Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
148 : Menyusun Rencana untuk Memberikan Barang Bukti


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Whisk tahu kalau Haz sedang tidak baik-baik saja. Dia pun tahu pikiran wanita berambut panjang gelombang terus menerus bekerja: Ingin Jel dan Alkaf berada dalam keadaan baik-baik saja, ingin Cyan dan Zenneth ditemukan dalam keadaan selamat, ingin kasus yang menghujani mereka cepat berlalu. Pria bersurai kemerahan tahu itu, tapi Haz selalu berkata bahwa dia baik-baik saja.


"Aku bilang, 'kalau', Haz ... jangan lupakan itu!"


Whisk terlebih dulu berjalan.


Haz menatap punggung tegar Whisk dari belakang sana.


Entah kenapa nyaman sekali mendapatkan elusan di kepala, batin Haz sambil memegangi tempurung kepalanya yang sering ditepuk dan dielus oleh Whisk.


"Ada apa? Ingin mengubah pikiran lagi?" tanya Whisk yang sudah berada sedikit jauh di depan sana.


Haz menggelengkan kepala. "Ayo!"


Haz menyeimbangkan langkahnya dengan Whisk.


"Apa yang ada di dalam pikiranmu?" Whisk bertanya. Dia sedari tadi melihat Haz melamun.


"Ada sesuatu yang sangat menggangguku ... tapi, akan kukatakan kepadamu nanti. Sekarang yang paling penting adalah menyerahkan barang bukti kepada Nicholas," jawab Haz.


"Kita baru saja bertemu dengannya tadi. Kenapa tak langsung kamu berikan?" Whisk bingung.


"Menurutmu, apa yang akan terjadi jika kita memberikan kepada Nich barang bukti di depan pemiliknya?" Haz bertanya balik.


Benar, aku lupa kalau masih ada mobil merah itu di sana, batin Whisk.


"Baiklah. Baiklah. Aku paham." Fokus Whisk terbagi saat bekerja sama dengan Haz. Itu adalah pertama kali untuknya menemukan seorang wanita yang begitu menarik dan lebih pandai darinya.


"Kita harus mencari cara memberikan barang bukti tanpa diketahui oleh orang-orang pihak mereka," kata Haz.


Beberapa saat yang lalu, Haz adalah sosok kekanak-kanakan dan manja. Wanita itu bisa mengubah sifatnya sesuai dengan tempatnya berpijak. Mood-swing yang dimilikinya tidak seburuk yang Whisk kira.


"Bagaimana dengan tempat makan?" tanya Whisk.


"Mengajak seorang Polisi ke tempat makan?" Haz bertanya balik.


"Ada yang salah dengan itu?" Whisk semakin bingung dengan Haz. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan mengajak Nich ke restoran untuk makan bersama.


"Jika semua penjahat bisa ditipu dengan trik itu, kamu akan cepat menangkap mereka, Whisky Woods ... mungkin kamu selalu berhasil dalam hal itu?"


Baru saja dikatakan bahwa Whisk tidak fokus jika bekerja sama dengan Haz. Hal itu dibuktikan untuk kedua kalinya. Sepertinya dia harus mengalami patah hati dulu agar fokusnya kembali.


"Benar. Lalu, apakah kamu memiliki ide yang lebih bagus?"


Haz terdiam. Dia juga belum memikirkan ide untuk menyerahkan barang bukti kepada Nich.


"Aku akan memikirkan hal itu nanti," kata Haz.


Whisk menggelengkan kepalanya. Dia tahu kalau mengajak Nich untuk makan bersama akan memancing kecurigaan Keluarga Hassan, tapi kalau mereka beramai-ramai―seperti mengajak Si Kembar Vinzeliulaika dan kelompoknya―tentu saja beda cerita. Kemungkinan pihak lain mencurigai mereka berkurang banyak.


"Bagaimana jika mengajak Nona Kembar dan kelompoknya juga?" tanya Whisk.


"Apa tidak ada ide yang lebih bagus?" tanya Haz kepada Fabel.


"Tidak ada, Haz. Ide Whisky Woods adalah yang paling baik sekarang. Kalian hanya akan pergi makan bersama dengan banyak personil. Itu mungkin akan mengganggu pihak lain. Tapi, kecurigaan mereka akan berkurang drastis. Kak Rika dan Kak Riko juga bisa menjadi saksi kalau kamu sudah memberikan barang bukti kepada Nicholas," jawab Fabel.


Haz tidak memiliki pilihan lain selain menyetujui ide dari Whisk. "Baiklah. Kita jalankan idemu saja."


Saat berada di depan pintu kamar pasien Ric, Haz dan Whisk mengintip ke dalam. Ada Iris yang sedang bercengkrama dengan Si Kembar. Namun wajah Si Kembar terlihat tidak senang―apalagi mereka sudah tahu kalau Iris adalah pelaku kejahatan utama yang ingin mencelakai Adik mereka. Si Kembar tidak memiliki pilihan lain selain meladeni Iris.


"Semoga saja mereka tidak mengacaukan rencana kita," gumam Haz.


"Mereka tidak akan mengacaukan rencana kita, Haz." Whisk meyakinkan Haz.


Haz dan Whisk masuk ke dalam ruangan. Iris terlihat sedikit kaget. Si Kembar Vinzeliulaika memasang wajah seolah mengatakan, 'Terima kasih, kalian adalah penyelamat yang kami tunggu-tunggu!'.


"Oh? Kalau tidak salah Kakak ini, Kak Iris bukan?" Haz menatap datar ke arah Iris. Dia terlihat tidak tahu apa-apa.


"Ya, benar. Aku Iris." Iris membalas perkataan Haz. Dia juga berlagak seolah-olah tak tahu apa-apa. "Karena ada tamu yang datang, aku pulang dulu, Kak Rika, Kak Riko."


Rika tersenyum tipis, sementara itu Riko tidak ingin melihat ke arah Iris sama sekali. Dari awal Riko melihat Iris, dia langsung tidak menyukainya.


Iris menghilang di balik pintu ruang pasien.


Sepeninggalan Iris, Haz beserta yang lainnya tidak berbicara sepatah kata pun. Masing-masing dari mereka tenggelam dalam dunia lamunan.


Haz tahu Si Kembar Vinzeliulaika sedang mengumpulkan mood mereka yang hilang akibat harus berhadapan dengan Iris yang bermuka dua.


Whisk sendiri memperhatikan setiap gerak-gerik orang dari balik jendela ruangan. Dia bisa melihat kalau Iris masuk ke dalam mobil merah yang sedari tadi membuntuti dirinya dan Haz.


Kira-kira dengan siapa Iris di dalam sana? Riyan Hassan? Atau, Rias Remus? tanya Whisk dalam hati.


Semua hal yang sudah terjadi membuat orang-orang di dalam ruang pasien Ric sakit kepala. Terutama Haz. Wanita berambut panjang gelombang adalah yang paling terbebani.


Haz belum tahu dimana Keluarga Hassan menyekap Cyan dan Zenneth. Dia hanya bisa berdoa dan berharap kalau kedua temannya itu baik-baik saja.


Memang tidak sepenuhnya salah Haz, Cyan lah yang membawa Zenneth keluar tanpa berpikir panjang. Namun semua akan menjadi beban bagi Haz.


Si Kembar Vinzeliulaika sendiri menatap nanar ke arah Ric. Mungkin Ric adalah adik yang nakal, tapi naluri seorang Kakak pasti tidak akan membiarkan Adiknya terluka. Apalagi sampai menjadi korban percobaan pembunuhan.


Whisk menghela napas dan berbalik untuk melihat keadaan. Dia tentu saja tidak suka terjebak dalam keadaan hening nan rumit.


Untuk mencairkan suasana, Whisk akhirnya membuka pembicaraan. "Apakah Kak Rika dan Kak Riko memiliki waktu untuk makan malam bersama kami?" tanya pria bersurai kemerahan.


Si Kembar Rika dan Riko menatap Whisk. Mereka sudah tahu apa yang direncanakan oleh Haz dan Whisk.


"Apakah kamu mengajak kami semua?" tanya Rika.


Whisk tentu saja tahu apa yang dimaksud oleh Si Kembar Vinzeliulaika dengan kata 'kami semua'. Begitu pun dengan Haz.


"Tentu saja. Semuanya diundang untuk makan malam bersama," jawab Whisk dengan sebuah senyuman tipis di wajah.