
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Kamu sama sekali tidak berubah. Masih tetap suka ngemil. Kamu tidak akan pernah berubah, ya?" Rika tertawa ringan ketika mendengarkan perkataan yang terlontar dari bibir Haz. Dia merasa wanita yang satu itu sangat lucu. Terkadang, dia bersikap layaknya anak kecil, terkadang dia bersikap layaknya orang dewasa. Tidak ada yang bisa menebak perubahannya sama sekali. Wanita berambut panjang gelombang terlalu misterius untuk ditebak.
Haz menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Rika. "Aku tidak akan pernah berubah, selamanya. This is the best part of me—Ini adalah bagian terbaik dari diriku. Aku menyukainya."
Pukul 06:10 A.M. WIB, Cyan dan Zenneth terbangun bersamaan ....
"Aduh!" Zenneth mengadu kesakitan sambil memegang lehernya yang pegal. "Astaga, dari jam berapa aku ketiduran? Sudah jam berapa ini?"
Cyan mengucek matanya dan memfokuskan pandangannya. Dia bisa melihat dengan jelas Whisk dan Haz yang sedang sarapan di dalam mobil.
Si kembar Vinzeliulaika sendiri sudah berpindah ke mobil pribadi mereka dari semenjak sepuluh menit yang lalu.
Haz dan Whisk juga sudah berbincang-bincang ringan dengan Thomas Bara, Andrian Delwin, dan juga Nirvana Kenziro. Mereka lebih ramah daripada sebelumnya, untuk Nirvana Kenziro sendiri, dia rasa dirinya tidak akan cocok dengan Whisk.
"Barusan jam enam lewat sepuluh menit pagi. Kami juga sudah membelikan sarapan untuk kalian, kecuali ada yang tidak suka bubur ayam." Haz yang menjawab pertanyaan Zenneth. Dia menyuapkan sesendok bubur vegetarian ke dalam mulutnya. Sepertinya hanya dia sendiri yang bervegetarian di sana.
"Kami akan berpindah tempat dulu," kata Zenneth sambil mengangkat jok tengah dan membuka pintu mobil. Dia turun dari mobil, disusul oleh Cyan.
Cyan lalu membenahi jok tengah kembali seperti semula dan duduk di sana bersama dengan Zenneth.
Haz memberikan sekantong plastik yang berisikan dua wadah bubur transparan kepada Cyan.
"Terima kasih. Beruntung sekali aku sangat ingin makan bubur," kata Cyan.
"Sama-sama. Aku hanya menebak-nebak saja. Manusia menyebalkan ini yang menyarankan untuk membeli bubur pada akhirnya. Aku tidak makan daging," ujar Haz.
"Tentu saja, kamu kan vegetarian. Tidak mungkin kamu ingin makan sesuatu seperti itu," celetuk Zenneth.
"Terkadang aku juga memakannya, tapi kebanyakan tidak. Aku ini sudah dilatih sejak kecil untuk makan sayur. Aku ini sudah menjadi herbivora, seekor sapi." Haz terkekeh geli melihat bibir manyun Zenneth yang sedang mengejeknya karena mendengar perkataannya.
"Apakah kalian membelikan minuman? Aku sangat haus," kata Cyan.
"Hanya ada air tahu. Apakah kamu suka?" tanya Haz.
"Tentu saja. Aku bahkan diam-diam membeli air tahu di persimpangan jalan dekat kolam renang sana. Jika ada orang melihatku, mereka akan tercengang dan aku akan menjadi topik pembicaraan orang-orang." Cyan tertawa keras sambil menerima sebotol air tahu dari tangan Haz.
"Aku tidak menyangka bahwa seseorang sepertimu ternyata suka pada foods/beverages street juga. Tidak perlu ditutup-tutupi sebenarnya, dengan orang-orang tahu bahwa kamu menyukai hal seperti itu, mereka bisa merekomendasikan tempat-tempat yang bagus untukmu," kata Haz.
"Oh ternyata rekan-rekan mu sudah bangun, Tuan Woods," kata Andrian. "Nona Riko bertanya apakah ada tempat aman yang bisa dijadikan tempat berkumpul bersama untuk sementara atau tidak. Akan sangat berbahaya jika terlalu mengekpresikan apa yang ingin kita lakukan secara terang-terangan di depan pelaku."
"Tentu saja ada. Kalian boleh memakai tempatku untuk tempat berkumpul kalian," ujar Cyan di sela-sela kunyahan bubur.
"Habiskan dulu makanan yang ada di dalam mulutmu baru berbicara!" bentak Zenneth. Dia paling tidak suka melihat orang berbicara sambil mengunyah. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika apa yang ada di dalam mulut orang itu berterbangan kemana-mana.
"Tentu saja, ibu negara. Akan kulakukan," kata Cyan setelah dia menelan buburnya.
Zenneth hanya menghela napas sebagai jawaban.
"Sesuai perkataan Cyan, kita akan menggunakan tempatnya sebagai tempat berkumpul bersama untuk sementara waktu. Untuk lokasinya akan ku kirimkan melalui pesan saja. Terima kasih karena sudah bertanya, Andrian." Haz tersenyum pada Andrian.
"Sama-sama, Nona Hazelia. Saya sangat ingin mendengar tentang diri Anda lagi. Cerita itu sangat menarik dan bagus." Andrian tersenyum balik kepada Haz. "Baiklah, saya akan pergi mengabari Nona Rika dan Nona Riko tentang hal ini. Semoga sarapan Anda menyenangkan." Pria itu langsung pergi menjauh dari mobil mereka.
Mobil Whisk dan si kembar Vinzeliulaika terparkir berjauhan. Ini dimaksudkan agar tidak ada yang curiga bahwa mereka sedang bekerja sama.
"Perkiraan ku benar. Si kembar Vinzeliulaika bukan orang jahatnya. Aku tidak tahu siapa, Hazelia. Tapi, aku rasa kamu sudah pernah bertemu dengan penjahatnya. Kamu lupa siapa tepatnya. Dia adalah orang yang tidak mencurigakan sama sekali dan dia bisa berkeliaran bebas di sekitar Richard Vinzeliuka," kata Zenneth. Dia ingin memberikan titik terang kepada Haz dan berusaha untuk membuat wanita berambut panjang gelombang mengingat kembali siapa yang pernah ditemuinya. Baik itu disengaja maupun tidak.
Yang pernah kami temui saat pertama kali aku datang ke Indonesia dan tidak sengaja bertemu dengan Richard Vinzeliuka adalah wanita glamor yang memanggil dengan sebutan menjijikan kepadanya. Tapi, aku tidak yakin itu adalah dia. Lebih baik simpan saja dan tunggu aksi selanjutnya, batin Whisk.
"Apakah kamu memiliki clue, Whisk?" tanya Haz.
Whisk tersadar dari lamunannya, menatap ke arah Haz, dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada. Bukti yang kita temukan sudah banyak. Tapi, tidak ada yang bisa membuktikan siapa pelakunya," kata pria bersurai kemerahan. Dia memainkan wadah bubur yang sudah kosong.
"Oh iya!" seru Haz sambil menepuk jidatnya pelan. "Aku belum membawa botol kaca racun untuk diautopsi di laboratorium! Oh astaga betapa bodohnya aku."
"Tapi, bagaimana caranya botol kaca racun itu bisa berada di tempat sampah milik si kembar Vinzeliulaika?" tanya Zenneth penasaran.
"Mereka tidak tahu sama sekali. Tapi, mereka berdua tahu bahwa aku akan datang ke rumah mereka untuk memastikan sesuatu. Itu sebabnya dia menempatkan Andrian bersama dengan Whisk dan yang lainnya. Thomas Bara ditempatkan di rumahnya sendiri. Tapi, itu semua hanya untuk melindungi mereka sendiri. Mereka mungkin sama sekali tidak menyadari bahwa botol kaca racun itu telah ditaruh di tempat sampah rumah mereka." Haz menjelaskan prosedurnya.
"Coba jelaskan denah cctv kepadaku," kata Zenneth.
Haz langsung terdiam dan menatap balik ke arah Zenneth. Mereka berdua saling bertatapan dalam diam, seolah seperti melakukan telepati—pembicaraan dari hati ke hati.
Apakah ada pengkhianatan lain di dalam kasus rumit ini?