
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Tidak ada yang kuinginkan, Zenneth. Aku baru saja naik ke lantai empat dan kebetulan bertemu denganmu," jawab Whisk.
"Aku bertemu dengan Hazelia beberapa saat yang lalu. Jika kamu ingin pergi menemuinya, dia ada di dua lantai atas sekarang, mungkin saja," kata Zenneth.
"Aku baru saja bertemu dengan seseorang. Entah Haz masih mengingatnya atau tidak, aku akan bertanya padanya jika kami bertemu nanti," ujar Whisk.
"Siapa yang kamu temui?" tanya Zenneth dengan tatapan menginterogasi. Dia ingin tahu apa yang belum dia ketahui.
"Entahlah. Aku juga tidak begitu jelas. Aku pernah melihatnya sekali saja. Yang jelas dia adalah seorang perempuan seapartemen denganku dan Haz," jawab Whisk. "Dia sedikit mencurigakan."
Lebih baik tidak memberitahukan kepada Zenneth tentang Iris. Aku harus mencari Haz terlebih dulu. Jika tidak, dia akan meledak dan mengatai ku bodoh lagi, batin Whisk.
"Baiklah. Aku mengerti." Zenneth menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti. Untung saja wanita itu tidak curiga dengan apa yang dikatakan oleh Whisk. "Aku akan bertanya pada Hazelia sendiri nanti."
Whisk menghela napas lega, lalu dia berkata, "Baiklah. Aku akan pergi ke lantai selanjutnya. Semoga harimu menyenangkan, Zenneth."
"Semoga harimu menyenangkan juga, Whisky Woods," balas Zenneth.
Whisk kembali berjalan di antara kerumunan orang-orang, menghilang dari pandangan Zenneth.
Apakah wanita yang dimaksud oleh Whisk memiliki hubungan khusus dengan Richard Vinzeliuka atau si kembar Vinzeliulaika? tanya Zenneth di dalam hati, berusaha mencari jawaban. Nihil. Dia tidak bisa memunculkan jawaban yang pasti di dalam pikirannya.
Aku tidak perlu bersusah-payah mencari jawabannya. Aku akan bertanya kepada Hazelia saja, pikir Zenneth.
Zenneth pun melangkahkan kaki dan masuk ke butik lain. Dia akan menghabiskan waktunya seharian penuh untuk mencari beberapa setelan yang cocok dipakai oleh Haz dan dirinya sendiri.
Aku berharap ada model baju yang bagus untuk Hazelia dan berwarna sedikit gelap, mengingat dia suka sekali melakukan eksplorasi, kata Zenneth di dalam hati.
Di ujung mata, Zenneth bisa melihat sebuah setelan yang cocok dengan apa yang dideskripsikan dan diinginkan olehnya. Dia langsung menoleh ke arah setelan itu dan tersenyum ceria.
Itu dia yang ku butuhkan! Terima kasih karena sudah menampakkan dirimu sendiri, setelan manis.
Di tempat Hazelia Lify ....
Bulu kuduk Haz langsung berdiri ketika dia menaiki eskalator yang akan membawanya ke lantai 6. Dia langsung memutar kepalanya ke kiri-kanan, tidak menemukan apa pun. Wanita berambut panjang gelombang membenarkan pandangannya lagi dan eskalator hampir sampai.
Aku memiliki firasat yang tidak begitu baik tentang diriku sendiri. Zenneth ... apa yang sedang direncanakan oleh perempuan itu? tanya Haz di dalam hati. Dia langsung mengingat tentang Zenneth saat bulu kuduknya berdiri. Dia merasa bahwa Zenneth akan membelikannya setelan baju yang macam-macam.
Abaikan saja. Mungkin ini hanya perasaanku, batin Haz. Perasaan yang sangat nyata dan benar adanya.
Haz melanjutkan eksplorasi nya kembali di lantai 6, sama seperti di 2 lantai sebelumnya. Meskipun tidak sampai masuk ke satu per satu toko, tapi dia tetap bisa merasakan apakah ada orang yang sedang mengikutinya atau tidak karena instingnya kuat.
Saat Haz berada di depan Timezone, dia menangkap tangan seseorang yang akan menepuk pundaknya. Dia langsung menoleh ke arah pemilik tangan, yang ternyata adalah Whisk.
"Kamu seperti penguntit, Whisky Woods. Untung saja dari kejadian Tyas Reddish aku belajar menahan diri untuk tidak membanting seseorang ke lantai," kata Haz.
Haz melepaskan cengkraman tangannya dari pergelangan tangan Whisk.
"Apakah kamu benar-benar berniat membanting ku?" tanya Whisk sambil menaik-turunkan kedua alisnya secara bersamaan.
"Kamu kejam sekali, Hazelia Lify," kata Whisk. Dia memasang wajah cemberut, ingin bercanda dengan Haz. Namun sepertinya dia salah waktu, sehingga dia berdeham keras dan mengembalikan ekspresi wajahnya ke semula.
"Jadi, apa hal yang ingin kamu sampaikan, Whisky Woods? Aku yakin tidak hanya sekedar "say hello", kan?" tanya Haz.
Haz sudah seperti cenayang saja. Dia bisa memperkirakan suatu hal dengan ... ya ... sekitar 80% tepat sasaran.
"Terkadang aku bertanya-tanya Hazelia ... apakah kamu benar-benar bukan seorang cen-"
"Langsung ke intinya saja, Whisk. Entah kenapa sekarang suasana hatiku aneh dan kurang baik. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan tidak penting," potong Haz.
"Menurutku ini hal penting ...."
Whisk langsung mendapatkan deathglare dari Haz. Dia pun menyerah dan berkata, "Baiklah. Baiklah. Aku memang ingin menemui dirimu tidak sekedar hanya untuk "say hello" saja. Aku baru saja bertemu seseorang. Jika kau ingat perempuan yang dijemput oleh Tuan Muda Vinzeliuka di apartemen saat itu."
"Aku juga baru saja bertemu dengannya. Semenjak itu, perasaanku menjadi sangat buruk dan tidak terkendali," ujar Haz.
"Aku juga demikian. Namun perasaanku lebih ke arah aneh," ucap Whisk.
"Apa pun itu, yang jelas, sangat membuat kita tidak nyaman. Aku jadi memiliki suspek terhadap wanita yang berada di satu apartemen dengan kita," kata Haz.
"Benar sekali. Ada sesuatu yang aneh darinya. Aku tidak bisa menjelaskan itu apa," ujar Whisk.
Haz dan Whisk pun tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, mencari tahu apa yang salah dengan perasaan mereka ketika bertemu Iris.
"Tidak ada jawaban yang bisa kutemukan." Haz berkata pada akhirnya. Dia menatap ke arah Whisk yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Kita akan memikirkan ini setelah bersenang-senang, Hazelia. Hari masih sangat panjang. Hari esok juga masih ada. Jangan membebani pikiran dulu," kata Whisk.
"Kamu benar," ujar Haz, membenarkan perkataan Whisk.
Selesai berkata-kata, Haz dan Whisk langsung didekati oleh seorang yang berseragam security.
Security itu berhenti tepat di depan Haz dan Whisk, lalu berkata, "Maafkan atas ketidaksopanan saya. Tapi, Mas dan Mbak ini adalah area yang harus memakai masker."
Haz sampai lupa keadaan darurat: Masih masa pandemi dan dia dengan santainya tidak memakai masker. Untung saja dia membawa masker di dalam saku celananya.
"Maafkan kami, Pak. Kami akan segera memakai masker," kata Haz. Dia memakaikan masker ke wajahnya dan mengalihkan pandangannya ke arah Whisk. Ternyata pria itu juga membawanya, untung saja.
"Sekali lagi, kami minta maaf, Pak," ujar Haz.
"Tidak apa-apa, yang penting lain kali Mas dan Mbaknya tidak lupa lagi," kekeh security.
Security itu pun pergi meninggalkan Haz dan Whisk setelah tugasnya untuk mengingatkan mereka berdua selesai.
"Tapi, banyak sekali orang-orang yang tidak memakai masker," bisik Whisk kepada Haz.
Untung saja Bapak Satpam itu baik, memberitahu kami tentang hal ini, jika tidak mungkin akan terpapar virus? Aku harus segera mengirim pesan pada Zenneth. Dasar anak muda, sementang masih muda malah lupa tentang protokol kesehatan, batin Haz, merasa malu pada diri sendiri yang merupakan "dokter" atau lebih tepatnya "mantan dokter" yang ditunjuk langsung oleh pemerintah.
"Mereka hanya akan menambah jumlah pasien di rumah sakit. Semakin banyak pasien, semakin banyak pula keuntungan yang bisa diperoleh pihak rumah sakit. Tidak hanya pihak rumah sakit, begitu pula dengan pihak sosial, penjual kafan, penjual peti mati, dan segala hal yang berhubungan dengan kepergian seseorang. Jika sudah bosan hidup, terserang penyakit ini adalah cara yang paling efektif dan tidak menyakitkan. Menunggu tujuh sampai empat belas hari dan bye bye."