
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Sesaat sebelumnya, di tempat Whisky Woods, Liulaika Jelkesya, dan Alkaf Houka ....
Whisk ingin sekali membalas pesan dari Haz. Namun dia tidak bisa melakukannya. Dia sedang mendengarkan ceramah panjang dari Alkaf. Sebenarnya, dia tidak ingin mendengarkan apa pun yang dapat membuatnya mengantuk. Salah satunya adalah hal yang bernama ceramah.
Whisk terus melirik ke arah ponselnya ketika Alkaf sedang tidak memperhatikan. Dan, selalu mengembalikan perhatiannya ke Alkaf sedetik setelah dia melirik ponsel. Dia merasa sangat gelisah.
Alih-alih takut kepada Alkaf yang akan memergokinya karena tidak memfokuskan perhatian ke arahnya, Whisk lebih takut dengan Haz yang akan ngambek dan mengacangi dirinya, baik dari chat maupun secara langsung.
Whisk tahu bagaimana rasanya jika Haz sudah mengacangi seseorang. Sangat tidak enak rasanya. Apalagi ketika Haz ngambek, dia bisa ngambek berlarut-larut. Tanpa mengenal waktu. Maka dari itu, pria bersurai kemerahan lebih takut kepada lawan jenisnya itu ketimbang dengan Alkaf.
Kegelisahan Whisk semakin menjadi ketika dia melihat panggilan masuk di layar ponselnya. Dan, itu dari Haz. Dia ingin mengangkatnya, tapi Alkaf masih saja meneruskan bicaranya. Pria itu merasa tidak enak jika harus menyela Seniornya.
Whisk sengaja mematikan nada dering ataupun getaran di ponselnya. Dia melakukannya untuk ... katakanlah untuk menghargai Alkaf. Jika saja pria bersurai kemerahan bukan orang yang memiliki hati, sedari tadi dia pasti sudah menyela omongan Alkaf untuk mengangkat telepon dari Haz.
Jel melirik ke arah Whisk dan ke arah ponselnya. Dia tahu Whisk ingin sekali mengangkat telepon dari orang bernama 'Ibu Negara', yang dia yakini sebagai Haz itu. Namun keadaannya sangat tidak mendukung karena Alkaf sedari tadi memperhatikannya.
Ocehan Alkaf terus berlanjut sampai layar ponsel Whisk mati. Karena tidak tahan, Jel pun berinisiatif untuk menghentikan Alkaf.
"Maaf menyela, aku akan pergi ke kamar mandi dulu." Jel pun berlalu dari meja itu.
Begitupun dengan Whisk. Karena dia sudah diberi ruang untuk pergi dan menelepon Haz, dia juga langsung meminta izin kepada Alkaf. "Maaf, Senior. Aku punya hal penting yang harus ku selesaikan." Pria bersurai kemerahan menunjukkan satu panggilan tak terjawab dari 'Ibu Negara'.
Tanpa diberitahu pun, Alkaf seharusnya tahu kalau 'Ibu Negara' yang dimaksudkan dalam layar ponsel Whisk adalah Haz.
Whisk pun ikut-ikutan berlalu dari meja itu. Tinggallah Alkaf seorang diri di sana.
Whisk pergi ke luar Cafe. Di halaman Cafe, dia melihat ke arah mobil dan langsung menelepon balik.
"Maaf, Senior Alkaf tidak berhenti mengoceh sedari tadi. Sebagai formalitas, aku harus mendengar sampai habis," kata Whisk. Dia masih melirik ke arah mobil, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan lurus ke depan.
"Tidak masalah. Aku hanya ingin bertanya," ujar Haz dari seberang sana dan Whisk tahu dia marah. "Apakah kamu menemukan keanehan terhadap Jelkesya?"
Whisk terlihat berpikir sesaat. "Keanehan? Ada," jawabnya dengan sangat meyakinkan. "Dia terlihat sangat gelisah. Yang paling penting adalah, sedari tadi aku bersamanya dan berbicara, dia tidak memegang android-nya sama sekali. Aku curiga kalau android-nya sudah diambil."
"Informasi itu belum cukup untuk menganalisis dimana Alkaf meletakkan alat pelacak, Whisk. Aku butuh informasi seperti apakah kunci mobil Jel pernah diambil atau tidak, atau apakah ada kartu-kartu identitas disita oleh Alkaf," kata Haz dari seberang sana.
Whisk menghela napas panjang. Itu pasti akan sangat sulit dilakukan. Apalagi Alkaf sedang bersama dengan mereka. Dia tidak mungkin terang-terangan bertanya kepada Jelkesya tentang apakah Alkaf menyita barang-barangnya. Dan, barang-barang apa saja yang disita Alkaf.
"Untuk masalah itu, takutnya aku tak bisa membantu, Haz. Kecuali kal-"
"Diam, Whisk! Alkaf ada di belakangmu."
Sepertinya Alkaf curiga dengan percakapan antara Haz dan Whisk di telepon.
Awalnya, Whisk tidak bisa memikirkan apa pun di dalam kepalanya. Namun dia teringat dengan perkataannya sendiri yang mengatakan bahwa Haz sedang memiliki urusan.
Whisk pun langsung mengalihkan topik pembicaraan dengan Haz. Dia bertanya, "Oh, apa? Kamu mau waktu diundur sampai jam sebelas malam?"
Whisk sedikit lega akan kebohongan yang dibuatnya beberapa saat yang lalu. Dia jelas-jelas tahu kalau Haz ada di dalam mobil, tapi dia malah memberitahu Alkaf bahwa Haz ada urusan. Keadaan itu didukung dengan Jel yang tidak memperhatikan ketika Whisk membuka kunci mobil dan menganggap bahwa Haz benar-benar pergi sehingga dia tidak mengatakan apa-apa. Whisk sangat terbantu karena kebohongan yang dibuat oleh dirinya sendiri.
"Whisky Woods, kamu tahu aku sedang sibuk. Waikit dan Yudel baru saja menelepon dan memberikan kabar tentang perkembangan yang mereka dapatkan. Aku tidak mungkin melewatkan hal itu," balas Haz.
Whisk tersenyum
"Apakah sampelnya tidak bisa diambil besok saja? Kamu juga belum makan malam. Aku bahkan sudah makan hampir tiga mangkuk mi dan dua gelas kopi susu," ujar Whisk dengan nada sedikit kecewa. Dia tentu saja tidak ingin Haz marah berlarut-larut kepada orang-orang. Memang Haz menunjukkan kemarahannya, tapi itu hanya akan menurunkan kesehatan fisik dan mentalnya.
"Akan ku usahakan secepatnya, Whisk," balas Haz.
Belum sempat Whisk menjawab, Haz sudah lebih dulu mematikan teleponnya. Pria itu hanya bisa menghela napas panjang―walau dia yang memulai drama itu, entah kenapa dia merasa kecewa.
Whisk berbalik dan menemukan Alkaf. Dia langsung refleks kaget. Tentu saja hal itu dibuat-buat olehnya.
"Senior?" tanya Whisk ngeri.
Entah kenapa Alkaf terlihat sangat mencurigakan di mata Whisk. Walau dia membuat drama dan menjalankan aksinya dengan mulus, dia masih merasa bahwa Alkaf itu tidak wajar. Untuk apa pria berkacamata itu mengikuti dirinya? Sepertinya bukan hanya untuk menguping pembicaraannya saja.
Alkaf dan Whisk ada di posisi saling curiga saat itu.
Apa motif yang tersembunyi di dalam pikiran Alkaf, Whisk sama sekali tidak bisa menebaknya. Entahlah? Mungkin Alkaf akan menikamnya dari belakang?
"Senior?" Whisk memanggil Alkaf sekali lagi. Dia bahkan melambaikan tangannya di depan wajah Alkaf.
Alkaf yang tersadar langsung bertanya balik dengan ketus, "Apa?"
Whisk menatap tak percaya kepada Alkaf sebelum meninggalkannya. Pria bersurai kemerahan kembali ke mejanya bertepatan dengan Jel yang kembali juga.
Whisk berbisik pada Jel, "Pacarmu aneh."
"Dia sering begitu." Jel berbisik balik.
Kemudian, Jel dan Whisk diam. Whisk fokus dengan ponselnya, sedangkan Jel hanya diam dan mengaduk-aduk susu di gelas yang masih penuh.
Whisk: Senior Alkaf aneh.