Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
110 : Percakapan Haz dan Waikit


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Saya dengar kari kalian di sini enak. Saya mau pesan kari ayamnya, lalu ada peyek kan ya?" Haz bertanya dan langsung disambut anggukkan kepala Pelayan sebagai jawabannya. "Saya pesan sebungkus. Em ...." Otaknya berputar-putar dan melihat ke sana-sini apa saja yang dipesan oleh Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba, lalu melanjutkan, "Sama kopi susu satu."


"Baik, Non."


"Sekalian sama pesanan belakang aja ya, Kak. Oh ya, ini bill nya udah dicatat belum?" tanya Haz memastikan.


"Makasih udah ngingatin, Non. Iya, saya belum catat karena banyak pesanannya," jawab Pelayan terkekeh.


"Ya sudah, sekalian aja semua ya, Kak," kata Haz.


Untung saja Pelayan itu bekerja secara baik. Dia langsung mencatat pesanan Whisk dan Wraith Tentara Bayaran Kuba terlebih dulu, lalu beralih mencatat apa saja yang dipesan oleh Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba. Pelayan langsung melangkah pergi dari meja Haz dan Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba.


"Bagaimana kalian tahu aku ada di sini?" tanya Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba, tidak begitu tertarik sebenarnya.


"Cukup mudah. Karena kamu adalah seorang ahli laboratorium, kamu jadi menyukai bau-bau yang khas dan menyengat, seperti rempah-rempah." Haz pandai mengubah cara bicaranya, menyesuaikannya dengan orang yang sedang berbincang dengannya.


"Nona Resplendent Nephila, kamu memang ahli dalam cari-mencari orang ya. Padahal rekanku yang satu itu saja tidak bisa menemukan diriku. Padahal dia pandai menemukan bom dan ranjau yang terpasang di suatu tempat." Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba tidak melihat ke arah Haz sama sekali. Dia fokus sekali dengan makanan yang ada di hadapannya. Wanita berambut panjang gelombang juga akan berbuat demikian, jika dia sedang tidak mood sambil makan.


"Bedakan seorang Psikolog dengan Tentara, Tuan. Aku tidak mengerti kenapa kamu menyamakan kedua profesi itu, padahal kamu juga seorang Dokter," kata Haz.


Akhirnya Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Haz. Dia terdiam selama beberapa saat, lalu berucap, "Aku tidak menyamakan mereka."


"Aku sengaja mengatakannya, meskipun kamu ingin makan banyak, kamu juga tidak bisa langsung menghabiskannya. Aku tahu kamu lapar dan perasaanmu sedang buruk," kata Haz.


Haz terlihat berusaha mengikat hubungan secara emosional dengan Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba. Itu yang dilakukan wanita berambut panjang gelombang ke semua orang. Baginya, ikatan emosional itu penting dalam kesan pertama. Meskipun tidak semua orang bisa menciptakan ikatan emosional di kesan pertama mereka.


"Kamu sangat berusaha," kata Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba. "Maaf, tapi, aku tidak tertarik."


"Aku tidak sedang berusaha. Aku memang begini, walau sangat temperamental dan galak." Haz tertawa ringan sebagai tanda bahwa dia juga tidak begitu tertarik dengan siapa yang sedang berada di hadapannya. Namun, dia tidak tahan untuk tidak penasaran, seperti lawan bicaranya.


"Tapi, aku penasaran denganmu. Sebagai seorang Ahli Psikis, apakah kamu pernah mengalami kesulitan? Maksudku, Ahli Psikis yang bisa dengan tepat mengenali seseorang, karakternya, ataupun ya ... seperti cenayang lah," tanya Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba.


"Tentu saja, dalam beberapa hal, instingku tidak bisa dipercayai sama sekali. Aku bahkan tidak bisa menyebutkan persentase ketepatan yang pasti. Aku hanya mengandalkan keberuntungan saja. Tidak sehebat yang diekspektasikan," jawab Haz.


"Lalu bagaimana denganmu?" Haz berbalik tanya kepada Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba. "Sebagai seorang Dokter dan Ahli Laboratorium, apakah ada orang yang tidak bisa kamu selamatkan atau ada sesuatu yang tidak bisa kamu teliti?"


Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba terdiam sesaat, lalu menjawab, "Tentu saja. Tidak ada manusia yang sempurna. Kita familiar dengan kata 'Homo sapiens', kan? Kata itu mendeskripsikan keadaan manusia saat ini dan memiliki arti, 'manusia yang bijak'. Sekitar lima puluh tahun yang lalu, mereka berevolusi, muncul dan membudayakan zaman batu, terutama pada zaman batu tua. Mereka berjalan dengan dua kaki, memiliki bahasanya sendiri―yang diwariskan sampai zaman sekarang―dan mereka menggunakan tangan, menggunakan alat. Oleh karena itu, mereka disebut sebagai 'orang bijak'. Tapi, seperti yang kita tahu, bahkan Homo sapiens pun sebenarnya termasuk juga ke dalam makhluk paling tidak berakal sehat di dunia, dalam beberapa kondisi psikologis tentu saja."


Haz diam, mendengarkan penjelasan Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba sampai habis. Wanita berambut panjang gelombang bisa menarik kesimpulan bahwa lawan bicaranya sangat menyukai sejarah tentang 'Manusia dan Peradabannya'. Itu hanya kesimpulan yang impulsif saja. Kenyataannya, dia tidak tahu sama sekali.


"Apa yang kamu pikirkan tentangku setelah mendengarkan penjelasan itu?" tanya Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba.


"Aku yakin, kamu menyukai sejarah," jawab Haz. Dia terdengar tidak ragu, tapi, sebenarnya dia ragu.


"Aku tidak menyukai sejarah tentang manusia. Aku hanya mengutip kata-kata itu melalui tulisan-tulisan salah seorang filsuf pada zaman Yunani Kuno."


Setelah beberapa saat, akhirnya Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba mulai sedikit terbuka terhadap Haz. Haz juga memiliki pesonanya sendiri untuk membuat orang lain merasa nyaman kepadanya.


"Kamu tentu saja tahu juga tentang sejarah manusia, bukankah begitu?" tanya Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba. Dia mendapatkan anggukan kepala dari Haz.


Sebelum masuk ke dalam topik selanjutnya, yang Haz yakini adalah sebuah pertanyaan, Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba berkata, "Oh ya, perkenalkan, nama asliku Waikit. Dan, pria di sana, rekanku bernama Yudel. Aku mengatakan ini karena aku percaya padamu."


"Salam kenal, Tuan Waikit. Tentu saja, aku tidak akan mengkhianati kepercayaan orang," ujar Haz sambil tersenyum tipis.


"Mari kita kembali ke topik yang sempat tertunda karena nama." Wraith Dokter dan Ahli Laboratorium Kuba yang bernama Waikit itu terdengar tidak sabaran. "Karena kamu juga membaca buku tentang sejarah manusia, apa pendapatmu soal Homo ludens?"


"Buku karya Johan Huizinga? Homo ludens ... sebuah konsep yang memahami bahwa manusia merupakan seorang pemain yang memainkan permainan. Aku percaya bahwa konsep itu akan berakhir mencari kesenangan dalam sebuah permainan. Sama seperti sebuah komik Korea, dimana Komikus menjebak karakter yang dibuatnya dalam sebuah permainan rumit, memberi mereka―karakter komiknya―julukan Homo ludens. Homo ludens sendiri bukan nama bagi satu makhluk, tapi nama dari satu fenomena peradaban kebudayaan yang tercipta oleh kaum Homininae dari Homo erectus dan Homo ergaster sampai Homo sapiens."


"Aku suka pernyataan yang kamu berikan, Nona Kecil."