicatat oleh negara dan dikirim ke PBB. Aku punya orang dalam di organisasi itu. Aku tinggal meminta berkas saja dengan mengirimkan laporan DNA atau semacamnya," jawab Waikit.
Waikit tahu Haz pasti akan mencurigainya. Sebagai seorang Dokter Tentara, dia tentu memiliki banyak kenalan. Tak terkecuali, orang dalam sebuah organisasi.
"Iris tidak mungkin sebodoh itu," gumam Haz.
"Sebenarnya, hampir mustahil melakukan analisis dengan botol kaca yang kau berikan." Waikit berkata dengan jujur. "Tapi, ada satu hal yang tidak diperhatikan oleh orang itu. Dia pernah menyentuh bibir botol menggunakan tangannya. Awalnya aku tidak menyadarinya, sampai ... kau tahu seorang Ahli Laboratorium tak ingin gagal dalam menjalankan tugasnya."
Setelah membaca berkas itu, Whisk segera menelepon seseorang. Dia berbicara dalam Bahasa Prancis. Itu adalah seorang pria yang meneleponnya ketika membaca skandal tentang dirinya dan Haz.
"J'ai besoin d'informations personnelles des Nations Unies," kata Whisk tanpa sapaan dan banyak basa-basi. (Aku membutuhkan informasi pribadi yang harus diakses dari PBB.)
"Quelles autres choses folles vas-tu faire?" tanya pria di seberang sana dengan nada kesal. (Hal gila apa lagi yang akan kau perbuat?)
"Sauve mon propre nom," jawab Whisk dengan nada santai. (Menyelamatkan nama baikku.)
"De quoi avez-vous besoin maintenant?" Pria di seberang telepon terdengar tidak sabaran. (Hal apa yang kau butuhkan sekarang?)
"Je veux un profil complet d'une personne nommée Iris Hassan," balas Whisk. (Aku ingin kau mengirimkan profil lengkap dari seseorang bernama Iris Hassan.)
"Aussi complet que possible?" (Selengkap-lengkapnya?)
"Ne posez pas trop de questions, Fleur!" seru Whisk. Dia langsung mematikan telepon. (Jangan banyak bertanya, Fleur!)
Nama pria yang ada di telepon adalah Fleur. Dia merupakan rekan kerja Whisk. Jika pria bersurai kemerahan membutuhkan suatu informasi, Fleur akan siap membantu.
Haz mengerti apa yang diinginkan oleh Whisk. Dia menatap ke arah Waikit, kemudian bertanya, "Kamu adalah seorang Dokter Tentara, Waikit. Kamu pasti pernah belajar setidaknya sedikit tentang psikologi manusia. Pria ini aneh."
Haz menunjuk ke arah foto dari profil seorang pria yang menjadi kaki-tangan Iris.
"Apa yang aneh darinya?" tanya Waikit.
"Riyan Hassan? Apakah Iris Hassan dan Riyan Hassan adalah saudara?" Haz berbalik tanya kepada Waikit.
Jika Waikit mendapatkan profil Iris dan Riyan dari PBB, seharusnya profil mereka lengkap.
"Aku hanya meminta beberapa profil. Tidak sampai bagian privat mereka. Jika ada yang ingin kamu ketahui, kamu bisa meminta bantuan darinya." Waikit menunjuk ke arah Whisk.
Whisk menatap Haz dan Waikit secara bergantian. Wajah polosnya mengekspresikan kalau dia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan oleh mereka berdua.
"Iris Hassan. Riyan Hassan." Haz menunjuk nama kedua orang. "Aku yakin masih ada satu atau dua orang lagi."
"Aku akan mencari data dari Keluarga Hassan kalau begitu."
Whisk menelepon Fleur lagi.
"Quoi d'autre?!" tanya Fleur saat dirinya mengangkat telepon dari Whisk. (Apa lagi?!)
"Relaxer ... Je me demandais si vous pouviez découvrir les Hassan," jawab Whisk. (Santai saja ... aku hanya ingin tahu apakah kau bisa mencari informasi tentang keluarga Hassan.)
"J'essaierai," jawab Fleur. (Akan ku usahakan.)
Telepon ditutup.
"Menurutmu, kenapa dia membuang benda ini untuk kalian?" tanya Waikit sambil menunjuk ke arah jaket hoodie yang dipakai oleh Riyan.
"Bukan. Ini bukan pertama kali untuknya," gumam Whisk.
"Maksudmu?" tanya Haz. Dia tidak begitu mengerti dengan kata ' bukan pertama kali'.
"Dia pernah melakukan kejahatan seperti ini sebelumnya?" tanya Jel yang muncul dari kegelapan. Dia baru saja selesai dengan acara jalan-jalannya. Dia merasa gedung tua itu seperti Wisata Rumah Hantu yang cukup mencekam.
Jel menggunakan Bahasa Indonesia, Whisk menerjemahkannya ke Bahasa Inggris. Dia cukup mengerti bahwa lidah Jel terlalu kaku untuk mengucapkan kalimat dalam Bahasa Inggris.
"Benar. Dia pasti pernah melakukan kejahatan seperti itu sebelumnya. Karena tidak tertangkap, dia mengira dia bisa melakukannya ke semua orang," jawab Whisk.
Ternyata Jel memiliki sedikit kecerdasan Psikologi Kriminal.
"Karena dia pernah melakukannya dan tidak tertangkap selama beberapa kali, dia menjadi berani. Itu adalah sifat alamiah manusia," kata Waikit.
Haz memutar otaknya. Dia mencoba mengingat sesuatu. Dia pernah membaca sebuah kasus yang belum pernah terpecahkan. Bahkan pelaku juga belum tertangkap.
Orang yang memiliki kelainan mental cenderung ingin dirinya diperhatikan. Terutama jika dia adalah seorang psikopat.
"Palangkaraya, tahun dua ribu sepuluh sampai dua ribu dua belas. Ada kasus serupa di sana," gumam Haz, yang masih bisa didengar semua orang.
"Palangkaraya hingga ibukota?" tanya Whisk.
Jel mengambil profil yang ada di tangan Whisk dan melihat-lihat. Matanya terlihat mengetahui sesuatu saat melihat profil Riyan.
"Kamu tahu sesuatu?" tanya Whisk, menyadari perubahan mimik wajah Jel.
"Aku tak begitu yakin ... boleh pinjam ponselmu sebentar?" tanya Jel.
Whisk menyerahkan ponselnya kepada Jel.
Jel mencari sesuatu melalui Peramban ponsel Whisk. Setelah menemukan apa yang dicarinya, dia memperlihatkan kepada Haz dan Whisk.
"Ini, orang ini." Jel menunjuk berita yang menampilkan foto Riyan. Namun namanya sama sekali berbeda.
"Kasus Perampokan dan Pelecehan Seksual?" Whisk membaca artikel itu. "Apakah hanya ada satu artikel?"
Jel mengangguk. "Artikel ini tidak dihapus lantaran tidak ada yang tahu siapa yang mengunggahnya. Tapi, satu hal yang kutahu adalah ini sempat menjadi perbincangan panas di media. Keluarga Hassan adalah keluarga konglomerat. Tentu saja mereka dapat dengan mudah menutupi hal seperti ini, walau artikel ini tidak dapat dihapus."
"Tapi, nama mereka sama sekali berbeda," kata Haz.
"Baca ini." Jel men-scroll layar hingga menemukan bagian yang dicarinya.
"Pelaku berinisial R melakukan pelecehan seksual terhadap Nyonya Hassan dari Hassan's Group." Whisk membaca.
"Tidak. Ini bukan Riyan. Lihat tanggal artikelnya," kata Haz sambil menunjuk ke layar.
Di sana tertera bahwa artikel itu telah ada pada awal tahun 1999 dimana Peramban bermerk Google tak lama tercipta.
"Tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan." Waikit sedikit tercengang. "Aku tidak begitu mengerti bahasa di sini. Tapi, kemungkinan yang menulis artikel ini juga adalah konglomerat. Jika tidak, bagaimana dia bisa memiliki akses dari Peramban yang baru saja tercipta?"
"Hal itu masuk akal," balas Whisk.
Semua orang yang ada di ruangan itu dibingungkan dengan hal yang tak terduga. Terutama Haz. Biasanya, wanita berambut panjang gelombang pandai membuat asumsi. Saat berada di titik itu, dia dan kepribadian lainnya sama-sama bingung.
"Apa pun itu, kita harus tahu data pribadi lengkap mereka," kata Haz.