Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
149 : Romantisme


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Setelah acara kunjungan untuk Ric ....


"Entah kenapa aku merasakan kalau ide itu tidak akan berjalan terlalu mulus," kata Haz.


"Tidak ada rencana yang benar-benar mulus di dunia ini, Haz. Mungkin untuk beberapa dari itu, ya ... selebihnya buruk sekali," balas Whisk.


"Ya, mungkin kamu benar." Haz menyetujui pernyataan dari Whisk.


Haz dan Whisk berjalan bersebelahan di lorong Rumah Sakit yang cukup lebar.


Langkah Haz langsung berhenti. Dia disergap perasaan buruk tentang Cyan dan Zenneth. Mereka sudah terlalu lama hilang dan belum diketahui keberadaannya.


"Haz, apakah kamu baik-baik saja?" Whisk bertanya saat menyadari kalau Haz berdiri mematung selama beberapa saat. Tertinggal beberapa langkah dari pria bersurai kemerahan.


"Aku baik-baik saja, aku hanya khawatir tentang Cyan dan Zenneth. Aku berharap bisa cepat menemukan mereka berdua," jawab Haz.


Whisk mengerti akan kerisauan Haz. Jika sahabatnya mengalami hal yang sama, mungkin dia akan bersikap demikian.


Seandainya Whisk dapat membantu, dia ingin sekali bisa membantu Haz menyelesaikan permasalahan hingga wanita berambut panjang gelombang tidak akan banyak pikiran.


"Atau, kamu ingin aku membantu tentang hal itu?" tanya Whisk, memberikan usulan.


"Membantu?" Haz menatap heran ke arah Whisk. Dia berharap Whisk tidak menyebutkan usulan yang aneh-aneh.


"Aku pernah berada dalam satuan Pasukan Khusus saat wajib militer karena kemampuanku. Aku bisa mengikuti mereka tanpa ketahuan. Tapi, jika kamu menginginkannya tentu saja," kata Whisk. Dia terdengar ragu. Mungkin karena takut Haz menolaknya.


"Kamu ragu, Whisk," balas Haz. Dia menggelengkan kepala sebagai tanda tidak menyetujui dan ingin usulan yang lebih baik.


"Aku bukannya ragu, Haz. Aku ragu mengatakannya karena kamu akan menolak," kata Whisk.


"Dengar, Whisk. Aku belum mengatakan apa pun. Aku juga baru mendengar usulanmu. Jika kamu memiliki usulan, kenapa harus ragu akan penolakan dari orang lain?"


Terlihat sekali kalau Haz tidak suka pernyataan yang diberikan oleh Whisk. Apalagi memang dia belum mendengar apa yang diusulkan oleh Whisk. Menyimpulkan sesuatu secara sepihak membuat orang miskomunikasi.


"Aku yang salah. Aku selalu bersikap defensif."


Haz menghela napas. Dia tidak terlalu suka berdebat dengan orang lain. Alih-alih menyalahkan orang, dia akan selalu menyalahkan dirinya sendiri terlebih dulu. Dan, itu membuat Whisk merasa semakin tak nyaman.


"Tidak, aku yang salah. Seharusnya aku mengatakan usulan itu tanpa meragukan hal yang tidak penting."


Entahlah, tapi setiap kali seseorang beradu dan berebut kesalahan dengan Haz, wanita berambut panjang gelombang selalu kesal dan membatasi dirinya. Dia tidak suka seseorang 'menjadi seperti dirinya'.


"Jadi, kamu akan menerima usulan itu atau tidak?" tanya Whisk. Dia tidak ingin urusan itu menjadi panjang. Dia juga tahu Haz bukanlah orang yang suka memperpanjang dan memperumit sebuah masalah.


"Lakukan yang terbaik. Aku ingin melihat Zenneth."


Haz itu sudah 'sick' semenjak Zenneth diculik. Sepertinya dia membutuhkan sahabatnya kembali secepat mungkin.


"Aku akan mengusahakan yang terbaik, Haz. Aku akan menemukan Zenneth."


Whisk menepuk kepala Haz untuk menenangkan wanita itu.


Entah kenapa setiap kali Whisk menepuk kepalanya, Haz selalu merasa nyaman. Rasanya aneh sekali, dadanya bergemuruh kecil. Luluh, mungkin.


"Terima kasih kalau begitu," kata Haz.


Hari cepat berlalu dan malam pun tiba ....


Sepanjang siang tadi, tidak banyak yang dilakukan oleh dua insan yang saling berdiam-diaman di ruang kerja.


Haz membaca data sampai tertidur. Sedangkan Whisk, pria itu tenggelam dalam dunianya sendiri.


Whisk masih setia dengan pikirannya ketika Haz terbangun dari tidurnya.


Leher Haz sakit lantaran posisi tidurnya yang kurang menguntungkan.


Haz mengucek matanya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Whisk. Dia bisa melihat tatapan mata Whisk yang kosong. Bahkan untuk berkedip saja pria bersurai kemerahan tidak melakukannya. Jika harus jujur, aura di sekitar Whisk terlihat sangat menyeramkan. Seakan-akan bisa membunuh seseorang.


Haz keluar dari ruang kerja dan sepertinya Whisk tidak menyadarinya. Wanita berambut panjang gelombang berjalan menuju ke arah dapur.


Kira-kira apa yang sedang dipikirkan oleh Whisk? pikir Haz. Dia penasaran, tapi juga tidak berani untuk bertanya langsung kepada Whisk. Dia saja menganggap kalau Whisk sangatlah menyeramkan saat itu.


Haz membuat dua cangkir teh panas untuk dirinya sendiri juga untuk Whisk. Traumanya akan dapur karena Ric masih bersisa. Jadi, wanita itu memutuskan untuk tidak memasak makan malam dan membuat kekacauan yang berlebihan. Menurutnya, kekacauan akibat Keluarga Hassan dan penculikan Zenneth sudah cukup. Dia tidak ingin membuat kekacauan lain dengan tidak sengaja membakar sebuah apartemen lantaran kecerobohannya sendiri.


Aku harus membiasakan dan melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu. Lagipula, itu karena kebodohanku sendiri, pikir Haz. Dia menghela napas panjang dan berbalik. Dia ingin mengambil gula.


Alangkah kagetnya Haz saat mengetahui kalau Whisk ada di belakangnya bagai hantu. Tanpa suara apa pun.


"Whisky Woods!" Haz berteriak marah. Dia mengelus dadanya dan menghapus air yang belum sempat jatuh dari matanya. Jika saja itu bukan Whisk, dia akan langsung menghajar tanpa ampun.


"Maafkan aku, apakah aku mengagetkanmu?" tanya Whisk cemas.


"Menurutmu?!" Haz memelototi Whisk. Dia hampir saja terkena serangan jantung mendadak.


"Maafkan aku."


Whisk memeluk Haz. Dia merasa amat bersalah. Namun sebenarnya, Haz lebih kaget saat mengetahui kalau Whisk bisa berada di belakangnya tanpa suara apa pun.


Apa karena dia pernah berada di Pasukan Khusus? Mereka harus bekerja dalam kegelapan, tidak boleh bersuara, tidak boleh ketahuan sama sekali, batin Haz.


"Kenapa jadi kamu yang begini? Harusnya ini bagianku!" seru Haz.


Haz membalas pelukan Whisk. Dia merasa kalau Whisk sangat lembut dan manja. Dia juga merasa lega karena Whisk itu tulus.


Whisk menatap Haz penuh arti. Wajahnya semakin dekat.


Ini tidak bagus, batin Haz.


Jika saja Haz tidak menghentikan Whisk, mungkin akan terjadi 'hal-hal yang diinginkan'?


"Ah! Kita masih punya pekerjaan untuk diselesaikan. Whisk, tolong buatkan makan malam ya!"


Haz melepaskan diri dari Whisk. Dia buru-buru menaruh gula ke dalam teh dan langsung pergi dari dapur.


Whisk kecewa. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. Kultur budaya di negaranya dan negara Haz itu berbeda seratus delapan puluh derajat dan dia bisa memakluminya.


Mungkin aku terkesan terlalu buru-buru, batin Whisk.


Whisk mengembuskan napas dan melakukan apa yang disuruh oleh Haz. Dia tahu kenapa Haz masih belum bisa berada lama-lama di dapur. Dia hanya berharap kalau trauma yang dialami Haz segera berlalu.