Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
116 : Cyan Siuman


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Lima belas menit berlalu, dengan Haz dan Yudel yang masih saling kesal satu sama lainnya ....


Waikit telah menyelesaikan makan siang, atau lebih tepat, makan satu hari nya. Meskipun begitu, perut atletis yang dimilikinya tetap terjaga. Dia berpamitan dengan Haz dan berjanji untuk menyerahkan sampel laboratorium sesegera mungkin.


"Aku senang bisa mengenalmu, Nona. Kau itu orang yang paling menyenangkan," kata Waikit.


Tentu saja Yudel tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh rekannya itu.


"Itu karena kita se-frekuensi, Tuan. Aku tidak ada cocoknya dengan rekanmu yang satu ini." Haz mengakui bahwa dirinya sangatlah tidak cocok dengan Yudel.


"Jangan salahkan pria tua ini, dia memang sangat menyebalkan. Kau pasti mengenal Healer Romawi Dua, Amanda Yvel. Wanita itu juga berkata demikian," kata Waikit. Dia tertawa lepas sambil merangkul Yudel yang mendengus sebal karena rekannya yang lebih berpihak kepada Haz dibanding dirinya.


"Jika kau membutuhkan bantuan lebih dari ini, Nona," lanjut Waikit. "Jangan sungkan untuk menghubungiku." Dia memberikan secarik kertas buram. Mungkin berisi nomor teleponnya. "Tentu saja dengan nomor internasional." Dia mengedipkan sebelah matanya kepada wanita berambut panjang gelombang yang langsung mendapatkan seringai manis dari lawan bicaranya.


"Tentu saja. Terima kasih atas bantuannya, Dua Tuan Wraith," kata Haz. Dia melambaikan tangan saat Yudel dan Waikit berlalu, menghilang di ujung jalan dengan berjalan kaki.


Saat berpaling ke arah Whisk, Haz menemukan pria itu sedang menatap tajam dengan ekspresi wajah yang tidak bisa ditebak, tapi juga mengarah ke kesedihan. Dia langsung meringis dan bertanya pada Whisk, "Apa-apaan wajah jelek mu itu?"


Whisk semakin cemberut ketika Haz bertanya seperti itu. Apakah benar dia tidak menyimpan sedikit perasaan pun kepadaku? tanyanya di dalam hati, sedikit kecewa lantaran Haz tidak peka terhadap perasaannya. Bahwa dia cemburu menyaksikan kedekatan wanita berambut panjang gelombang dengan Waikit, yang menurutnya tak wajar.


"Apa lagi yang akan kamu pikirkan. Whisky Woods?" tanya Haz sembari mendelik marah ke arah Whisk. Dia selalu merasa bahwa pria itu sangat menyebalkan. Terkadang juga tak bisa ditebak olehnya, tapi tidak ada yang bisa dilakukannya mengenai hal itu.


"Aku cemburu." Whisk menjawab dengan singkat, padat, dan jelas. Serta, lagi-lagi itu tentang perasaannya.


Haz notabene dingin, dia tidak begitu perduli dengan perasaan yang dialami oleh orang lain. Cenderung sakit kepala dengan perasaan orang yang ditujukan untuknya. Dia merasa tidak nyaman dengan orang yang cemburuan dan posesif. Walau dulunya terhadap Ric dia pernah berbuat seperti itu. Namun semakin dewasa, dia menjadi semakin sadar, bahwa tidak ada gunanya menjadi posesif terhadap orang lain. Posesif menunjukkan ketidakpercayaan seseorang terhadap orang yang disukainya. Setiap orang membutuhkan ruang.


"Lalu?" Lihat saja jawaban yang diberikan oleh seorang Hazelia Lify, dia memperparah suasana dengan menanyakan hal singkat seperti itu. Padahal Whisky Woods hanya ingin wanita itu sedikit lebih peka terhadap perasaannya. Sepertinya, dia tidak bisa ....


"Abaikan saja," jawab Whisk dengan raut wajah kecewa berat. Baru kali ini dia merasakan apa namanya 'patah hati yang sesungguhnya'. Padahal dulu, saat menyukai Senor Milla, dia memang mengalami patah hati. Namun tidak sampai menyesakkan dada seperti yang dialaminya bersama dengan Haz.


"Perasaanmu berkembang dengan sangat terburu-buru, Whisky Woods," kata Haz. "Tidak seharusnya begini. Kamu tahu aku dan bagaimana perasaanku bekerja. Walau aku menyukaimu juga, suatu saat nanti, setidaknya itu tidak terlambat." Dia terdengar seperti memberikan harapan kepada Whisk. Namun wanita berambut panjang gelombang sangat sadar, bahwa ternyata dia juga menyimpan perasaan terhadap seorang Whisky Woods. Hanya saja, dia memang tidak menginginkan hubungan yang terlalu terburu-buru.


"Kamu ingin mengatakan bahwa kamu juga menyimpan rasa kepadaku?" tanya Whisk.


"Aku tidak sehebat dirimu, Hazelia Lify," kata Whisk.


"Memangnya aku sehebat itu? Belajarlah lebih banyak tentang psikologi, Whisk. Kamu akan bisa membaca karakter seseorang setelahnya. Aku itu biasa saja, dengan makhluk-makhluk menyebalkan yang ada di dalam kepalaku," ujar Haz.


"Hei! Siapa yang kamu maksud dengan makhluk-makhluk menyebalkan, hah?" protes Qerza, yang ditepis Haz bagai menepis lalat.


Whisk terkekeh pelan, tahu ada yang protes. Dia terlihat lebih baik, sudah bisa tertawa tertahan seperti itu.


"Daripada itu, Whisky Woods, lebih baik kita segera kembali ke Rumah Sakit. Perasaan buruk mulai menyergap. Aku merasakan firasat buruk jika kita berlama-lama di sini," kata Haz.


Haz merasakan perasaan itu lagi, perasaan tak nyaman karena ada seseorang yang memantau dirinya dan Whisk dari tempat yang sangat dekat, tapi tak terjangkau oleh sense-nya.


Whisk mengangguk mengerti. Dia tahu dia harus mempercayai insting Haz.


Mereka berdua pun pergi dari tempat itu.


Beberapa saat yang lalu, di rumah sakit ....


Cyan memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Pandangannya yang semula kabur, perlahan-lahan mulai kembali jelas seperti sediakala. Dia menatap sekeliling dengan was-was, karena ingatannya tentang seseorang ber-hoodie yang memenuhi kepalanya. Traumatik sering dirasakan oleh seseorang, walau orang tersebut pertama kali mengalaminya.


Namun yang Cyan temukan hanyalah dirinya yang berada di ruangan Zenneth sebelumnya. Dia juga menemukan Zenneth baik-baik saja, serta polisi yang berjaga di depan kamar pasien Zenneth tadinya, masih pingsan. Untungnya, polisi itu juga baik-baik saja.


Hazelia Lify. Cyan langsung teringat pada Haz. Mungkinkah dia yang menemukan dan membawa kami ke kamar pasien Zenneth semula? Atau memang kami sudah dipindahkan sebelumnya? Pria itu ... dia sangat menakutkan. Walau Haz lebih menakutkan.


Cyan sepertinya mengingat tentang orang yang berusaha menculiknya dan Zenneth. Sepertinya dia tak sengaja melihat tampangnya.


Kecepatan yang dimiliki pria itu sama dengan kecepatan yang dimiliki oleh Hazelia Lify. Apakah Hazelia Lify tahu siapa pria itu? tanya Cyan di dalam hati.


Banyak sekali pertanyaan yang berputar di dalam kepala Cyan. Namun dia sadar, memikirkan terlalu banyak hal hanya akan menyakiti kepalanya. Dia pun memutuskan untuk tidak memikirkan apa yang baru saja dialaminya lagi dan akan bertanya pada Haz soal pria yang berusaha menculik dirinya, Zenneth, dan polisi yang berjaga di depan kamar pasien yang ditempati oleh wanita yang dicintainya.


Aku juga tidak boleh diam saja seperti ini. Aku akan menyuruh penjaga untuk berjaga di sekitar rumah sakit barang kali ada yang mencurigakan. Aku harus bisa menjaga Zenneth, batin Cyan.