Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
130 : Berada di Posisi Serba Salah


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Loh Nona Jel?" Ratih yang baru saja keluar dari bagian dapur, mendapati Jel bagai orang linglung dan sedang mematung di bagian pintu masuk Cafe.


Haz yang mendengar nama Jel disebut dengan keras oleh Ratih, langsung menoleh ke arah Jel yang juga sedang memperhatikannya. Wanita berambut panjang gelombang juga kaget akan kehadiran Jel di sana.


"Nona? Nona Jel?" Ratih memanggil nama Jel berulang kali, hingga pemilik nama menoleh ke arahnya.


"Maaf," kata Jel.


"Tidak masalah." Ratih tersenyum hangat. Sepertinya dia tahu bahwa Haz dan Jel tengah memiliki masalah. Kebetulan meja-meja di Cafe itu penuh. Hari Jumat, Sabtu, dan Minggu di Cafe itu memang selalu penuh dari jam 9 malam hingga menjelang subuh.


Ratih memiliki ide. Apalagi ketika melihat Whisk melambaikan tangan ke arah mereka.


"Apa maksudmu, Whisk?" desis Haz, bertanya. Dia tidak terima jika harus duduk bersama dengan Jel. Apalagi jika nantinya Alkaf mencarinya dan menemukan bahwa mereka sedang bersama. Dia tidak mau ada kesalahpahaman lagi. Dia tidak suka dirinya disalahpahami sesuka hati. Tidak ada orang yang suka, bukankah begitu?


"Kenapa? Kamu takut kalau Senior Alkaf memergoki kalian? Sudah, tenang saja. Jel sendirian ke sini. Lagipula, sepertinya telepon genggamnya disita oleh pria itu. Kamu dan dia seharusnya berbaikan, Haz," kata Whisk, berusaha membujuk Haz untuk menerima Jel di meja mereka.


"Kamu tahu tidak betapa sakitnya hatiku disalahpahami oleh orang lain? Lemparkan semua saja kesalahan ke diriku!" seru Haz. Dia naik pitam.


"Brak!" Haz memukul meja dengan keras, menyebabkan orang-orang melihat ke arahnya. Dia tidak memperdulikannya.


"I ma' out―aku pergi," kata Haz. Raut wajahnya tidak menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Dia benar-benar pergi dari kursinya. Bahkan saat berpapasan dengan Jel pun, dia tidak melirik ke arah wanita itu sama sekali.


"Nona Haz?" panggil Ratih, yang tentu saja tidak direspon oleh wanita berambut panjang gelombang.


Whisk masih tinggal di sana. Dari dalam Cafe, dia membuka mobil yang kebetulan masih dalam radius untuk Haz. Setelah itu, dia tersenyum pada Jel dan mengisyaratkan kepada wanita itu untuk duduk di tempat Haz tadinya.


Suasana Cafe kembali normal. Meskipun ada beberapa orang berbisik-bisik tentang apa yang terjadi kepada Haz dan Jel. Biasa, mereka menggosip ala emack-emack.


Ratih pun mempersilahkan Jel untuk duduk di meja itu bersama dengan Whisk karena sudah mendapatkan izin dari pria bersurai kemerahan.


"Nona Jel mau pesan apa?" tanya Ratih.


Jel yang kebingungan dan sedang sedih, melirik ke arah meja Haz. Dia ingin menjawab kalau dia ingin apa yang dipesan oleh Haz, tapi dia terlalu takut untuk sekedar mengatakannya.


Whisk yang tahu keinginan Jel pun yang mengatakannya kepada Ratih, "Pesankan saja seperti punya Hazelia."


Ratih melirik ke arah Jel. Tidak ada penolakan dari wanita itu, sehingga dia membalas, "Oh, baiklah."


Pasti Haz akan sangat marah kepada Whisk karena tidak mengikutinya. Begitu yang ada di dalam pikiran Jel.


"Jadi, bagaimana kabarmu, Nona Liulaika Jelkesya?" Whisk melontarkan pertanyaan konyol. Tentu saja Jel tidak sedang baik-baik saja. Pria bersurai kemerahan hanya ingin sedikit berbasa-basi dengan Jel sebelum bertanya apa yang terjadi dengan dirinya dan Alkaf, serta apa yang membuatnya berpikiran untuk mengunjungi Cafe itu.


"Ahahaha ... aku kurang baik." Jel terkekeh kecil dan kedengarannya sangat menyedihkan.


Whisk merasa bersalah telah menanyakan hal itu kepadanya. Dia tentu saja tahu bahwa Jel tidak baik-baik saja. Dia hanya tidak menyangka bahwa tidak baik-baiknya Jel sudah mencapai batasnya. Dia bersimpati atas masalah yang sedang dihadapi oleh wanita itu.


"Apakah kamu memiliki masalah dengan Senior Alkaf?" tanya Whisk. Kali ini lebih to the point.


Jel mengangguk tanda dia mengiyakan pertanyaan Whisk. Dia tentu saja memiliki masalah dengan pria berkacamata yang posesif itu.


Lidah Jel berasa kaku dan kebas. Satu kata yang keluar dari bibirnya pasti akan membuat air matanya jatuh. Apalagi melihat raut wajah tidak senang Haz tadi. Rasanya dia belum sanggup menerimanya.


Whisk cukup mengerti posisi Jel yang serba salah di mata Alkaf dan Haz saat itu. Alkaf tidak menyukai Haz dan berusaha menjauhkan Jel dari wanita itu. Sedangkan Haz sendiri, dia adalah pribadi yang insecure dan sangat tahu diri. Kemarahan Haz bukanlah tanpa sebab. Haz hanya tidak ingin melibatkan orang lain dan dirinya sendiri jauh ke dalam masalah. Haz akan menahan keinginan hatinya sebisa mungkin demi kebaikan orang lain. Posisi wanita berambut panjang gelombang pun serba salah.


Whisk menghela napas panjang. Walau dia bukan seorang wanita, tapi dia sedikit paham kalau wanita cepat tersinggung jika saja ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan keinginan mereka, seperti keadaan Haz dan Jel sekarang. Tidak ada yang salah, juga tidak ada yang benar dalam kasus ini. Semuanya murni kesalahan dari pribadi masing-masing.


Whisk paham bahwa ego Haz itu tinggi. Terlebih lagi, egonya bukan untuk dirinya sendiri, akan tetapi untuk orang lain. Whisk juga jadi serba salah ingin mengatakan sesuatu kepada Jel. Dia tidak ingin salah kata atau membuat orang merasakan bahwa dirinya sedang 'sok tahu' atas masalah yang mereka alami.


Di satu sisi, Whisk juga tidak bisa diam saja. Dia tidak bisa diam ketika melihat Jel bersedih. Dia tidak bisa membiarkan Haz berlarut-larut memikirkan orang lain dan membunuh keinginan di dalam hatinya sendiri. Namun apa yang bisa dia lakukan di situasi semacam itu? Dia hanya bisa membujuk Haz dan Jel untuk berbaikan. Sisanya ya tergantung pribadi mereka, ingin atau tidak sama sekali.


Ratih datang membawa segelas susu putih hangat dan semangkuk mi instan rasa Tom Yam, pesanan Haz tadinya.


Di atas meja, juga tersisa mangkuk yang masih berisi setengah mi instan milik Haz, yang masih belum sempat dihabiskan lantaran sudah tidak bernafsu untuk menghabiskannya.


Ratih pamit pergi dari meja yang ditempati Whisk dan Jel setelah mengantarkan pesanan. Dia juga tahu apa yang harus dilakukan. Bercanda berlebihan hanya akan menyebabkan Jel semakin sedih.


Jel mengangkat gelas yang berisi susu hangat dan meneguknya beberapa kali. Kendatipun, dia tidak merasa lebih baik walau hanya sedikit.


"Jangan terlalu sedih ... bagaimana jika aku membujuk Haz?"


Jel langsung menggelengkan kepalanya. Dia tidak ingin menganggu Haz yang perasaannya juga sedang buruk, yang bahkan lebih buruk dari perasaannya sendiri.


"Jika seperti ini terus, kalian tidak akan berjumpa titik tengahnya."