Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
152 : Kejadian Lain yang Aneh


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Haz melonjak terbangun ketika tidak sengaja mendengar suara ledakan yang amat dahsyat. Suara ledakan tersebut tidak hanya terjadi sekali, tapi berkali-kali.


Haz mengerjap, mengusir kantuk yang masih tersisa. Dia mencondongkan tubuhnya dan melihat ke arah Whisk yang masih tertidur.


Ledakan terjadi sekali lagi dan itu menyebabkan tidur Whisk terganggu.


Haz dan Whisk saling bertatap-tatapan, bertanya-tanya tentang apa gerangan yang terjadi di luar sana. Tidak ada satu pun yang terlintas di kepala mereka. Oh, ayolah ... jam digital di meja kerja Whisk menunjukkan angka pukul 04:55 dan itu masih terlalu dini untuk orang-orang membuat kekacauan.


Haz dan Whisk segera bangkit dari tidur dan keluar dari apartemen untuk menyelidiki kejadian ledakan tersebut.


Di seberang sana, sebuah gedung yang tidak begitu tinggi terbakar habis. Orang-orang juga mulai keluar untuk menyaksikannya.


Oh no! Itu adalah sebuah gedung tempat oplos gas! seru Haz dalam hati.


Haz berbisik kepada Whisk, "Itu adalah tempat pengisian gas. Pantas saja ledakan besar terjadi berkali-kali. Pemadam Kebakaran pun harus menunggu hingga tidak ada ledakan yang terjadi."


Baru saja menyelesaikan kalimatnya, Haz dan Whisk sudah mendengar ledakan baru. Suasana di sekitar mereka langsung menjadi hiruk-pikuk: Ada orang yang berteriak untuk menelepon Pemadam Kebakaran dan Polisi, ada bayi-bayi yang menangis karena keributan, ada anak-anak yang berteriak ketakutan, dan berbagai macam hal lain. Suasana menjadi kacau-balau.


Haz melirik ke sana-sini barangkali ada kejanggalan yang bisa didapatkan olehnya. Di ujung jalan terlihat Iris dan—mungkin—Riyan seolah-olah baru datang entah dari mana. Wanita berambut panjang gelombang menyenggol bahu Whisk dan mengisyaratkan untuk melihat ke arah kedua manusia pembuat onar itu.


Whisk mengamati Iris dan lelaki yang ditunjuk oleh Haz dengan waspada. "Iris tinggal di apartemen ini," katanya, Haz tahu. "Tidakkah kau berpikir untuk mengatakan kepada Nicholas Qet Farnaz untuk menggeledah setiap rumah di apartemen ini dan sekitarnya agar bisa menemukan Zenneth dan Cyan?"


Selama ada Keluarga Hassan, Haz dan Whisk selalu saja akan berada dalam masalah.


Mulut Haz menganga dan matanya menatap tidak percaya ke arah Whisk, bertanya-tanya apa yang sebenarnya diinginkan oleh Whisk dengan menggeledah apartemen yang mereka huni. Keluarga Hassan juga tidak mungkin menyembunyikan Cyan dan Zenneth di tempat tak aman seperti itu.


"Terkadang, seorang Detektif harus berpikiran sederhana. Apartemen ini bukannya tidak mungkin sebagai tempat persembunyian," kata Whisk memperingatkan Haz.


Haz menelan ludah. Dia merasa kalau perkataan Whisk ada benarnya juga, tapi dia tidak pernah mengira bahwa Cyan dan Zenneth mungkin disembunyikan di tempat paling tidak terjaga. Wanita berambut panjang gelombang sudah berpikiran terlalu jauh.


Karena Polisi dan Pemadam Kebakaran sudah datang, kerumunan berangsur-angsur bubar. Begitu juga dengan Haz dan Whisk. Namun ekspresi gelisah dari Haz tidak bisa disembunyikan. Apalagi ketika dirinya dan Whisk harus berjalan beriringan dengan Keluarga Hassan. Rasanya emosi langsung naik menuju puncaknya.


Whisk tanpa berkata-kata langsung menggamit lengan Haz dan menariknya menjauh seolah-olah sangat menghindari mereka. "Kamu harus lebih sabar, Haz," bisik pria itu.


"Bagaimana aku bisa sabar ketika tahu kalau para bajingan itu adalah penjahat?" Haz berbisik balik dengan penuh ketidaksabaran.


Merepotkan sekali mereka memang, batin Whisk merutuki dua insan yang sedang menatap ke arahnya dan Haz dengan curiga.


Whisk menggiring Haz hingga mereka berdua kembali ke dalam apartemen sendiri. Walau sudah sampai di dalam pun suasana hati wanita berambut panjang gelombang tak kunjung membaik. Mereka berdua memasuki ruang kerja dan siap untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


"Haz," panggil Whisk. "Jika kamu ingin mencari sahabat-sahabatmu secepatnya, kita juga tidak akan membutuhkan Nicholas Qet Farnaz. Kamu bisa melakukannya sendiri. Jangan lupa ambil ponselmu dan carilah di area sekitar apartemen ini. Entah kenapa aku yakin. Kamu juga mengenal tempat ini dengan baik."


Whisk benar, Haz memang mengenal apartemen itu dan sekitarnya dengan baik. Sang Wanita menghela napas panjang. Entah kenapa kali itu dia juga ingin mendengarkan usulan Whisk. Dia sudah lelah bekerja dan memikirkan segala sesuatunya seorang diri selama ini, terkecuali Whisk, untuk beberapa fase dari saat mereka mengenal satu sama lain.


Haz menganggukkan kepala mengiyakan usulan dari Whisk. Dia segera bersiap-siap untuk menjalankan aksinya.


Whisk mendapatkan sebuah telepon. Dari Fleur.


"Comme prévu, Whisky Woods. Iris Hassan est une fausse donnée d'identification créée par la famille Hassan." Tanpa berbasa-basi Fleur segera menyerbu Whisk dengan informasi yang didapatnya. (Sesuai dugaan, Whisky Woods. Iris Hassan adalah identitas palsu yang dibuat oleh Keluarga Hassan).


"Votre grand subordonné a reçu beaucoup d'informations des Nations Unies," kata Fleur membanggakan diri sendiri. (Bawahanmu yang hebat ini sudah mendapatkan banyak informasi dari pihak Perserikatan Bangsa-Bangsa).


Saat Fleur membual tentang hebatnya dia, Whisk mencatat semua informasi yang bisa didapatnya dari informannya yang satu itu. Terkadang pria bersurai kemerahan ingin protes kepada Fleur untuk tidak membual.


Whisk melipat tangan sambil menggenggam pulpen seperti sebilah pisau. Dia menghembuskan napas perlahan dan menatap tajam ke arah dinding ruangan yang tidak bersalah dengan tak sabar. Jika saja Fleur ada di hadapannya saat itu, dia bisa menjamin kalau dia akan memarahi informannya itu.


Tidak ada satu pun dari ekspresi yang ditampakkan oleh Whisk terlihat senang atau gembira.


"Kamu terlihat sangat menyeramkan, Whisky Woods," celetuk Haz saat kembali ke dalam ruang kerja Whisk. Rambutnya tampak masih sangat basah, tapi Sang Wanita tidak peduli. Dia duduk di sofa dengan tenang. "Apakah Penelepon Cerewet yang bernama Fleur itu mengganggumu?"


Sepersekian detik kemudian Whisk menyadari kalau itu adalah Fabel. Dia berkata, "Dia hanya membual."


"Qu'est-ce que tu dis?" tanya Fleur tidak mengerti dengan Bahasa Indonesia yang digunakan Whisk. (Apa yang kau katakan?).


Melalui Haz, Fabel tertawa. "Dia membual karena kamu tidak pernah memujinya tentang kehebatannya dalam mencarikan informasi! Oh, ayolah, Tuan Woods! Jika Tuan Fleur adalah Haz, kamu pasti akan menganggapnya hebat," godanya.


Whisk mengabaikan godaan yang dilempar oleh Fabel. Dia mendengus saat mendengar bualan lain dari Fleur yang membuatnya ingin muntah. Dengan segera, dia berseru, "S'il n'y a rien d'autre que vous voulez m'informer, je raccroche. Et, moins de vantardise!" (Jika tidak ada lagi yang ingin kau katakan, maka aku akan menutup telepon. Dan, kurangi bualanmu!).


Whisk memutuskan panggilan telepon dengan Fleur.