Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
47 : Argh! Aku ... Aku ....


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Sesaat sebelum Whisk dipulangkan, di rumah sakit tempatnya di rawat, tepatnya di dalam kamar pasien ....


"Selamat siang. Ini adalah jadwal pemeriksaan rutin terhadap pasien. Dimohon kerja samanya untuk keluarga maupun sahabat dari Tuan Woods."


Seorang dokter beserta seorang perawat masuk ke dalam kamar pasien, menyapa orang-orang, dan melakukan pemeriksaan rutin terhadap Whisk.


Dan selama proses pemeriksaan Whisk, Alkaf, James, dan Milla hanya bisa menunggu di luar sambil melihat pasien lain, orang-orang, beberapa perawat dan dokter yang berlalu-lalang di koridor rumah sakit. Tidak ada topik yang bisa mereka bicarakan selain menunggu acara pemeriksaan terhadap Whisk selesai.


Selang beberapa menit kemudian, dokter keluar dari dalam kamar pasien dan berkata kepada mereka, "Tuan Woods sudah boleh keluar dari rumah sakit hari ini. Silahkan mengunjungi bagian administrasi untuk perihal lebih lanjut."


Begitulah mengapa Whisk bisa berada di apartemen saat itu.


Dari balik garis polisi yang ditempelkan di pintu apartemen, Whisk dan Haz saling bertatapan. Si pria bersurai kemerahan tersenyum manis, lalu bertanya, "Apa yang kamu temukan?"


Haz tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia berbalik senyum ke arah Whisk seolah mengatakan kepadanya: "Coba tebak apa yang kutemukan?"


"Apakah kamu bisa memberiku sedikit petunjuk? Kamu bisa menemukan barang buktinya di dalam sana bukan?" Whisk berbisik tanya mesra kepada Haz, membuat wanita berambut panjang gelombang terkekeh geli.


Entah apa yang Whisk dan Haz lakukan, hanya merekalah yang tahu.


"Gelar 'Top 1 Detective' itu diberikan untukmu. Jika bertanya kepadaku seperti ini ...." Haz menghentikan perkataannya, kemudian tersenyum. Lalu, dia melanjutkan kembali, "Bisa-bisa gelar itu akan beralih kepadaku loh."


"Aku tak begitu peduli dengan gelar ini. Ku relakan saja gelar ini untukmu," kata Whisk sambil menopangkan badan di antara tipisnya garis polisi dan menatap Haz dengan puppy eyes-nya.


Apa aku terlihat menyebalkan di mata wanita ini? Kuharap tidak sama sekali, pikir Whisk.


"Coba tebak saja. Dimana saja bukti-bukti itu berada. Aku berhasil menemukan empat. Namun, sepertinya barang buktinya lebih dari empat. Nah, karena kamu adalah detektif terpilih dan yang paling terkenal, coba cari semua," kata Haz. Wanita berambut panjang gelombang tersenyum manis pada Whisk.


Bagi Whisk, memahami seorang Hazelia Lify itu lebih sulit daripada harus memecahkan kasus paling misterius. Dia hanya bisa membalas senyuman Haz dan langsung meninggalkan wanita itu untuk mencari keempat hal yang bisa dijadikan barang bukti.


Bekas jejak tangan seseorang? Whisk berjongkok di tempat tadinya Haz mengambil gumpalan rambut yang bukan miliknya maupun Jelkesya. Pria bersurai kemerahan menatap Haz, seolah bertanya: "Apakah ini termasuk?"


Haz mengacungkan jari telunjuknya sebagai tanda bahwa Whisk berhasil menemukan satu barang bukti. Dia sebenarnya berencana untuk memberitahu Whisk apa yang telah ditemukannya, tapi Nich masih memantau di sana sehingga wanita itu pun harus mengurungkan niatnya.


Whisk kembali memutari apartemen Haz dan Jel, lalu dia menemukan adanya jejak kaki di sela-sela antara meja televisi dan bangku Ottoman. Dia menatap Haz yang sudah mengacungkan dua jari.


Semakin bersemangat saja Whisk untuk mencari yang ketiga. Dia mengitari seluruh bagian ruangan yang masih bisa terlihat dari pintu masuk, tetapi tidak menemukan apa-apa.


Ada satu hal yang mencurigakan di mata Whisky Woods, yaitu: bungkus permen menthol yang tidak biasa ditemukan di Indonesia. Dia langsung menatap ke arah Haz. Yang benar saja, sudah tiga jari Haz yang teracung.


Whisk mengangkat bahunya sebagai pertanyaan: "Kenapa?"


Haz hanya diam dan menatap tajam ke arah Whisk, membuat pria itu jera dan tidak bertanya lebih lanjut. Dia berencana akan menjelaskan kepada Whisk setelah mereka pergi dari sana.


Dan ketika Whisk mencapai satu titik, dimana dia dihajar dan disayat tubuhnya oleh Thomas Bara di dalam apartemen Haz, kepalanya mulai berdenyut hebat dan sebuah memori singkat terlintas di dalam benaknya sekilas.


Sial. Kenapa sakit kepala ini datang kembali? Dan apa-apaan pula barusan? pikir Whisk. Dia memijit keningnya yang berkerut dan menggelengkan kepalanya pelan. Pandangannya menjadi berbayang.


"Whisk!" seru Haz panik. "Apakah kamu baik-baik saja?"


Haz tahu, seharusnya Whisk tidak keluar dari rumah sakit secepat itu. Meskipun keadaan fisiknya memulih dengan cepat, tetapi keadaan pikirannya masihlah kacau. Dia memerlukan waktu istirahat yang lebih panjang. Setidaknya, bukan dua hari masuk ke dalam kamar pasien, lalu dipulangkan begitu saja.


"Aku tidak apa-apa," jawab Whisk.


Itu tadi adalah alasan mengapa aku tidak ingat apa pun tentang Hazelia Lify? Sialkulah, hanya karena menahan rasa sakit dari sayatan pisau Thomas Bara brengsekk itu aku malah melupakan seorang wanita hebat, pikir Whisk merutuki dirinya sendiri dan juga menyimpan dendam terhadap Thomas Bara.


"Whisk? Is that you? Are you back?—Whisk? Apakah itu kamu? Apakah kamu sudah kembali?" tanya Haz. Jika Whisk benar-benar kembali saat itu, sialnyalah. Terutama jika Whisk ingat perlakuannya terhadap wanita itu sekitar dua atau tiga hari yang lalu. Oh, betapa memalukannya itu.


Wajah Haz bersemu kemerahan ketika menatap Whisk. Jantungnya berdebar-debar keras. Dia menunggu jawaban dari Whisky Woods.


Aku tidak akan bisa membohonginya dan juga membohongi diriku sendiri. Apa yang harus kulakukan ya? Menggodanya? tanya Whisk dalam hati.


Tanpa sadar, kaki Whisk melangkah maju ke depan. Matanya masih terpaku pada sosok Haz yang ada di depan sana. Dia sudah seperti pengantin yang ingin menjemput pasangan impiannya.


Haz sendiri tidak bisa mengontrol jantungnya yang berdebar-debar ketika melihat Whisk berjalan maju ke arahnya dengan wajah datar khasnya. Jangan bermain-main ... apa susahnya mengatakan ya atau tidak? Apa dia ingin mempermainkanku? tanyanya dalam hati.


Whisky Woods, apa kamu sudah gila? Berhentilah melangkah dan jangan membuat Hazelia bingung, pikir Whisk. Namun tetap saja dia tak bisa berhenti melangkah hingga dirinya sampai di hadapan Haz.


Whisk mengecup ujung hidung Haz di hadapan Jelkesya dan Nicholas!


"Hai, Hazelnut." Dan, kata-kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Whisk selang beberapa saat setelah Haz bertanya padanya apakah dia sudah kembali.


Wajah Haz sudah seperti tomat matang sekarang. Pikirannya kacau. Dia tidak bisa memikirkan apa pun untuk dikatakan kepada Whisk selain melihat pria itu tersenyum manis—yang Haz tahu sebagai Whisky Woods sedang menikmati wajah terkejutnya—kepadanya. Untuk sesaat dia mematung.


"Ini romantis, tapi tak begitu bagus." Jel berkata sembari menepuk pelan jidatnya.


"WHISKY WOODS! BUKAN INI JAWABAN YANG KU MAKSUD!"