
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Haz yang sudah sadar langsung memandangi Pak Putra, Jel, dan Whisk secara bergantian. "Ehem!" Wanita berambut panjang gelombang berdeham kecil, lalu berkata, "Maafkan Haz. Tidak begitu fokus. Bisa tolong diulangi apa yang dikatakan tadi?"
"Papah tanya kepadamu, kapan kamu akan menyelamatkan dua orang yang diculik itu? Apakah kamu tidak berniat menyelamatkan mereka?" tanya Pak Putra.
Haz diam sejenak, kemudian membalas, "Tentu saja Haz ingin menyelamatkan kedua teman Haz, Pah. Yang menjadi masalah adalah Haz tidak tahu dimana mereka berada sekarang. Orang-orang itu, entah kenapa Haz merasa sangat ...." Dia menghentikan perkataannya, mengalihkan pembicaraan. "Haz juga ingin tahu dimana mereka berada sekarang."
"Papah tidak percaya kalau orang ini tidak bisa melacak seseorang dari ponselnya." Pak Putra menepuk bahu Whisk, membuat pria bersurai kemerahan kaget.
Ada kengerian yang merasuk ke dalam relung jiwa Whiak. Entahlah, tapi dia merasa bahwa dia harus berhati-hati terhadap Pak Putra.
"Tidak punya fasilitasnya, Pah. Laptopnya ditinggal olehnya di apartemen. Sedangkan rumah Haz dan Jel, sudah hancur lebur. Kalau mau ke rumah Zenneth juga ada hal yang tidak bisa Haz beritahu dan ada beberapa naskah penting di dalamnya. Dia tidak punya pilihan," kata Haz sambil mengangkat bahunya.
"Kamu kira Papah ini apa?" Pak Putra bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah meja kerja. Dia membuka laci dan mengeluarkan sebuah tas laptop.
Oh astaga ... ASUS ROG STRIX GL502VM! seru Haz di dalam hati. Harganya hm ... mantap dan sedap.
"Ternyata Papah juga gamers!" seru Haz tidak terima. Dia bahkan tak tahu kalau pria paruh baya seperti Pak Putra suka bermain game juga.
"Kok heboh?" tanya Pak Putra. Dia menaikkan sebelah alisnya, terlihat seperti dia merasa bahwa Haz meremehkan pria tua sepertinya.
"Iya dong heboh! Apa saja yang Papa mainkan? Terlebih lagi game multi-player. Ayo, ayo infonya!" Haz seperti penagih hutang saja.
Pak Putra memberikan laptop kepada Whisk dan menjawab pertanyaan Haz, "Papah banyak memainkan game. Tergantung kamu sajalah bermain game seperti apa."
Haz berpikir.
Sementara itu, Jel melihat ke arah monitor laptop. Dia bisa melihat berbagai jenis angka di sana. Beberapa program juga beroperasi. Sepertinya Whisk akan melakukan pelacakan dengan lancar.
Whisk sendiri sangat fokus dengan laptop yang ada di hadapannya. Dia melacak lokasi kecelakaan Cyan dan Zenneth. Lalu, mencari sinyal yang tertinggal di sana. Dia langsung tahu kalau ponsel Cyan serta Zenneth dibuang ke sebuah tempat sampah di dekat sebuah taman.
Whisk melacak tempat pembuangan tersebut. Ada sebuah CCTV di sana. Dia langsung mengecek CCTV tersebut, yang ternyata rusak.
Sial! Pintar juga orang itu, pikir Whisk.
Namun Whisk berhasil mendapatkan sebuah rekaman CCTV yang memperlihatkan plat mobil pelaku, yang lokasinya tak jauh dari taman.
Whisk tahu ilegal jika mengecek dan meng-hack CCTV pribadi, milik seorang warga, tapi dia juga tidak memiliki pilihan lain. Dia hanya ingin mengecek keadaan sekitar.
Whisk menemukan bahwa mobil yang digunakan sama seperti mobil yang mengawasinya ketika berada di dalam sebuah Cafe yang ditemukannya di pinggir jalan. Mobil itu juga digunakan ketika Haz ingin menangkap pelaku yang membunuh Tyas Reddish dan seorang perawat palsu yang menyamar di Rumah Sakit.
"Haz, coba lihat ini." Whisk menginterupsi pembicaraan seru Haz dengan Pak Putra tentang game. Dia tidak memiliki pilihan lain. Mencari pelaku dan segera menemukan Cyan serta Zenneth adalah prioritas saat itu.
"Sebentar, Pah." Haz segera mengalihkan pandangannya ke arah Whisk, kemudian layar laptop. Dia mengangguk dan kembali menatap pria bersurai kemerahan.
"Kita membutuhkan bantuan Polisi Nicholas," kata Haz. Itu mungkin membuat Whisk merasa sedikit tidak senang, tapi mereka tidak memiliki pilihan yang lebih bagus selain Nicholas.
"Kamu benar. Untuk melacak siapa pemilik dari mobil ini, kita membutuhkan bantuan Polisi Nicholas." Meskipun Whisk tidak begitu senang, tapi dia menyetujui saran dari Haz untuk meminta bantuan Nich.
"Sepertinya, ada yang tidak begitu senang ketika mendengar tentang Polisi Nicholas?" Pak Putra hanya menerka-nerka. Namun terkaannya benar, Whisk memang tak begitu senang ketika mendengar nama Nich disebut. Pria bersurai kemerahan tidak memiliki pilihan lain.
"Sepertinya begitu." Jel ikut-ikutan menggoda Whisk.
Dengan santai, Whisk menjawab, "Aku biasa saja."
"Benarkah biasa saja?" Pak Putra menyeringai manis. Sebagai seorang pria, apalagi sudah berumur, dia sangat paham rasanya cemburu.
"Tentu saja." Whisk membalas. Dia terlihat meyakinkan, sehingga Pak Putra hanya bisa menggelengkan kepala dan menghela napas.
"Anak Muda, jangan dipendam rasa cemburu itu. Jikalau kau cemburu, katakan saja kepada wanita itu," kata Pak Putra. Dibumbui beberapa nada, kata-kata itu terdengar seperti lagu. Itu membuat wajah Whisk makin memerah. Kali itu bukan karena kesal, melainkan karena malu.
Haz tidak begitu memperdulikan sekitarnya. Dia sedang mengirim pesan kepada Nich.
Haz: Nich, apakah kamu memiliki waktu luang?
Tidak dibaca. Namun ketika Haz ingin menyimpan ponselnya karena Nich tak kunjung membaca, ponselnya berdering nyaring dan bergetar. Wanita berambut panjang gelombang langsung membuka ponsel. Ada balasan dari Nich.
Nich: Ya? Ada apa?
Haz berpikir, lalu menarikan kedua ibu jarinya di atas keypad ponselnya.
Haz: Aku memiliki permintaan kecil, jika berkenan....Jika tidak, tidak apa-apa.
Haz melihat apa yang diketiknya. Kamu sangat konyol, Hazelia Lify, batinnya sambil terkekeh pelan. Wanita itu menghapus apa yang sudah diketiknya dan mengganti kata-kata itu.
Haz: Apakah kamu bisa mencarikan plat dengan nomor XXX?
Tak lama kemudian, datang balasan.
Nich: Tentu saja bisa, Lady.
Aku tidak yakin Nich tidak akan meminta hal-hal aneh. Dia dan Whisky Woods kan memang aneh, batin Haz.
Benar demikian, selesai Haz membatin seperti itu, Nich bertanya kepadanya.
Nich: Lalu, apa balasanku karena sudah membantumu?
Haz menepuk jidatnya pelan. Dasar manusia. Jika tidak ada balasan, mereka tidak akan bekerja ... tapi, tidak ada yang gratis di dunia ini, pikirnya.
Haz: Apa yang kamu inginkan?
Nich: Kamu yakin ingin aku yang memilih?
Oh ayolah, memang kamu yang memilih. Aku hanya bisa berharap kalau kamu tidak akan memberikan syarat yang aneh saja, batin Haz. Kesabarannya mudah sekali hilang, terutama kepada orang-orang yang dianggapnya menyebalkan.
Haz: Asalkan tidak aneh, aku akan baik-baik saja.
Nich: Menurutmu, apakah kencan tidak resmi itu sesuatu yang aneh?
Oh ... sudah cukup. Memang sangat menyebalkan! seru Haz di dalam hati.