
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Beberapa saat Cyan terdiam. Dia membuka mulut dan berkata, "Aku yakin itu adalah sepatu si polisi."
Haz menoleh ke arah Whisk, yang juga sedang menatapnya. "Apa warna sepatu polisi itu?" tanya mereka secara bersamaan.
"Qerza, apa warna sepatu yang digunakan oleh si polisi tadi? Dan, terbuat dari apa sepatu itu kira-kira?" tanya Haz.
Sepertinya Haz sedang berkomunikasi dengan teman imajinasinya. Mereka adalah kombinasi yang sangat luar biasa, pikir Whisk.
"Sepatu si polisi berwarna coklat tua. Jika kamu bertanya bahannya, sepertinya terbuat dari kulit. Sepatu yang dipakai seorang polisi hanya dua macam: sepatu boots dan sepatu kulit. Tapi, kebanyakan menghindari sepatu boots di musim kemarau," jawab Qerza menjelaskan.
"Warnanya coklat tua," jawab Cyan.
"Benar. Polisi itu memakai sepatu berwarna coklat tua. Apakah kamu ingat arah pelaku menarik polisi itu?" tanya Haz, lagi.
"Aku yakin sekali ke arah kiri pintu. Pintu terbuka dari dalam, seharusnya mereka masih ada di sana. Maksudku, pelaku pasti masih akan menyeret di polisi. Tapi, begitu aku membuka pintu dan melihat ke sana-sini, mereka sudah hilang bagai ditelan bumi."
"Menghilang bagai ditelan bumi katanya?" Qerza seolah-olah memiliki masalah pendengaran.
"Kamu yakin?" Kali ini Whisk yang bertanya.
"Sangat yakin."
Setelah mendapatkan kepastian dari Cyan, Haz dan Whisk kembali keluar dari ruangan. Kali ini mereka menghadap ke kiri. Dan, yang mereka lihat hanyalah sebuah lorong panjang.
"Bagaimana menurutmu, Qerza?" tanya Haz.
"Tidak mungkin sama sekali. Tapi, aku mendadak curiga. Tadi apa katanya? Dia membuka pintu dan mengecek keluar?" Qerza balas bertanya.
"Apakah ada yang aneh?" Haz mengerutkan bagian antara kedua alisnya.
Whisk tahu Haz menemukan sebuah keanehan dan sedang bercengkrama dengan teman imajinasinya.
"Tentu saja itu sangat aneh. Jika aku boleh katakan, dia menelepon dirimu saat dia sudah mengecek jendela. Dia sama sekali tidak pernah membuka pintu untuk mengecek dan keluar dari sana." Qerza menjelaskan.
"Kecuali ...." Haz buru-buru membuka pintu kamar pasien. Pintu dibuka dengan kencang dan menimbulkan suara 'Brak!' yang keras.
"Sialan!" Qerza berdecak kesal. Dia dan Haz sudah bertukar tempat.
"Ada apa?" tanya Whisk.
Dengan melihat seisi ruangan yang kosong saja Whisk tahu kalau semua itu permainan yang dibuat untuk mereka. Dia hanya bisa menggelengkan kepala, pasrah. Ini sudah melebihi kasus kelas internasional sekali pun!
"Fabella!" seru Qerza, memanggil nama Fabella.
"Tidak usah berteriak untuk memanggilku." Fabella berkata dengan lembut. "Ada apa?"
"Berapa besar kemungkinan pelaku untuk melakukan semua hal dalam waktu hanya lima menit?"
"Maksud kamu memukul polisi hingga menyekap Cyan dan Zenneth?"
"Iya."
"Kalau itu aku, aku hanya membutuhkan waktu tiga menit untuk melakukan semuanya." Fabella menjawab dengan sangat meyakinkan.
"Tiga menit?" Haz terhenyak, sepertinya dia memiliki masalah dengan indera pendengarannya.
"Apakah kamu dan teman imajinasi mu menemukan sesuatu?" tanya Whisk.
Haz menatap ke arah Whisk dan mengangguk.
Whisk masih belum bisa membedakan transisi kepribadian Haz. Mungkin karena dia terlalu malas untuk belajar psikologi. Dia hanya mempelajari kulit-kulitnya. Tidak seperti Haz yang mendalaminya hingga bisa membaca pikiran orang lain. Alasan kepribadian Haz sering berubah-ubah adalah karena alter ego nya.
"Tunjukkan caranya," pinta Qerza.
Jika kalian mengira Qerza adalah yang paling pandai dan misterius di sini, maka kalian salah. Harus diakui, semua strategi yang ada di dalam kepala Haz diatur oleh Fabella. Dia adalah pribadi yang misterius, membalut diri dengan kepolosan, kelembutan, dan keanggunan.
"Tidak perlu bersusah payah. Jawabannya adalah kamar sebelah." Fabella berkata dengan entengnya. Dia sangat yakin dengan jawabannya. Tapi, ada kalanya dia tidak bisa menebak sesuatu, seperti saat mencurigai si kembar Vinzeliulaika.
"Kamar ini terhubung dengan kamar sebelah. Di sini pintu masuknya."