Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
41 : Hampir Saja!


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Sedikit basa-basi dengan kalian ....


Sebelumnya, Felisha ingin minta maaf kepada para readers karena tidak up sampai lebih dari dua minggu. Bahkan mungkin readers juga sudah lupa dengan alurnya (*dilempar cangkang duren). Tapi, untuk up kali ini, Felisha sudah berusaha menaburkan ide-ide yang Felisha miliki di dalam benak sebaik mungkin untuk mengobati rindu readers terhadap novel Felisha yang satu ini. Untuk itu, Felisha mengucapkan terima kasih kepada para readers yang masih setia dengan novel ini.


Baiklah, sekian basa-basi dari Felisha. Thank you and enjoy your reading all!


Di depan restoran yang sudah tutup setelah makan malam ...


"Kamu baik-baik saja, bocah kecil?" tanya Adi seraya mengulurkan tangannya untuk memberikan sebuah kompres kepada Haz kecil.


Haz kecil menatap wajah Adi sesaat dan beralih ke barang yang sedang dipegang olehnya. Dia menghela napas sesaat, kemudian menyambar kompres yang sedang digenggam oleh Adi. "Terima kasih," katanya sambil meletakkan kompres yang diberikan Adi di pipinya, sedangkan jemari mungil di tangan kirinya dengan lembut membuka lembaran demi lembaran buku novel. Dia berlagak sangat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


Bocah yang sangat tenang. Apakah dia benar-benar anakmu, Jonathan Li? batin Adi.


"Kenapa paman terus lihat aku?" tanya Haz kecil. Dia merasa tidak nyaman diperhatikan oleh Adi se-'intens' itu dan mengalihkan perhatiannya dari buku novel ke wajah pria lajang berusia awal tiga puluh tahun itu. Pandangan mereka bertemu di satu titik.


"Tidak ada," sangkal Adi. Dia berhenti menatap ke arah Haz kecil. "Kamu hanya mirip dengan seseorang, bocah kecil." Adi menggaruk kepalanya yang tidak gatal usai mengatakan hal tersebut.


"Aku? Mirip satu orang? Siapa?" Haz kecil terlihat tertarik dengan ucapan Adi.


Untuk pertama kalinya, akhirnya Adi mengatakan satu hal yang dapat menarik perhatian Haz kecil. Tentu saja dia sangat bersemangat sekarang. "Kamu mirip dengan seorang pebisnis yang aku kenal," katanya.


Dan, untuk sepersekian detik ke depan, Haz kecil tak lagi tertarik dengan perkataan Adi. Dia sudah tahu siapa yang dimaksud oleh Adi dalam hal ini. Dia merasa sedikit tersinggung bahwa Adi mengenal almarhum ayahnya dan mengatakan bahwa dirinya mirip sekali dengan beliau. Tentu saja aku mirip dengannya, dia papaku. Apa aku tidak boleh mirip dengan papa? pikir Haz kecil dengan jengkel.


Haz kecil mengembalikan kompres kepada Adi dengan cara melemparkannya ke arah pria itu dan segera melesat pergi dari sana, karena dia sudah merasa sangat jengkel dengan seorang Adi Chandra Putra.


Adi terkejut dengan perlakuan Haz kecil. Apa yang membuat bocah kecil itu marah? Apa aku salah bicara? pikir Adi sambil melampiaskan kekesalannya, dia meremass kompres di tangannya dengan keras, hingga air mulai mengalir dari sana. Untuk kemudian menyadari satu hal—bahwa Haz kecil tahu siapa orang tuanya dan dia marah atas hal tersebut. Astaga bodoh .... Bajingann kamu, Adi Chandra Putra. Kenapa aku tidak berpikiran bahwa dia akan tahu siapa yang ku maksud? Aku, pada akhirnya, berhasil membuat seorang bocah kecil merasa sangat marah kepadaku.


Haz kecil menyusuri lorong dek lantai satu kapal. Dia benar-benar sangat jengkel sekarang. Dia menghela napas panjang berulang kali. Banyak sekali orang-orang yang ditemuinya di sepanjang jalan, tapi tidak ada yang membuatnya tertarik. Dia tetap berjalan lurus, kadang berbelok di sepanjang lorong, hingga akhirnya dia sampai di depan kamarnya.


Haz kecil membuka pintu kamarnya dan menutupnya perlahan. Setelah itu, dia menaruh bukunya di sebuah meja belajar yang tersedia di dalam kamar dan merebahkan dirinya di atas kasur. Dia menutup wajahnya dengan bantal dan mengintip dari balik celah antara anak-anak rambutnya.


Kembali ke Hazelia Lify ...


Tapi, kewaspadaan Haz tidak akan kurang meskipun si kembar Vinzeliulaika meletakkan posisi membingungkan dan cctv sebanyak apa pun, karena yang dia incar bukanlah bagian yang terekam kamera cctv, melainkan tempat yang sangat jauh dari ekspektasi Rika dan Riko. Dalam hal berburu dan diburu, Haz sangatlah licik, tidak bisa dibandingkan dengan penipu profesional seperti Rika dan Riko—dia bisa lebih licik daripada si kembar Vinzeliulaika.


Hujan akan segera turun ... aku harus cepat kembali ke kamar pasien Whisky Woods sebelum hujan turun, agar mereka tidak curiga. Pasti Jelkesya mengatakan bahwa aku sedang berada di kamar mandi, batin Haz sambil memperhatikan keadaan sekitar. Untuk kemudian mengumpat dalam hati, Sialan! Bahkan di tempat pembuangan sampah mereka pun dipasang cctv. Bagaimana cara aku menemukan benda itu? Jangan panik Hazelia Lify .... Setiap masalah pasti memiliki solusi. Aku hanya perlu memikirkan solusinya, bukankah begitu?


Gluduk ... gluduk ... gluduk ....


Suara gemuruh mulai terdengar kembali di telinga seorang Hazelia Lify. Dia mendongakkan kepala untuk menatap langit. Dengan tatapan setajam mata pisaunya, dia menghakimi langit untuk tidak menurunkan hujan terlebih dahulu.


Blar! Blar!


Ctarrr ...!!


Petir menyambar-nyambar, menimbulkan kengerian tersendiri bagi para insan-insan yang belum tertidur lelap. Sebagian orang bersembunyi di balik selimut yang tebal, menjauhkan diri dari suhu dingin yang menerpa dan merasuk ke dalam kulit, dan tertidur. Sebagiannya lagi memilih untuk terjaga di sepanjang malam bersuhu rendah, menonton acara televisi, atau mencari-cari monster di bawah tempat tidur mereka.


Tap! Tap! Tap!


Haz dapat mendengar seseorang berjalan-jalan di dalam rumah. Sepertinya itu Thomas Bara. Tapi, Haz merasakan firasat buruk tentang hal tersebut. Di waktu-waktu seperti ini, seharusnya Thomas Bara sudah menyantaikan diri di atas sofa empuk yang tadi dilihatnya di dalam sebuah ruangan.


Tap! Tap! Tap!


Telinga sensitif seorang Hazelia Lify menangkap langkah-langkah kaki yang semakin lama semakin dekat. Perasaan mendobrak tubuh Haz, menyuruh wanita itu segera bersembunyi atau lari dari sana. Beruntung dia mendengarkan firasat tajamnya. Jika tidak, dia terpaksa harus berhadapan dengan Thomas Bara yang sudah sampai di atap.


Entah apa yang membawa Thomas Bara ke atas atap, yang jelas di dalam pikiran Haz sekarang adalah dia merasa sangat jengkel ketika berasumsi bahwa si kembar Vinzeliulaika tahu bahwa Haz akan pergi ke rumah mereka ketika mereka sedang sibuk—ini hanya sebagai alibi—menjaga adik mereka yang baru saja diracuni, Richard Vinzeliuka.


Haz bisa mendengar geraman Thomas Bara yang sedang mencari keberadaan dirinya. Dia sendiri sekarang tengah menahan dirinya untuk tidak jatuh ke bawah. Tangannya berpegangan pada sebuah batangan besi yang cukup kuat untuk menahan bobot tubuhnya. Haz mengembuskan napas lega karena spot yang dipilihnya kebetulan sekali tidak tersorot oleh kamera cctv. Dia tidak ingin tahu bagaimana jika dia tersorot, pastilah besok dia langsung masuk ke koran dan menjadi buronan para polisi.


Syuh ....


Hanya terdengar suara angin yang terhempas pelan ketika Haz mendaratkan kakinya di atas tanah. Dia yakin Thomas Bara tidak akan semudah itu menyerah untuk mencari keberadaannya.


Aku harus segera mengalihkan perhatian Thomas Bara sebelum hujan turun! pikir Haz. Dia sangat berusaha sekarang, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sekecil apa pun.