
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Whisk tidak banyak bertanya karena Haz sudah menemukan Cyan dan Zenneth di suatu tempat. Yang bisa dia lakukan hanya diam dan bertanya kepada wanita berambut panjang gelombang apakah dia baik-baik saja. Dia juga tahu kalau si wanita berada dalam keadaan berbahaya dan menegangkan.
Hazelia berada dalam keadaan yang buruk. Semoga saja dia baik-baik saja. Memikirkannya seperti ini benar-benar membuatku cemas, pikir Whisk.
Whisk menghela napas panjang sambil menunggu stop watch yang dipasangnya berhenti di angka 00:00. Selesai bertanya tentang keadaan Haz, dia akan mengaktifkan kembali stop watch selama lima menit ke depan. Tujuannya adalah hanya untuk mengetahui keadaan Haz.
Whisk akan merasa sangat bersalah jika dia melewatkan sesuatu yang penting, yang berhubungan dengan si wanita.
Whisk menghela napas panjang. Tepat saat itu, dia mendengar dering stop watch.
Sudah lima menit ya ... waktu berjalan begitu cepat ya! Whisk berseru dalam hati sambil mengambil napas. Dia tahu Haz akan bosan. Namun dia tidak memiliki pilihan lain. Perdebatan mereka berdua yang membuahkan hasil seperti itu.
"Haz, apakah kamu terluka?" Whisk mengaktifkan mikrofon dan bertanya. Dia sedikit gugup ketika mendengar napas Haz yang tidak beraturan. Wanita itu pasti kelelahan.
"Ebony, Whisk ...," jawab Haz yang terdengar aneh di telinga Whisk.
Whisk tahu Haz kelelahan, tapi bukan itu petunjuknya. Mengucapkan namanya dengan panjang dan terdengar ragu-ragu adalah keanehan. Haz adalah orang yang tegas, pria bersurai kemerahan tahu itu.
Dia seperti sedang mengirimkan sinyal S.O.S., batin Whisk. Tapi, yang menjadi masalah adalah Haz tidak bisa mengatakan tempatnya berada sekarang. Ada orang yang menghalanginya untuk mengungkapkannya kepadaku. Untuk itu ... untuk itu aku harus mencarinya sendiri!
Whisk menyambar jaket kulit yang tergantung di belakang pintu. Dia keluar dari dalam apartemen untuk pergi mencari Haz. Dengan instingnya tentu saja.
Di tempat Haz ....
Haz memang berhasil merekam wajah Ryan dan perlakuan kasar Ryan kepadanya. Dia juga berhasil merekam Cyan dan Zenneth yang diculik Keluarga Hassan. Itu cukup menjadi bukti penculikan dan penyiksaan.
Kali ini, aku tidak akan membiarkan kalian lolos, Keluarga Hassan! Haz menyeru dan menatap tajam ke arah Ryan.
Haz sudah bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Ryan. Dia cukup kaget sebenarnya. Namun dia yakin dalang dan otak dibalik semua ini tak lain adalah Iris Hassan. Tidak, Nyonya Hassan!
"Kata Mama bunuh! Kata Mama bunuh! Kata Mama bunuh!" Begitu kalimat yang terus diulang oleh Ryan dalam nada rendah. Namun terdengar sekali kalau pria itu tidak bosan, seperti ... otaknya sudah dicuci oleh Nyonya Hassan.
Orang gila mana yang akan menyuruh anaknya sendiri mengotori tangan mereka menggunakan darah? tanya Haz. Dia menggigit bibir bawahnya karena sepertinya Ryan akan menyerangnya lagi. Entah seperti perkiraannya atau tidak, tapi si wanita merasa bahwa Iris pasti sudah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak disebutkan. Aku penasaran ... jika hanya satu kalimat saja, tidak akan lengkap. "Kata Mama bunuh!"? Masih ada kalimat lain yang tidak ingin disebutkan oleh Ryan Hassan. Kira-kira kalimat apa itu?
"Akan ... ku beritahu."
Haz melihat ke arah Cyan. Apa maksudnya dengan perkataan itu? Apakah Cyan Vilmasyah tahu sesuatu? tanyanya.
"Akan ku beritahu, Hazelia Lify. Potongan puzzle yang kamu inginkan. Karena itu, selamatkan Zenneth!" seru Cyan.
Haz mulai mengerti. Cyan adalah salah satu dari sekian banyaknya orang yang telah mendengar perkataan Iris. Potongan puzzle yang diinginkan oleh Haz, sang pria memegangnya!
"Sebagai bonusnya, kamu tidak akan mati sia-sia di tangan kotor mereka." Haz terlihat sangat meyakinkan saat mengatakannya.
Bagi orang-orang seperti mereka ... tunggu! 'Bagi orang-orang seperti mereka'? Ah ... aku paham sekarang. Cyan dan Ric sama-sama merupakan pebisnis—walau dalam artian yang berbeda. Mereka sudah mengalami berbagai hal buruk menimpa diri mereka. Potongan puzzle yang dimaksud oleh Cyan adalah 'manipulasi'. Lebih tepatnya, untuk mempengaruhi seseorang. Aku sudah mengerti. Aku membutuhkannya, batin Haz. Nyonya Hassan, aku akan tahu motif apa yang kamu miliki sebagai dasar kamu melakukan semua ini!
Ryan mendadak menyerang Haz dan itu membuat Qerza tidak sengaja terbangun karena kaget. Teman imajiner Haz mengambil alih tubuhnya.
Qerza menghindari serangan Ryan dengan mudah, tapi entah kenapa rasanya ada yang aneh karena Ryan menjadi semakin agresif.
"Qerza ... kamu harus hati-hati. Orang ini sedang berada dalam kondisi 'tidak stabil'," kata Haz dengan nada khawatir.
"Tenang saja, Haz. Serahkan urusan kekerasan kepadaku!"
"Whoa! Hei! Tidak sopan sekali kau!" teriak Qerza bertepatan dengan Ryan menyerangnya di saat dia sedang berbicara dengan Haz.
"Aku tidak akan butuh benda ini." Qerza bergumam pada dirinya sendiri dan mematikan senter ponsel Haz. Dia memasukkan ponsel ke dalam saku.
Yang paling tidak disangka Qerza adalah Ryan yang bisa menyerangnya walau dalam kegelapan.
Nyonya Hassan sudah menciptakan seekor monster ternyata, batin Haz.
Qerza sedikit kesulitan akibat serangan Ryan yang tidak beraturan. Dia hanya bisa berdecak kesal sambil menghindar tanpa ada kesempatan untuk menyerang.
"Berhati-hatilah, Qerza. Dia sudah berevolusi menjadi makhluk mengerikan. Pembunuh sempurna yang diciptakan oleh Nyonya Hassan." Haz memperingatkan Qerza betapa berbahayanya seorang Ryan Hassan sekarang.
Fisik Haz memang sudah dilatih, tapi tetap saja semua ada batasnya sendiri. Tubuh Haz merasa lelah. Untungnya Ryan juga berhenti dan hanya menatap kosong ke arahnya.
Qerza memelototi Ryan dengan tatapan galak. Tidak ku sangka kalau tubuh Hazelia Lify akan kelelahan hanya karena orang ini, batinnya.
Sudah sekitar lima menit lebih setelah Whisk menanyakan kabar Haz.
"Whisky Woods akan segera menanyakan kembali keadaanku. Saat itu, kirim S.O.S. kepadanya. Entah kenapa Whisky Woods akan selalu bisa menemukanku," kata Haz.
"Kamu bagai remaja yang terbelunggu asmara, Haz." Haz menjadi sedikit malu ketika Qerza mengatakan hal itu. Namun dia harus mengakui bahwa sepertinya ada rasa yang perlahan-lahan tumbuh di antara relung hatinya.
Seperti tebakan Haz, Whisk menanyakan kabarnya—meski sang wanita tidak tahu apakah pria bersurai kemerahan mendengarkan semuanya sedari tadi, atau dia tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Haz, apakah kamu terluka?"
"Sekarang saat yang tepat! Gunakan caramu, Qerza! Juga jangan sampai lengah." Haz berkata.
"Ebony, Whisk ...," kata Qerza.
Sekilas, tidak ada perbedaan antara jawaban Haz dengan Qerza kecuali penambahan panggilan seorang Whisky Woods yang ditarik panjang. Namun bagi seorang Whisk yang sudah menjadi detektif berpengalaman, tentu saja ada perbedaannya.
Aku berharap kamu bisa menemukan Hazelia Lify-mu, Whisky Woods! seru Qerza.