
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Haz menceritakan kepada James dan Milla tentang dirinya yang diserang oleh Thomas Bara, hingga dia sampai di apartemen Whisk dan bertemu dengan pria itu dan pria itu mengatakan kepadanya bahwa dia akan mengecek keadaan apartemennya—tentu saja dia tidak menceritakan apa yang terjadi sebelum Whisk mengatakan bahwa dia akan mengecek apartemennya, itu memalukan.
"Cerita ini membuktikan bahwa kamu adalah pacar Whisky Woods," Milla terkekeh geli.
"Zut alors non, Senor Milla!—Tidak, Senior Milla!" seru Haz.
"Bisa berbahasa Prancis?" tanya wanita tunanetra itu.
"Non, pas du tout—Tidak, tidak sama sekali," Haz berkata sambil menggelengkan kepalanya. "Aku hanya tahu beberapa kata dalam Bahasa Prancis."
Jel sendiri mengatakan dia akan menjawab telepon dari Rael. Dia akan memberitahukan situasi dan kondisi terkini kepadanya. Jadi, tinggallah Haz bersama sepasang suami-istri itu di kursi deret di depan ruang UGD tempat Whisk berada.
"Nona Peramal, bagaimana cara Anda mengetahui tragedi itu? Aku masih tidak paham." James menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung dengan pernyataan Haz tentang tragedi yang hanya diketahui oleh empat orang—James sendiri, Milla, Whisky Woods, dan satu orangnya lagi yang sudah meninggal dunia.
"Menebak," jawab Haz singkat.
"Aku jadi ingin tahu, apa yang kukatakan pada James Stetson kala itu," kekeh Milla.
"Itu mudah sekali. Yang kamu mengatakan kepadanya, 'Bisakah kamu tak hanya menatap seperti orang bodoh di sana dan memberiku sesuatu yang bisa kupakai?'. Ya, sesuatu semacam itu," Haz mendongak menatap langit-langit rumah sakit yang dicat putih sesaat, lalu berpaling ke arah James dan Milla dengan wajah mereka yang merona kemerahan. Wanita itu terkekeh singkat.
Haz bisa melihat Alkaf yang datang dengan lengannya yang dibalut perban. "Jel tengah menerima telepon jika kamu mencarinya," ucapnya kepada pria berkacamata yang baru saja datang.
Alkaf menatap Milla sesaat.
"Oh! Tuan Pendeta!" seru Milla. "Sudah lama sekali semenjak kunjungan terakhir Anda ke Prancis untuk memberi ceramah." Milla mengulurkan tangan ke depan.
"Wah ... tidak disangka bisa bertemu dengan Polisi Milla," Alkaf membalas menjabat tangan Milla sesaat.
"Aku sudah pensiun dari Kepolisian," ujar wanita tunanetra. "Oh, perkenalkan, ini suamiku." Milla memperkenalkan Alkaf kepada James.
"Senang bertemu Anda, Tuan Stetson." Alkaf jelas tahu tata krama di dunia Barat—secara tidak langsung, dia sudah berkeliling dunia.
"Haz!" panggil suara di seberang sana. Itu Liulaika Jelkesya.
Haz menoleh ke arah wanita yang memanggilnya. "Ada apa?" tanyanya.
"Bisakah kita bicara berdua sebentar? Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kamu harus menyelidiki hal ini! Harus! Ini mendesak!" Jel berkata dengan wajah seriusnya.
Sesaat, Haz tahu itu pasti asumsi yang didapatkan oleh Jel setelah dia menerima telepon Rael. Sekecil apa pun hal yang didapat oleh Jel, insting seorang Liulaika Jelkesya tidak mungkin salah.
"Silahkan berbincang terlebih dulu. Aku memiliki keperluan mendesak saat ini." Usai berkata demikian, Haz langsung pergi bersama dengan Jel. Menjauh dari kursi deret, dari Alkaf, James, dan Milla, yang menatap kedua insan itu bingung, namun tidak begitu peduli dengan apa yang akan mereka bicarakan.
"Jadi, apa yang kamu dapatkan, Liulaika Jelkesya?" tanya Haz dengan kedua tangan terlipat di depan dada.
"Coba dengar ini," Jel memperdengarkan rekaman suara percakapannya dengan Rael kepada Haz.
Haz memasang telinga dengan seksama. Awalnya, tidak ada yang aneh dari percakapan tersebut sampai ....
Haz terhenyak mendengar kalimat itu. Lalu, menatap Jel intens. "Apakah kamu yakin itu dia?" tanyanya pelan hampir berbisik.
"Aku justru memanggilmu karena hal ini Haz!" seru Jel sama pelannya.
"Coba putar sekali lagi," pinta Haz seraya mendengar percakapan Rael baik-baik dari awal hingga akhir.
Jel memutarkan rekaman suara teleponnya kepada Haz lagi. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke lengan satu lagi.
Haz bisa mendengar jelas, percakapan Rael dengan—kamu tahu siapa.
"Sedang bersama Andrian. Whisky Woods menyelamatkanku. Puji syukur. Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Rael.
Di saat itu juga, dari seberang sana, Jel bersumpah bisa mendengar suara berat seorang lelaki yang mengatakan, "Aku kehilangan Whisky Woods, Nona."
Haz juga dapat mendengarnya di dalam percakapan telepon. Beruntung sekali seorang Liulaika Jelkesya segera mencarinya untuk membicarakan tentang hal itu. Jika saja sahabatnya itu tidak memiliki insting kuat, dia tidak akan pernah tahu bahwa Rael merupakan dalang di balik semua ini. Tapi mengapa?! pikirnya.
Tepat saat itu juga, ada tandu beroda yang didorong oleh beberapa perawat. Di atasnya terbaringlah seseorang yang sangat dikenal oleh Hazelia Lify dan Liulaika Jelkesya sebagai ... Richard Vinzeliuka.
Mata mereka berdua terbelak menatap pasien yang tengah berada dalam keadaan darurat itu. Bibirnya menghitam. Haz tahu itu adalah efek racun. Kedua insan itu saling bertatapan dan langsung bergegas menuju ke tempat Alkaf, James, dan Milla.
Ric sendiri masuk ke dalam UGD yang sama dengan Whisk.
"Kalian lihat itu?" tanya Alkaf saat mereka berdua sampai di hadapan ketiga orang yang dimaksud.
"Ini tidak benar," Haz menggelengkan kepalanya. "Ric bukan orang bodoh yang akan meracuni dirinya sendiri."
"Meracuni?" tanya Alkaf.
"Ya!" Haz mengetuk kepalanya menggunakan jemari tangannya, memikirkan apa yang sudah terjadi di antara Rael, Ric, dan Thomas Bara. "Kecuali .... Tidak! Aku harus menelepon Andrian!"
Haz mengambil ponselnya dari tas selempang kecilnya. Jarinya bergerak cepat di atas layar, menelepon Andrian.
Tut...
Tet...
"Apakah urusan kalian sudah selesai? Saya sedari tadi berada di restoran menunggu kedatangan kalian!" seru Andrian langsung menyerobot berbicara.
"Apakah Rael bersamamu?" tanya Haz.
"Rael? Tidak sama sekali! Dia belum datang ke sini. Saya juga tidak bisa meneleponnya karena dia tengah berada di panggilan lain tadi," jawab Andrian.
"Whisk terluka, Andrian .... Aku benci mengakui hal ini, tap-"
Jel langsung merebut ponsel dari Haz. "Bisakah kamu datang ke rumah sakit di jalan protokol untuk menjenguk Whisky Woods? Kamu pasti sudah tahu cerita Haz yang dikejar Thomas Bara di apartemennya sendiri," kata Jel sambil menatap galak ke arah Haz: Bodoh! Bagaimana jika Rael ternyata bekerja sama dengan Andrian untuk benar-benar mencelakakan dirimu?
Haz menepuk jidatnya pelan. Benar sekali! batinnya, lalu terkekeh gugup menatap 'Mak Kos'-nya dengan tatapan tak bersalah.
"Baiklah, saya akan segera ke sana. Bagaimana bisa Thomas Bara melukai Tuan Whisk?" tanya Andrian.
"Cerita yang panjang. Aku akan menceritakan kepadamu saat kamu tiba di rumah sakit, Andrian," ujar Jel layaknya seorang Hazelia Lify.
Klik!
Telepon ditutup.
Ruangan hening sesaat. Jel menarik napas panjang setelah pria di seberang sana menutup telepon.
"Ahahaha ...." Haz tertawa gugup.
"Masih bisa tertawa?" Jel menatap galak ke arah Haz.
"Ampun, Mak Kos ... jangan marah!" Haz dengan mata berbinar-binar menatap ke arah Jel, layaknya seorang anak kucing yang menatap memohon kepada manusia yang lewat di hadapannya.
Jel memutar bola matanya malas. "Nah! Ini saatnya seorang 'Sherlock Holmes' beraksi!"