
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Haz: Aku tak jadi meminta bantuan kalau begitu.
Haz langsung menarik pesan dimana dia mengetikan nomor plat mobil yang dilihatnya dari CCTV. Dia tak begitu senang dengan yang namanya kencan. Apalagi kencan buta. Mengingat dulunya dia pernah dikhianati oleh Ric, dia tentu saja tak mau hal itu terulang kembali. Terutama dengan orang yang baru saja dikenalnya.
Ada pesan masuk dari Nich.
Nich: Loh.. Aku tidak tahu kamu tidak menyukai pembahasan seperti ini. Aku minta maaf. Bagaimana kalau kamu mentraktir makan siang saja? Itu tidak aneh kan?
Haz sudah terlanjur marah. Dia tidak lagi membalas pesan tersebut setelah membacanya. Satu kebiasaan buruk wanita berambut panjang gelombang adalah dirinya mudah sekali tersulut emosi. Hal sekecil apa pun jika tidak sesuai dengan suasana hatinya, dia tidak akan senang.
Saat ponsel Haz berbunyi pun, dia tidak melihatnya sama sekali.
Mungkin karena Haz tak membalas pesan Nich sama sekali, ponselnya berdering nyaring karena ada telepon masuk, yang tak lain adalah dari Nich. Wanita berambut panjang gelombang merasa risih dan langsung mengaktifkan mode pesawat. Dia benar-benar tidak nyaman.
Whisk yang tahu Haz tak senang pun menepuk-nepuk kepalanya. "Tidak apa-apa. Aku akan meminta temanku untuk mencarikan plat mobil itu," katanya menenangkan Haz.
Whisk tahu Nich pasti mengatakan hal-hal yang tak disukai oleh Haz. Maka dari itu, wanita berambut panjang gelombang marah dan merasa tidak nyaman.
Haz menepis tangan Whisk dari kepalanya. "Aku tidak apa-apa."
Bohong sekali Haz mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa. Wajahnya saja sudah menunjukkan bahwa dia tidak senang akan satu hal.
Whisk menatap ke arah Pak Putra dan menghela napas panjang. Dia terkadang ingin menyerah menghadapi seorang Hazelia Lify. Kadang dia harus menggunakan logika untuk menghadapi wanita berambut panjang gelombang, kadang dia harus menggunakan perasaan, kadang juga dia harus menggunakan intuisi dan instingnya.
"Bagaimana kalau kita ke bawah saja? Akan lebih baik jika kalian memesan makanan, bukankah begitu?" tanya Pak Putra.
Jel setuju dengan Pak Putra, walau dia tak mengatakannya. Dia pun berada di dalam keadaan tak baik-baik saja. Dia juga mengerti mengapa Haz tidak pernah curhat tentang masalahnya. Haz cukup tahu Jel juga banyak masalah.
"Aku juga ingin makan," kata Haz. Dia juga setuju dengan usulan Pak Putra. Makan dapat meningkatkan hormon kebahagiaan. Meski hanya sementara, tapi sangat efektif selama beberapa saat.
Sebelum itu, Pak Putra mendapatkan sebuah telepon dari anaknya, Leo. Dia pun mengangkatnya.
"Pah, sepertinya kak Haz akan mendapatkan masalah besar .... Orang, maksud Leo laki-laki yang tadi disiram kak Haz, datang membawa beberapa orang," kata Leo berbisik.
Pak Putra mengalihkan pandangannya ke arah Haz dan membalas, "Papah mengerti. Kamu bilang ke mereka kalau kakakmu yang satu itu sudah pergi dari tadi."
"Oke, Pah," kata Leo dari seberang sana.
Setelah itu, Pak Putra menutup telepon dari Leo. Dia menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Masalah itu cukup membuat Pak Putra sakit kepala. Orang-orang yang mengelilingi Haz tidak pernah berakhir baik hubungannya dengannya.
"Hazelia Lify, lebih baik kamu di sini saja, atau kamu harus keluar dari sini secepat mungkin lewat jendela," kata Pak Putra. Dia tidak menjawab pertanyaan Haz dengan jelas. Namun Haz tahu kalau Pak Putra sedang menyelamatkan dirinya dari sesuatu yang pasti tak akan disukainya.
Haz tidak puas dengan jawaban dari Pak Putra. Wajahnya cemberut. Dia tentu tahu bahwa ada hal yang tak bisa dipaksakan. Tapi, dia tak berharap kalau Pak Putra tak memberitahunya.
"Hah ... nanti saat semuanya selesai Papah akan memberitahu. Bagaimana?"
Tentu saja pernyataan itu masih membuat Haz merasa tidak puas. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi saat itu.
"Tidak mau!"
Haz itu keras kepala. Jika tidak ada pernyataan yang jelas, dia tidak akan mundur. Itu membuat Pak Putra menghela napas frustasi.
"Karena Paman tidak ingin mengatakannya. Pasti berhubungan dengan dirimu, juga kebaikanmu. Lebih baik ikuti arahan Paman saja. Kamu juga jangan terlalu banyak menuntut, Haz," kata Whisk.
Haz memandangi Whisk dengan wajah cemberut. Dia pun tahu dia tak boleh banyak menuntut. Bagaimana pun juga, Pak Putra adalah orang yang lebih tua darinya. Dia tidak memiliki hak untuk memaksa.
"Bagaimana kalau kita pergi sesuai ucapan Papah saja? Mungkin ini berhubungan dengan Alkaf. Aku juga sedang tak ingin bersama dengannya," bujuk Jel.
Haz mulai melunak. Dia paling tidak tahan dengan bujukan orang. Apalagi kalau wajah orang itu sudah memelas. Dia itu paling tidak bisa berpikir ketika ada orang yang memelas. Hatinya terlalu rapuh untuk melihat hal seperti itu.
Haz pun menganggukkan kepala. Dia menatap Pak Putra, kemudian mengajak Jel dan Whisk untuk kabur lewat jendela.
"Kamu gila?" tanya Jel ketika mengetahui ide Haz untuk kabur lewat jendela.
Oh ayolah ... jendela itu berada di lantai tiga. Tinggi dari satu lantai adalah empat meter. Paling tidak, mereka harus melompat dari ketinggian delapan atau sembilan meter ke bawah sana.
"Sejak kapan seorang Hazelia Lify tidak gila?" Haz bertanya balik kepada Jel. "Tapi, kalian tenang saja. Aku sudah tahu bagaimana cara turunnya. Kalian tenang saja. Soal mobilmu, kamu tinggal saja satu malam di sini. Besok akan diambil lagi."
"Tidak masalah," balas Jel.
"Ikut aku," kata Haz kepada Jel dan Whisk.
Jel dan Whisk mengikuti Haz. Mereka percaya kepada wanita berambut panjang gelombang. Haz sudah terampil di bidang seperti itu, dia juga sudah membuktikannya. Saat memiliki masalah dengan James Stetson di Rumah Sakit saat itu.
Bicara soal James dan Milla, mereka pulang tanpa mengabari saat Whisk sehat dan sudah boleh keluar dari Rumah Sakit. Mereka itu ... datang tak diundang, pulang tak diantar. (Sudah seperti 'sesuatu' saja).
Haz bisa memaklumi hal itu. Banyak orang di luar sana yang mengancam keselamatan James dan Milla. Apalagi ketika mereka berkutat dengan kegiatan di 'kegelapan'. Dunia itu aneh, Whisk yang seorang detektif bisa dekat dengan orang seperti itu meski bukannya jarang ditemui, tapi juga harus ekstra berhati-hati. Melihat dari hubungan Whisk dan kedua orang itu, wanita berambut panjang gelombang bisa menilai bahwa mereka sudah mempercayai satu sama lain.
Jangan pikirkan hal lain dulu. Sekarang fokus untuk kabur dan fokus untuk mencari Cyan, Zenneth! seru Haz di dalam hati.