Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
100 : Alter Ego


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Apakah kamu sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh wanita tua itu?" tanya Whisk, membuka pembicaraan antara dirinya dan Haz. Mereka sangatlah canggung dan dia tidak tahan akan hal itu.


Haz menatap ke arah Whisk, yang juga menatap ke arahnya. "Tidak juga," katanya, sukses membuat Whisk sakit hati untuk kesekian kalinya.


"Maaf. Aku tidak pandai berkata-kata manis," ujar Haz pelan. Dia mendongak, menatap langit. Menghela napas panjang, wanita itu kembali menatap ke arah pria bersurai kemerahan tanpa berkata apa-apa.


Rasanya Whisk bisa mengerti mengapa Haz tidak pandai berkata-kata manis ataupun sekedar untuk menyenangkan orang lain. Masa kecil suram wanita itu membuatnya menjadi seperti itu.


Whisk tidak bisa menyalahkan Haz, yang sedari kecil sudah harus menerima kenyataan pahit dan menjadi orang yang dingin.


"Tentang pendekatan," kata Haz pada akhirnya. "Aku rasa kita bisa melakukan hal itu. Wanita tua itu benar. Seharusnya aku memberimu kesempatan untuk mengenal diriku lebih dalam. Aku tidak boleh egois. Kamu juga berharap."


Whisk tentu saja tidak bisa membendung rasa senangnya ketika Haz mengatakan hal itu. Satu hal yang ingin dia ketahui, masa lalu Haz yang sangat rumit, yang belum selesai diceritakan sama sekali.


"Sepertinya kamu ingin mengetahui sesuatu," tebak Haz tepat sasaran.


"Aku hanya penasaran dengan bocah kecil bernama Hazelia Lify. Bagaimana dia bisa begitu tangguh?"


Haz tertawa ringan, kemudian menjawab, "Dia tidak setangguh yang kamu pikirkan. Alam semesta itu ajaib. Seorang anak yang masih kecil itu adalah salah satu hal yang tidak masuk akal."


"Kamu sudah mendengar beberapa potongan kehidupannya. Jika itu masuk akal, semua anak kecil akan seperti dirinya."


"Kamu mengatakan seolah-olah kamu adalah orang lain."


Haz kembali tertawa, kali ini terdengar sedikit canggung. "Kamu tahu apa itu alter ego?" Kali ini dia membahasnya lebih dalam. Tentang penyimpangan kepribadian seseorang.


"Kepribadian lain? Ah ... tunggu sebentar Hazelia Lify." Whisk berkata saat melihat Haz membuka mulutnya dan ingin protes. "Aku tidak mengatakan kepribadian ganda. Aku mengatakan 'kepribadian lain'. Alter ego merupakan diri kedua yang dipercaya berbeda daripada orang kebanyakan atau kepribadian yang sebenarnya. Istilah ini dipakai pada awal abad kesembilan belas ketika gangguan pemecahan kepribadian pertama kali dijelaskan oleh psikolog. Aku paham. Hampir setiap orang memiliki alter ego."


"Ah~ tentu saja, Tuan Woods. Salam kenal, aku adalah Ziesya, kepribadian yang berguna untuk mengatur perasaan Haz." Bisa didengar oleh Whisk nada suaranya berubah, menjadi manja dan ditarik, lembut serta menggoda.


Haz terdiam beberapa saat, tatapan menjadi kosong dan dia menatap datar ke arah Whisk, dari atas sampai bawah. Tidak tertarik sama sekali dengan pria bersurai kemerahan. "Aku tidak ingin keluar jika tidak ada kepentingan. Masukkan aku kembali, Hazelia Lify." Sangat dingin dan misterius.


Kepribadian itu menarik perhatian Whisk, walaupun dia tahu Dia tidak diterima olehnya.


"Tunggu sebentar, Nona. Kita belum berkenalan!" seru Whisk, tidak terima jika belum mengenal kepribadian yang satu itu. Dia pernah melihat kepribadian itu beberapa kali. Pasti dia adalah ahli strategi di dalam kepala Haz.


"Maafkan dia, Tuan Woods. Namanya Qerza. Dia tidak suka jika dia diganggu tanpa kepentingan. Pribadi yang sangat sentimental. Perkenalkan aku Fabella. Pribadi yang dibentuk oleh Haz untuk mengetik dan menulis novel."


Setelah itu, Haz kembali seperti sedia kala. "Kamu sudah melihat alter ego ku. Berniat untuk mengundurkan diri, Detective Whisky Woods?"