
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Tidak apa-apa. Lagipula, aku tidak menganggap itu sangat mengganggu. Kamu juga bersikap sangat normal," kata Haz.
Whisk dan Haz harus berpisah ketika mereka sampai di lantai tujuh. Mereka sangat canggung, bahkan untuk mengucapkan 'sampai jumpa' saja sangat sulit terucap bibir.
Akhirnya, Whisk hanya melambaikan tangannya kepada Haz. Haz melihat punggung Whisk yang menghilang di balik rak-rak buku yang menjulang tinggi.
Pada akhirnya, karena sebuah rasa, aku dan dia menjauh untuk sementara. Aku benar-benar kejam, eh? tanya Haz di dalam hati sambil melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir jam makan siang. Paling satu atau dua jam ke depan Zenneth akan meributi Haz dan Whisk untuk makan siang.
Aku akan pergi ke lantai dua. Barangkali aku akan menemukan sesuatu yang menguatkan pernyataan. Hah ... pernyataan apa? Ini di mall. Tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa penguntit itu tidak akan mengikuti diriku, kan?
Haz melangkahkan kakinya dan pergi menuju lift. Meskipun antreannya sangat panjang, tapi dia masih bisa bersabar. Dia sedang tidak ingin turun menggunakan eskalator.
Derita ku lah ...!
***
Whisky Woods, kamu bodoh. Mulutmu juga. Untuk apa aku mengatakan hal yang membuat Haz tidak nyaman? tanya Whisk di dalam hati sambil menutupi wajahnya menggunakan buku yang sudah dibuka sampul plastiknya.
"Benar-benar ...," gumam Whisk pada dirinya sendiri.
Whisk tengah membaca sebuah buku berjudul Bungaku Shoujo, sebuah komik milik Mayaka Nakano yang berkolaborasi dengan Yuko Shimoda di webcomic, yang diadaptasi menjadi anime, live action, dan novel.
Whisk menghela napas panjang. Dia terduduk di depan rak buku, dengan santai membaca cerita Bungaku Shoujo. Karena tidak ada orang yang suka pergi ke tempat itu, selain maniak atau yang biasa disebut 'kutu buku'.
Semakin Whisk baca, semakin kesal pula dia jadinya. Dia bahkan tidak menginginkan hal itu terjadi. Maksudnya adalah terang-terangan menyatakan kepada Haz bahwa dia menyukai wanita berambut panjang gelombang.
Hati Whisk tidak bisa tenang, seolah mengatakan, "Aku kan sudah menyuruhmu untuk diam. Untuk apa kamu mengatakan kepada perempuan itu? Kamu sudah tahu dia temperamental, tidak suka sesuatu yang 'terlalu frontal'. Kalian bahkan belum berkenalan secara mendalam. Kamu benar-benar bodoh."
Intinya, Whisk tidak bisa tenang. Bahkan ketika dia ingin melampiaskannya dengan membaca buku.
Iya, iya, iya. Aku memang bodoh. Sekarang berhenti memakiku!
Sepertinya Whisk sudah gila, berbicara kepada hatinya sendiri. Dia bahkan tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya.
Seolah-olah hati Whisk bisa membalas perkataannya, "Jika aku tidak memaki mu, kamu akan melakukan hal bodoh itu lagi. Kamu ini ... hais! Benar-benar merepotkan. Kamu ingin membuat diriku hancur berkeping-keping, hah? Tega sekali dirimu! Aku kan juga bagian dari dalam dirimu. Diskriminasi macam apa ini?"
Maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya. Aku refleks.
Karena tidak fokus membaca, Whisk pun mengembalikan buku yang diambilnya dan ingin dibacanya ke rak, ke tempatnya semula. Dia duduk terdiam di rak paling pojok yang langsung bersebelahan dengan tembok.
Whisk menghela napas panjang berulang kali, layaknya orang yang sedang sesak napas. Perasaannya terkoyak-koyak.
Tidak apa-apa, ini akan segera sembuh.