Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
73 : Semakin Rumit dengan Kemungkinan yang Semakin Banyak


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Pukul 05:05 A.M. WIB, di mobil yang dikemudikan oleh Whisky Woods ....


Cyan memejamkan matanya. Dia merasa sangat mengantuk. Dia biasanya tidur di jam-jam seperti itu. Karena gedung kasino miliknya akan tutup pukul 6 pagi. Dia juga merasa sangat bosan. Haz dan Whisk tidak pulang sedari tadi. Entah apa yang mereka berdua lakukan di dalam rumah sakit, pria itu juga tidak ingin mengetahuinya. Dia hanya berharap mereka baik-baik saja dan cepat kembali—seperti harapan Zenneth.


Cyan mengalihkan pandangannya yang sudah buram ke arah Zenneth. Bisa terlihat olehnya bahwa Zenneth juga sedang memejamkan matanya. Mungkin wanita itu juga mengantuk dan merasa sangat bosan.


Cyan kembali memejamkan matanya dan tertidur beberapa saat kemudian.


Cyan dan Zenneth tertidur dalam keheningan di dalam mobil—meskipun di luar sana masih sangat ribut.


Kembali lagi ke ruang keamanan rumah sakit ....


"Jadi, kalian jadi melihat cctv atau tidak?" tanya petugas yang berjaga di dalam ruang keamanan. Dia terlihat tidak sabar dan terdengar tidak ramah. "Jika kalian tidak jadi melihat cctv, tolong segera keluar dari ruangan. Jangan mengganggu pekerjaan saya."


"Saya adalah seorang detektif internasional." Whisk memperlihatkan tanda pengenal detektif internasional miliknya kepada petugas yang berjaga di ruang keamanan rumah sakit. "Saya dan rekan-rekan saya ingin mengetahui apakah cctv saat pukul dua sampai empat pagi ada yang mati atau tidak."


Sebenarnya pertanyaan Whisk sungguh konyol, tapi menurutnya hal itu perlu dipertanyakan. Barangkali petugas yang berjaga adalah petugas yang berbeda. Jika memang petugas yang berbeda, maka dia perlu memastikannya lagi. Itu akan sedikit membuang waktu, namun itu hal itu lebih bagus. Dia, Haz, dan si kembar Vinzeliulaika bisa mendapatkan beberapa informasi akurat.


"Aku tidak tahu. Yang berjaga di tempat ini sebelumnya adalah rekan saya. Apakah Anda memiliki kepentingan bertanya seperti ini?" tanya petugas.


Seperti yang diharapkan oleh Whisk, petugas yang berjaga bukanlah petugas yang sama. Pria bersurai kemerahan pun bertanya, "Apakah Anda berkenan jika saya meminta untuk memutar rekaman cctv dari jam dua hingga jam empat pagi? Kami benar-benar membutuhkan sesuatu dari rekaman cctv ini."


"Pukul dua sampai empat pagi ya?"


Beruntung sekali petugas menyetujui permintaan Whisk dan langsung memutar rekaman cctv dari pukul 02:00 hingga pukul 04:00 pagi.


Sesuai dugaan Haz dan Whisk, ada bagian cctv yang menggelap di sekitar pukul 02:55 pagi. Berarti sekitar hampir pukul 03:00 pagi. Saat itu yang terakhir kali dilihat oleh Haz dan Whisk adalah seorang dokter yang keluar dari kamar pasien yang ditempati oleh Tyas Reddish. Itu juga sekitar pukul 02:30. Tapi, bisa saja dokter itu membunuh Tyas Reddish, kemudian cctv yang mati ini mengalihkan perhatian orang-orang.


"Kita mengenal dokter itu," kata Whisk, memecahkan lamunan Haz. "Kamu ingat saat Tyas Reddish dilarikan ke rumah sakit? Dokter itu yang membantu memperban dan melakukan operasi terhadap patah tulang yang dialami oleh Tyas Reddish. Mari kesampingkan dia terlebih dulu."


"Baiklah, mari kita kesampingkan dia terlebih dulu. Bolehkah dipercepat rekamannya hingga empat kali?" Haz bertanya kepada petugas setelah mengiyakan pernyataan dari Whisk.


"Tentu saja."


Petugas mempercepat rekaman hingga empat kali sampai cctv kembali menyala dan menunjukkan bahwa Haz sedang berlari-lari di lorong rumah sakit, disusul oleh Whisk setelahnya.


"Bingo!" Haz menunjuk ke arah layar monitor dan tersenyum. "Apakah boleh diperbesar sedikit?"


Petugas itu tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti keinginan Haz. Dia pun memperbesar layar.


Di layar tampaklah seorang wanita yang sedang dicari oleh Haz dan Whisk. Seorang perawat wanita yang memakai identitas Yuni Erika. Haz dan Whisk saling berpandangan, lalu menganggukkan kepala. Mereka butuh sesuatu yang lebih dari itu.


"Bolehkah melanjutkan pemutaran?" pinta Whisk.


Haz dan Whisk menatap layar monitor lekat-lekat. Namun Yuni Erika palsu tak kunjung keluar dari ruangan. Setelah itu tidak ada lagi yang masuk ataupun keluar dari ruang ganti perawat.


"Apakah kamu menemukan sesuatu Haz?" tanya Whisk kepada Haz.


Haz menggelengkan kepalanya. Sayangnya, dia juga tidak menemukan apa-apa, termasuk tanda keberadaan Yuni Erika palsu. Entah kenapa ada perasaan yang sangat kuat, menarik dirinya dan menyuruhnya untuk pergi ke ruang ganti perawat wanita. Dia menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Jika saja Whisk tidak menyadarkannya, dia sudah melukai bibirnya.


"Tenanglah Hazelia Lify. Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu bisa melukai dirimu sendiri," kata Whisk, menyadarkan Haz dari lamunannya.


Haz yang tersadar pun langsung menatap ke arah Whisk dan si kembar Vinzeliulaika secara bergantian. Dia menghela napas panjang dan berkata, "Aku ingin menyelidiki kamar ganti perawat wanita. Tapi, aku tidak yakin pihak rumah sakit akan memberikan izin akan hal ini. Aku curiga sekali dengan kamar ganti itu."


"Kami berdua bisa mengurusnya. Kamu lupa? Saham rumah sakit di sini sepertiganya merupakan milik Vinze's Group. Kami adalah nona Vinze. Ingin mengecek setiap sudut rumah sakit sangat mudah," kata Rika.


Riko menganggukkan kepalanya dengan mata yang tak lepas dari layar ponselnya dan kedua jari jempol yang melayang-layang di atas keypad. Dia sedang mengirim pesan ke seseorang dan tak lama kemudian datang balasan ke dalam ponselnya.


"Saya baru tahu Anda berdua adalah nona-nona dari Vinze's Group. Salam kenal," kata petugas. Dia terhenyak ketika mendengar pernyataan dari Rika tentang siapa dia dan saudari kembarnya.


"Salam kenal juga, pak petugas." Rika menyapa balik dan tersenyum singkat kepada petugas.


"Sudah boleh. Sekarang kita hanya perlu memperlihatkan ini ke bagian resepsionis," kata Riko sambil menggoyang-goyangkan layar ponselnya yang memperlihatkan sebuah surat yang telah discan dan dikirimkan melalui email.


"Kalau begitu kami permisi dulu, pak petugas. Semoga hari Anda menyenangkan," sapa Whisk.


Petugas hanya mengangguk dan kembali fokus pada pekerjaannya.


"Kenapa tiba-tiba kamu ingin pergi ke kamar ganti para perawat wanita, Dede Haz?" tanya Riko.


"Aku merasakan keanehan. Asumsinya hanya ada dua: Jika Yuni Erika palsu tidak dibunuh oleh seseorang, maka kemungkinan lainnya dia telah kabur dari sana. Aku ingin melihat kemungkinan kaburnya seperti apa jika dia benar-benar kabur."