Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
67 : Perdebatan Kecil yang Cukup Memusingkan


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Haz hanya terdiam dan menatap ke arah Cyan, Whisk, dan Zenneth. Dia tidak menjawab pertanyaan Zenneth dan Zenneth pun mengerti bahwa Haz masih berada dalam fase tidak baik-baik saja.


"Cyan cepat masak!" seru Zenneth sambil meninju bahu Cyan. Mereka berdua terlihat sangat cocok dan mesra—seandainya Zenneth belum berpacaran dengan Darren.


"Kalian sangat manis," goda Whisk. "Apakah kalian berdua pacaran?"


Cyan dan Zenneth terhenyak mendengar pertanyaan Whisk. Mereka menatap satu sama lain, kemudian menjawab bersamaan dengan berbalik tanya kepada pria bersurai kemerahan, "Untuk apa aku pacaran dengan (kunyuk/nenek lampir) yang satu ini?"


"Lagipula, si nenek lampir ini sudah berpacaran dengan seorang dokter muda," kata Cyan lagi sambil menatap ke arah Zenneth. Tersirat kesedihan saat dia menyatakannya. Seperti ... tidak rela dengan kenyataan itu.


"Kamu seharusnya tidak berbohong dengan perasaanmu sendiri, Cyan," kata Haz. Dia akhirnya berbicara. Dia menatap Cyan dengan tatapan tidak bersalah dan mengangkat kedua bahunya. "Kamu menyukai Zenneth, kan? Sudahlah jujur saja. Dia juga sering bermesraan denganmu. Kamu baper karenanya."


"Hazelia Lify!" seru Cyan. Wajahnya memerah. Dia sangat malu karena Haz memberitahu di saat Zenneth, orang yang disukainya, ada di tempat itu juga.


"Oh ya, aku sudah putus dengan Darren tadi sore. Ternyata dia juga sudah lama ingin minta putus. Tapi, dia takut menyinggung perasaan ku—begitu katanya, aku tidak begitu peduli. Jadi, jangan bahas soal Darren lagi di depanku," kata Zenneth.


"Lampu hijau," gumam Haz. "Kode. Jika kamu masih tidak paham, Cyan, aku tidak tahu lagi harus menyebutmu bodoh atau tidak peka. Yang jelas aku bisa menyebutmu idiot jika kamu tidak memanfaatkan kesempatan bagus ini."


"Benar kata Haz. Jika kamu tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan baik, kamu adalah orang paling bodoh di muka bumi ini." Whisk membenarkan perkataan Haz.


"Aku tidak ada pikiran untuk mencari pasangan dalam waktu dekat," kata Zenneth. Dia seperti memutuskan harapan Cyan untuk mendekatinya. "Ya, kalau ada yang ingin berpacaran denganku, aku akan memikirkannya lagi."


"Labil sekali kamu," umpat Haz. Dia tertawa kecil. Akhirnya dia menunjukkan ekspresi wajah senang setelah berjam-jam lamanya bersedih, meskipun hidungnya masih memerah dan matanya masih sembab.


"Nah! Akhirnya senang juga," kata Zenneth. Dia mendekati Haz dan duduk di sampingnya.


"Apa kamu?" tanya Haz dengan galak. "Jangan dekat-dekat denganku. Kamu menyebalkan. Sama sekali pria itu." Dia menatap tajam ke arah Whisk.


"Kenapa aku?" tanya Whisk. Dia memajang wajah polos tak berdosa sambil mengedipkan matanya berulang kali. Dia sama sekali tidak cocok melakukannya.


"Kamu menjijikan, Whisky Woods. Jangan berlagak seperti itu," umpat Haz.


"Jika aku tidak berlagak seperti ini, kamu tidak akan tertawa. Kamu kan suka yang menjijikan seperti ini. Ya tidak?" goda Whisk.


"Tidak!" sangkal Haz. Dia memalingkan wajahnya yang memerah dari Whisk. "Tentu saja tidak! Untuk apa suka yang menjijikan seperti itu? Kamu menyebalkan!"


"Apa perlu ku sebutkan apa saja yang kamu lakukan dengan karakter fiksi di handphone-mu setiap hari? Kamu harus mengakuinya, bahwa kamu suka." Whisk terkekeh melihat tingkah Haz yang seperti anak kecil. Namun dia tetap suka dengan Haz, walaupun terkadang wanita berambut panjang gelombang dapat bersikap sangat labil.


"Baiklah, Tuan Woods. Aku mengakui bahwa aku menyukai kekonyolan, kebodohan, dan kejijikan yang dibuat oleh karakter fiksi di handphone-ku. Tapi, bukan berarti aku akan menyukainya ketika orang yang melakukannya," kata Haz.


"Putus sudah harapanku," gumam Cyan yang bisa didengar oleh semua orang.


"Putus apanya?" tanya Haz. "Jadi seorang pria jangan lemah. Pria mental tempe."


"Untung saja aku tidak mental tempe." Whisk membanggakan dirinya sendiri. Dia memang tidak mental tempe, terbukti dari dia berani menghibur Haz yang sedih dengan caranya sendiri.


"Diam kamu menyebalkan!" seru Haz. Dia menggembungkan pipinya tanda dia sedang kesal.


"Iya. Iya. Aku akan diam. Tapi, jawab dulu pertanyaanku. Ini telurnya mau setengah matang atau matang sempurna? Mau pakai daun sup tidak?" tanya Whisk.


"Kenapa orang Eropa suka memakai rempah-rempah untuk masakan mereka?" Haz bertanya balik.


"Apakah daun sup termasuk rempah-rempah?" Whisk menatap Haz dan tersenyum kepada wanita itu.


"Tentu saja tidak!" Haz berseru menjawab pertanyaan tersebut.


"Lalu, apa yang kamu maksudkan dengan orang-orang Eropa yang suka memakai rempah-rempah?" Whisk bertanya lagi.


"Maksudku adalah kenapa kalian suka sekali dengan sesuatu yang berbau kuat. Rempah-rempah adalah bahan-bahan bumbu yang kaya akan bau dan rasa, begitu juga daun sup—meskipun kedua hak itu terlihat tidak memiliki hubungan apa pun. Jadi, kamu belum menjawab pertanyaanku. Kenapa bisa begitu?" Haz menumpukan dagunya di atas sandaran sofa sambil menatap balik ke arah Whisk. Sepertinya pertanyaan itu cukup untuk menyatakan kepada Whisk bahwa wanita berambut panjang gelombang tidak ingin dia memakaikan daun sup ke dalam mi instan-nya.


"Kenapa kamu harus mempertanyakan hal yang sudah tercatat di dalam sejarah mu untuk mengatakan "tidak" kepadaku? Kamu membuatku pusing Hazelia." Whisk kembali menatap mi instan yang dimasaknya. "Kamu belum menjawab pertanyaan satu lagi." Dia mengingatkan bahwa pertanyannya ada dua.


"Aku suka mempermainkan orang lain," aku Haz. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri sambil menyenandungkan sebuah lagu di dalam kepalanya. "Telurnya, aku ingin yang matang. Aku tidak begitu suka kuah yang tercemar dengan ... ya kamu tahulah apa."


"Inilah sebabnya aku benci orang pandai," gumam Zenneth. Dia dan Cyan saling bertatapan dalam kebingungan. Dia mendapatkan tatapan datar dari Haz. "Apa? Benar kan? Orang pandai itu memusingkan."


"Nona Zenneth, bolehkah aku meralat perkataan mu?" tanya Whisk dan tanpa menunggu jawaban dari Zenneth, dia pun berkata, "Wanita itu memusingkan. Tidak ada wanita yang bodoh. Yang ada hanya pria bodoh. Pikiran seorang wanita itu seperti labirin, tidak bisa ditebak ataupun tertebak—jika seorang pria menebak dengan benar, dia hanya beruntung. Kamu, misalnya. Untuk mengatakan bahwa kamu menginginkan tempat yang nyaman dan sesuai dengan ekspektasi mu, kamu memberikan kode yang sangat minim kepadaku. Tapi, beruntungnya kamu menyuruhku untuk bertanya kepada Haz dan itu lebih dari cukup. Terima kasih karena telah melakukannya."


"Untuk hal seperti ini aku harus akui bahwa aku sangat bodoh," ujar Cyan. Dia menatap ketiga orang yang ada bersamanya secara bergantian. "Aku menyerah memahami perkataan kalian. Zenneth, ini punyamu." Dia menyodorkan mi instan yang dimasaknya di atas meja yang bergaya ala meja bar.


Zenneth segera menghampirinya dan duduk dengan tenang di depan meja. "Selamat makan semua!" Dia berseru dan segera menyantap mi instan yang disajikan Cyan dengan lahap.


Suasana saat itu dingin. Jam dinding digital masih menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh lima menit. Sudah dua puluh lima menit setelah Haz dan Whisk keluar dari kamar, bergabung bersama Cyan dan Zenneth.


"Haz, sudah. Mau di sana apa di sini saja?" Whisk bertanya sambil menuangkan mi instan ke dalam mangkuk.


"Di sana saja."