
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Flashback still on ....
"Hah ... benar-benar. Apakah kau adalah anak yang sering mencuri di daerah ini?" tanya Evocation.
Yudel kecil hanya bisa mengangguk takut-takut sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Walau dia sering tertangkap basah, dia tidak pernah dikejar sampai seperti ini. Mungkin Evocation adalah orang yang berbeda―tentu saja berbeda, dia adalah mantan pembunuh bayaran, akan tetapi Yudel kecil belum tahu tentang ini.
Evocation melepaskan cengkraman tangannya dari Yudel kecil. Dia menghela napas, lalu bertanya, "Dimanakah orang tuamu?"
Yudel kecil berkata, "Perpisahan. Ibu sering memukul dan tidak memberi makanan. Aku lapar."
Evocation terdiam selama beberapa saat, sebelum akhirnya bertanya, "Bagaimana kalau kau tinggal bersamaku saja?"
Yudel kecil memasang tampang kebingungan. Baru kali ini ada orang yang mengajaknya tinggal bersama. Dia tidak tahu harus bagaimana. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah trauma yang diberikan oleh Ibunya: Mengurungnya di kandang anjing, bahkan terkadang untuk bertahan hidup dia juga ikut memakan makanan anjing. Kejam.
Yudel kecil menggelengkan kepalanya dengan tegas. Baginya, yang tersisa hanyalah trauma, dia menganggap bahwa tinggal dimana pun itu adalah sama. Dia tidak ingin kembali tidur ataupun makan di kandang anjing.
Evocation bertanya, "Kenapa kau tidak mau?"
Yudel kecil berpikir, Jika aku memberitahunya tentang hal ini, apakah dia akan berbuat hal yang sama terhadapku? Ayah pernah bilang, jangan memberitahu orang tentang hal buruk yang dijalani. Aku tidak mengerti, tapi aku akan mengikuti perkataan Ayah!
Yudel kecil memilih untuk diam dan menundukkan kepalanya.
Evocation terlihat sangat sabar.
"Apakah kau takut orang lain akan melakukan hal buruk kepadamu seperti yang Ibumu lakukan? Aku bukan orang seperti itu," kata Evocation.
Dulunya, aku seperti itu, batin Evocation.
Yudel kecil dengan ragu menatap dengan tatapan tidak percaya kepada pria tua yang berbicara dengannya.
"Jika kau tak ingin cerita, maka biarkan saja lah. Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin memberikan kepadamu tentang sesuatu yang tidak pernah kau dapatkan dari orang tua," kata Evocation. Dia memutuskan untuk memberikan kasih sayang kepada Yudel kecil.
Tentu saja Yudel kecil tidak tahu apa yang dimaksud oleh Evocation. Yang ada di dalam kepalanya hanyalah bagaimana caranya untuk bisa kabur, lalu bertahan hidup demi hari selanjutnya, lembaran selanjutnya.
Evocation tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Yudel kecil. Dia tidak menyela. Dia menunggu, menunggu Yudel kecil untuk memberikan jawabannya.
Yudel kecil dilema. Dia tidak tega meninggalkan Ibunya, di saat bersamaan juga tidak ingin kembali ke rumah yang terasa bagai siksaan neraka itu. Dia akhirnya memilih untuk diam saja karena tidak tahu harus menjawab apa.
Evocation juga sama. Dia juga terdiam dan menunggu jawaban dari Yudel kecil.
Setelah beberapa saat saling berdiam-diaman, Evocation menghela napas panjang. "Apa yang sedang kau pikirkan? Apakah ada yang membuatmu tidak tenang?" tanyanya.
"Hei. Kenapa kau menangis?" tanya Evocation. Dia sedikit panik. Meskipun dia adalah seorang pembunuh bayaran, dia tidak tahan dengan yang namanya anak kecil. Hati nuraninya masih ada, juga masih bisa merasa.
Evocation mengusap lembut kepala Yudel kecil, berusaha menenangkannya. "Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menakuti dirimu. Apakah ada sesuatu yang mengganggumu? Kau boleh bercerita kepadaku," katanya.
Yudel kecil menggelengkan kepalanya. Dia masih saja tidak percaya dengan Evocation. Menurutnya, pria tua itu terlihat sangat menyeramkan, walau dia menyuruhnya untuk percaya.
"Apakah kau ada masalah dengan orang tua sepertiku?" Pertanyaan Evocation tepat sasaran. Memang Yudel kecil mempunyai masalah dengan yang namanya 'orang tua'.
"Hem." Yudel kecil bergumam kecil sambil mengangguk pelan. Evocation tahu, lalu menghela napas panjang.
"Dengar, Nak. Jika kau memiliki masalah dengan orang tuamu, tidak seharusnya kau seperti ini. Mau ku antar pulang?" tanya Evocation, yang membuat mimik wajah Yudel kecil langsung berubah menjadi ketakutan.
Jadi benar, dia memiliki masalah dengan orang tuanya, batin Evocation. Apakah ada hal buruk yang terjadi di antara mereka?
"Aku tidak tahu apa yang kau mau. Daripada pusing memikirkannya, lebih baik kau pulang saja ke rumah," kata Evocation.
"Itu bukan rumah!" hardik Yudel kecil. Tangisannya pecah. Bahkan seorang kakek tua yang awalnya ingin membeli di toko kelontong Evocation langsung mengurungkan niatnya, memberikan ruang untuk Evocation dan Yudel kecil untuk bercengkrama. Sangat pengertian.
Evocation menepuk jidatnya pelan. Orang tua itu masih tidak mengerti mengapa Yudel kecil menganggapnya rumahnya bukanlah rumah. Sesaat kemudian, dia teringat dengan perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa ada pencuri kecil di daerah sana.
"Apakah kau adalah pencuri kecil yang dimaksud oleh orang sekitar?" tanya Evocation dengan sabar.
Evocation mahir membujuk anak kecil. Bahkan yang seperti Yudel kecil. Mungkin karena dulu ketika menjadi pembunuh bayaran, selingan profesinya adalah menjaga anak-anak di panti asuhan.
Pria kasar berhati mulia? Gelar itu mungkin juga tak pantas disematkan untuknya.
"Ya. Aku lah yang dimaksud oleh orang-orang," kata Yudel kecil.
Evocation lalu teringat satu anak yang pernah diadopsinya. Anak itu bernama Waikit. Dia adalah seorang Yahudi yang tinggal di Kuba. Rezim yang berkuasa di Kuba saat itu sangatlah kejam. Mereka juga memaksa para Marrano untuk berpindah agama ke Kristen. Karena tidak sanggup berada di negara kecil itu, orang tua Waikit meninggalkan anaknya di sana dan pergi entah kemana. Sampai sekarang belum dapat dipastikan apakah mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia.
Whisky Woods menyela cerita Yudel ....
"Tunggu sebentar. Jadi, maksudmu adalah kamu dan pria di sana diadopsi oleh orang yang sama?" tanya Whisk sambil menunjuk ke arah Waikit yang tengah terkekeh kecil dengan Haz. Dia cemburu sebenarnya.
"Evocation bahkan memiliki sebuah panti asuhan. Jika kamu pergi ke Kuba, jangan lupa untuk mengunjunginya. Nama panti asuhan itu adalah Amor y Devoción," kata Yudel.
"Cinta dan Bakti? Nama panti asuhan yang sedikit aneh," ujar Whisk.
"Tidak aneh. itu hanyalah harapan Evocation. Dia ingin anak-anak yatim piatu mendapatkan cinta dan kasih sayang mereka. Juga, tidak lupa berbakti kepada orang-orang yang telah memberikan mereka kebahagiaan," ucap Yudel.
"Entah kenapa, kata berbakti itu sedikit menyebalkan. Kalian tidak sadar bahwa kalian diperlakukan layaknya 'anjing yang setia', ya?"