Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
157 : Drama Macam Apa Lagi Ini?


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Sepanjang makan siang mereka, Haz dan Whisk berbincang-bincang. Tidak hanya membahas tentang Nich yang terlihat mencurigakan. Namun juga tentang beberapa hal yang menjadi hobi mereka.


Gemuruh kecil mengganggu perbincangan mengasyikkan mereka. Haz memandangi langit abu-abu gelap. Sepertinya sebentar lagi hujan deras akan turun. Aku harus kembali secepatnya jika tidak ingin terkena hujan, pikir wanita itu.


"Sepertinya kita harus pulang sekarang, Whisk. Aku akan membayar makan siang saat kita sampai di 'rumah'," kata Haz.


Whisk bisa melihat rintik hujan yang perlahan-lahan turun ke bumi, membasahi jalanan beraspal seperti jarum-jarum kecil yang menghantam. Sayang sekali mereka tidak membawa mobil sekarang.


"Aku setuju," balas Whisk. "Untuk makan siangnya, aku yang traktir. Kita akan lomba lari, Haz."


"Kamu akan kalah lomba lari denganku, Whisky Woods," kata Haz sambil menyeringai manis.


"Kita tidak akan tahu jika tidak pernah melihatnya, Haz. Jangan curang ya!"


Haz dan Whisk berjalan dengan santai menuruni anak tangga, tapi saat sampai di luar, tanpa aba-aba, mereka langsung berlari sekencang-kencangnya hingga hujan gerimis tertiup secara horizontal ke arah mereka. Orang-orang yang melihat kelakuan mereka hanya bisa melongo.


"Aku tidak akan kalah darimu, Whisky Woods!" seru Haz ketika melihat Whisk berada sedikit jauh di depannya. Dia menambah Kecepatannya hingga bisa berlari beriringan dengan pria bersurai kemerahan.


"Begini, Haz, aku itu pernah dilatih secara ketat sedari aku kecil. Maka dari itu, kalau kau tidak curang, kau akan kalah," kata Whisk. "Aku duluan ya, Hazelia Lify." Dia sudah jauh dari pandangan Haz tepat setelah selesai mengatakan apa yang ingin dikatakannya.


Kalau begitu, aku tidak memiliki pilihan lain selain berbuat curang, pikir Haz. Kemudian, dia menambah kecepatan untuk menyeimbangi Whisk.


"Halo." Haz menyapa dan melambaikan tangan ke arah Whisk. Dia menyeringai manis. "Kalau tidak lebih cepat dariku, kamu bisa kalah loh! Kamu tidak ingin kalah, kan, Whisky Woods?"


"Kamu curang ya, Haz," kata Whisk.


"Kalau tidak curang, aku tidak akan menang, kan? Aku juga tidak ingin kalah padamu," ungkap Haz.


"Aku akan mengalah padamu, bagaimana?"


"Kenapa tidak sekalian tidak bertanding saja?"


"Kamu juga curang, kan?"


Wajah Haz merona. Memang benar sih aku sedikit curang. Tapi, ya aku tidak curang sampai bagaimana juga ... kenapa dia ingin mengalah hanya karena itu?


"Aku tidak ingin berlomba lagi." Whisk berhenti berlari. Dia tertinggal belasan langkah dari Haz. Dia tersenyum.


"Kenapa?! Apa karena aku curang?!" Haz tentu saja tidak ingin menerima begitu saja. Dia tahu Whisk bukanlah orang yang akan menyerah semudah itu. Pasti ada sesuatu di baliknya.


"Tidak," jawab Whisk.


"Kalau begitu aku juga tidak akan lari lagi. Anggap saja kita impas hari ini." Haz malah berjalan mundur untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Whisk.


Sial sekali, hujan tiba-tiba saja mengguyur dengan deras padahal ingin sampai apartemen mereka sudah tinggal beberapa langkah lagi. Tentu saja Haz langsung berdecak kesal dengan wajah yang super cemberut.


"Gila!" pekik Haz saat dia terkena guyuran hujan.


"Haz." Whisk memanggil Haz dengan lembut. Wanita berambut panjang gelombang langsung melirik ke arahnya. "Aku mencintaimu."


Haz memang tidak bisa mendengar dengan jelas. Namun dia tahu apa yang dikatakan oleh Whisk, melalui gerakan bibirnya. Dia memilih untuk berpura-pura tidak tahu saja dan berteriak, "Apa yang kamu katakan?! Suara hujan mengganggu pendengaranku! Bisakah kamu mengatakannya sekali lagi?!"


"Tidak, tidak ada apa-apa," kata Whisk.


Haz sudah tahu dia akan menjawab seperti itu. Namun entah kenapa ketika dia menolak untuk membahas hal itu, hatinya terasa sedikit terguncang. Kamu tidak boleh terlena dengan pernyataan cinta orang lain. Mungkin ... mungkin dia hanya akan menyakitimu.


Terlihat sekali kalau Haz masih belum bisa melupakan masa lalunya yang memalukan dan menyedihkan saat berpacaran dengan Ric. Dia tidak ingin membuka hati kepada orang lain. Dia hanya tidak ingin menyakiti dirinya sendiri.


"Ah! Rambutku jadi basah!" pekik Haz. Dia sedikit kesal karena rambutnya basah total.


"Tinggal keramas lagi," kata Whisk.


"Justru karena aku malas, maka aku tidak ingin. Aku baru saja keramas tadi pagi," tukas Nana dengan kesal.


"Jadi, kamu ingin seperti apa? Kita tidak bisa mengendalikan hujan. Jika dia ingin turun, maka dia akan turun." Whisk seperti sedang memancing emosi Haz, padahal bukan begitu.


Whisk berpikir sesaat, kemudian ingat kalau Haz memang berkeramas tadi pagi. Dia pun tertawa keras. "Itu masalahmu, Hazelia."


Haz memanyunkan bibirnya dan berdecak kesal. Dia mengaktifkan ponselnya dan banyak pesan pribadi yang masuk dari Nich. Dia tidak langsung membaca pesan pribadi. Dia membuka grup (ingat grup yang beranggotakan tim dari Haz dan Whisk, si Kembar Vinzeliuka dan dua bodyguard mereka, serta Nich?) lebih dulu.


Nich : Aku ingin membuat sebuah pengakuan untuk kalian.


Nich : Aku harap hal ini tidak berpengaruh terhadap kepercayaan kalian.


Nich : Karena aku dari awal sudah memutuskan untuk membantu kalian.


Nich : Maka dari itu, aku tidak akan membuat kalian kecewa.


Nich : Aku bersumpah.


Whisk bersama dengan Haz membaca pesan itu melalui ponsel si wanita. Pria bersurai kemerahan menepuk jidatnya pelan, kemudian berkata kepada Haz, "Jadi, kita benar? Kalau Nich memiliki hubungan dengan keluarga Hassan?"


"Sebelum menyimpulkan itu, Whisky Woods, lebih baik kita membaca pesan pribadi dari Nich," kata Haz.


"Dia masih bisa mengirimi pesan pribadi untukmu?" Whisk terlihat cemburu.


"Daripada kamu bersikap seperti itu, lebih baik kalau kita segera membacanya. Raut wajahmu itu tidak akan membantu, Fanolize Jacqueline Rosewoods." Haz menyebutkan nama asli Whisk.


"Jangan menyebut nama asliku terang-terangan!" Whisk meneriaki Haz. Dia tidak menyukai nama itu, sama sekali tidak!


"Tapi, itu adalah asalmu. Kamu mau tak mau harus menyukainya. Itu adalah resikomu. Aku juga begitu ... tapi, setelah kupikir-pikir ada baiknya menjadi bagian dari mereka." Haz tersenyum manis kepada Whisk.


"Jangan pernah menyebut nama asliku!"


"Pesannya." Haz menunjuk ke arah layar ponselnya.


Haz dan Whisk bersama-sama membaca pesan dari Nich.


Nich : P.


Nich : Hazelia Lify.


Nich : Aku yakin kamu dan teman pintarmu pasti sudah mengetahui keanehan dari diriku.


Nich : Sebenarnya, aku berniat menyembunyikannya.


Nich : Tapi, setelah kupikir-pikir, aku seharusnya jujur kepada kalian.


Nich : Saat aku bertemu kalian di rumah sakit dan menonaktifkan handphone-ku, aku sebenarnya menerima sebuah panggilan mendadak.


Nich : Aku bertemu dengan salah satu anggota Keluarga Hassan.


Nich : Dia adalah pacarku.


Nich : Hakim di Pengadilan.


Nich : Namanya Heyer Putri Andini.


Nich : Nama aslinya Heyer Fransisca Hassan.


Nich : Dia mengaku kepadaku, lalu dia mengatakan kalau aku harus membantu Keluarga Hassan.


Nich : Aku bersumpah, Haz.


Nich : Aku bersumpah kalau aku baru mengetahuinya.


Nich : Aku berkata kepadanya kalau aku memerlukan waktu untuk berpikir. Tapi, aku belum memberikan kepastian sampai sekarang.


Nich : Aku sudah memutuskan kalau aku akan membantu kalian.


Nich : Aku harap kalian bisa memercayaiku.