Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
106 : Untitled


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Orang itu ... bagaimana dia bisa melakukannya juga? Sial ku lah! Qerza berdecak kesal.


"Qerza? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Haz.


"Aku tentu saja tidak baik-baik saja. Kalian lihat itu? Bagaimana caranya dia bisa mendapatkan kemampuan Guru juga? Murid terakhir Guru adalah kita." Qerza, melalui tubuh Haz, melipat kedua tangan di depan dada.


"Lebih tepatnya, kamu." Haz membenarkan ucapan Qerza. "Ding dong ... waktu kamu habis. Mari kita bertukar lagi."


Haz kembali lagi dan menatap ke arah Whisk. "Aku belum menguji botol kaca yang meracuni Ric. Sekarang, aku akan mengirim mereka ke kenalanku bersama dengan benda ini." Dia berkata secara tiba-tiba dan mencabut jarum suntik yang tertancap di dinding.


Materialnya sangat keras sampai bisa menancap ke dinding seperti ini. Untung saja tadi Whisk tidak kena. Aku rasa lehernya pasti akan ada satu bolongan kecil setelahnya, pikir Haz.


"Em ... bagaimana dengan mereka bertiga?" tanya Whisk.


Haz menatap ke arah teman Nich, Cyan, dan Zenneth secara bergantian. Dia mengambil ponsel dan mencoba menelepon Nich.


"Maaf panggilan yang Anda tuju berada di luar jangkauan. Cobalah untuk beberapa saat lagi."


Sepertinya Nich menonaktifkan ponselnya. Atau, si polisi lupa mengecas ponsel hingga baterainya habis. Apa pun itu, perasaan Haz tidak begitu bagus.


"Tidak mungkin Polisi Nicholas kehabisan baterai. Atau, dia sengaja mengubah mode ponselnya ke mode pesawat," kata Fabel.


"Perasaanku tidak begitu bagus," balas Haz.


"Kamu menelepon Nich?" tanya Whisk. "Oh iya, mobilku masih ada di parkiran Shopping Mall."


Haz menepuk jidatnya pelan. "Kita benar-benar gila. Ya sudah, pindahkan mereka ke kamar sebelah dulu."


"Kenapa kamu tidak mengejar orang itu?" tanya Whisk.


"Dikejar pun tidak akan berguna. Aku tahu dia pasti akan menyamar menjadi orang biasa. Sebelum keluar dari rumah sakit, aku ingin memeriksa setiap tempat sampah di sini," jawab Haz panjang lebar.


"Untuk apa?" Whisk menatap Haz bingung.


"Berpikirlah di luar kotak, Whisk. Dia yakin aku akan mengejarnya, nyatanya tidak. Dia pasti membuang hoodie yang dipakainya di salah satu tong sampah rumah sakit. Dia memakai baju berwarna hijau gelap." Haz mendekat ke arah jendela. Dia bisa melihat ada seseorang memakai topi putih dan baju berwarna hijau gelap.


Whisk ikut-ikutan mengintip keluar dan terhenyak. "Bagaimana kamu bisa tahu?"


"Kamu adalah Detektif Internasional, masa tidak teliti? Coba ingat-ingat lagi." Haz menggelengkan kepalanya, lebih tidak percaya pada Whisk yang disematkan gelar Detektif Internasional, tapi, tidak teliti.


Benar. Orang itu memakai baju berwarna hijau tua. Bagaimana bisa aku tidak teliti? Hah ... memalukan. Whisky Woods, oh, Whisky Woods ... sepertinya cinta telah membuatmu menjadi bodoh, pikir Whisk.


"Ya sudah. Cepat pindahkan mereka!" perintah Haz. Dia membuka dan menahan pintu rahasia untuk Whisk.


"Baiklah, Nona Hazelia Lify. Akan kulakukan."


Beberapa saat kemudian, setelah Hazelia Lify dan Whisky Woods sudah memindahkan teman Nich, Cyan Vilmasyah, dan Zenneth ....


"Hah ... ternyata mereka cukup berat ya. Terutama polisi itu. Padahal dia terlihat tidak lebih gendut dari kamu," kata Whisk, yang langsung mendapatkan tatapan galak dari Haz.


"Apa kamu bilang? Aku? Gendut?" Haz meradang. Padahal dilihat pun sebenarnya dia memang mirip ikan buntal.


"Maafkan aku. Tapi, aku harus berkata jujur. Kamu memang miri-"


"Tutup mulutmu, Tuan Woods. Jika kamu tidak ingin jarum suntik ini mengenai leher indah mu." Haz menyeringai manis layaknya seorang psikopat.


"Glek!" Whisk yang melihat itu langsung menelan ludah kasar, terdiam, terkekeh gugup, dan memohon ampun. "Jangan lukai leher indah ku ini ya, Haz? Please ...."


Dia sangat menyeramkan jika marah atau tidak suka akan sesuatu, batin Whisk. Sepertinya aku harus lebih berhati-hati jika tidak ingin terjadi suatu hal yang buruk pada diri sendiri ....


"Ayo pergi. Aku juga membaca botol kaca ini." Haz dengan hati-hati mengambil botol kaca berukuran mini dan menaruhnya kembali ke sakunya bersama dengan jarum suntik milik orang misterius.


"Hati-hati dengan tusukannya. Kita tidak tahu cairan apa yang ada di dalamnya. Jika itu racun, akan sangat berbahaya." Whisk memperingatkan.


"Terima kasih sudah mengingatkan. Ayo pergi. Biarkan mereka tidur dalam ketenangan dan kedamaian."


"Hei! Perhatikan ucapan mu. Jika di bahasa Inggris kan, ia akan menjadi 'Rest in Peace'. Kamu tidak mau kedua sahabatmu ini meninggalkan dirimu lebih dulu, kan?"


Haz terdiam. Ada benarnya juga. Astaga Hazelia Lify, mulutmu benar-benar .... Dia merutuki mulutnya sendiri.


"Kamu benar. Maaf, guys. Aku tidak bermaksud mengatakannya."