
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Tring!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Jel. Itu dari Alkaf.
Setelah dinasehati panjang lebar oleh Haz, dia menjadi mempunyai keyakinan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jel tentang rencana keluar untuk makan malam berdua. Bisa disebut sebagai rencana jahat yang sempurna, karena Jel sudah memutuskan untuk menamparnya. Juga bisa disebut sebagai kencan, karena itu candlelight dinner. Sebenarnya Haz yang mengatakan kepada Jel untuk memilih candlelight dinner, menurutnya itu lebih romantis juga suasana ricuh yang hanya ditemani cahaya lilin tidak akan menarik perhatian orang-orang jika saja Jel benar-benar akan menampar Alkaf.
~
Alkaf: Baiklah. Malam ini bukan?
~
Jel yang membacanya langsung bersemangat dan membalas pesan dari Alkaf tersebut.
Lihat dia... Hanya sebuah pesan singkat saja wajahnya sudah tersenyum dan airmatanya berhenti mengalir, kekeh Haz melihat kekonyolan sahabatnya.
~
Jel: Ya. Jangan memaksakan diri jika kamu tidak ingin... Aku merasa bersalah akan hal itu.
Alkaf: Aku tidak memaksakan diri. Aku akan menunggu sore hari tiba.
Alkaf: Sampai jumpa sore nanti.👋
Jel: Sampai jumpa sore nanti.👋❤️
~
"Sudah?" tanya Haz singkat.
Jel mengangguk senang. "Sudah!" jawabnya. Wajah ceria berserinya langsung tampak di sana.
Haz hanya bisa menggelengkan kepalanya, terkekeh pelan, dan berkata, "Baguslah jika begitu."
Tring!
Sebuah balasan dari Whisk masuk ke ponsel Haz.
~
Whisk: Baiklah. Aku akan memberitahu Andrian soal itu.
Haz: Baiklah. Sampai jumpa nanti.👋
Whisk: Sampai jumpa nanti juga, Hazelia.😘👋
~
Haz me-non-aktifkan ponselnya dan mulai menikmati sarapan pagi itu.
Sore harinya...
Pukul 06:35 PM,
"Kamu tidak ikut makan malam dengan kami, Haz?" tanya Jel. Wanita itu tengah mendandani dirinya dengan bedak dan lipgloss. Mereka tengah berada di kamar Haz.
Haz juga melakukan hal yang sama seperti Jel, dia tengah mendandani dirinya sendiri. Namun, berbeda dengan Jel, Haz memakai bb cream dan foundation untuk menciptakan freckles di wajah putihnya. Dia juga sudah menyediakan kacamata tanpa minus. Wanita itu menguncir rambut panjang bergelombangnya.
"Cantik," gumam Jel.
"Imut," balas Haz yang mendengar gumaman Jel.
"Kamu tuh yang imut. Bikin gemes tahu tidak?" ujar Jel.
"Ah... Sementang aku tembem! Aku juga tak berharap memiliki pipi seperti ini," sanggah Haz.
"Karena itu aku sering mencubit pipimu," kekeh Jel merasa tak bersalah.
"Ya. Pipiku melar seperti keju mozarella yang dipanaskan jika kamu berkelanjutan melakukan hal tersebut," ucap Haz kesal.
"Aku akan terus melakukannya jika saja kamu tidak memarahiku jika aku mencubit pipimu," Jel menggembungkan pipinya jengkel.
"Tentu saja. Aku harus menjaganya agar tidak tambah melar tahu!?" seru Haz.
"Baiklah. Baiklah. Aku paham," kata Jel sambil menggulirkan bola matanya malas.
Kedua sahabat itu saling menatap satu sama lain, lalu tertawa terbahak-bahak, "Hahaha!"
Tring!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Jel. Seperti biasa, itu dari Alkaf. Alkaf bertanya apakah Jel sudah selesai.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Semoga harimu menyenangkan, Hazelia. Jangan lupa jika itu adalah kencan, kamu harus memberiku PEJE. PEJE!" seru Jel mengejek dan seketika langsung menghilang dari balik dinding kamar Haz sebelumnya wanita bersurai panjang gelombang membalas ejekannya.
Haz hanya bisa menggeleng kepala pasrah dengan kelakuan Jel.
Tak lama kemudian, sebuah pesan singkat juga masuk ke ponsel Haz. Itu dari Rael.
~
Haz: Tidak masalah. Aku juga selesai. Kalian sedang menunggu di parkiran bukan?
Rael: Iya. Kami tengah menunggumu di parkiran. Cepat datang ya!😉
~
Haz segera mematikan layar ponselnya dan memasukkan benda tersebut ke dalam tas selempangnya. Dia memakai sweater biru yang terbuat dari katun dan celana jeans pendek serta flat shoes yang senada dengan bajunya.
Ketika Haz membuka pintu apartemennya, dia langsung dihadapkan dengan seorang pria berbadan kekar. Wanita itu tahu siapa pria tersebut.
Dia adalah Thomas Bara, seorang pembunuh bayaran yang pernah ditangkap oleh Whisk. Entah apa mau pria tersebut hingga berani sekali dia datang ke hadapan Haz. Wanita itu merasakan firasat yang sangat buruk.
Oh no... Ini tidak baik! Apa yang diinginkan oleh pria ini!? tanya Haz dalam hati.
Tanpa berpikir panjang, Haz langsung membanting pintu apartemennya. Untung saja Bara tak sempat mendobrak pintu tersebut karena Haz selangkah di depannya. Wanita cerdik itu menahan pintu apartemen menggunakan rak kayu tempat sepatu. Dia tak tahu seberapa lama rak itu akan menahan dobrakan monster di depan sana, namun dia yakin sekali akan memberinya waktu cukup banyak untuk sampai di parkiran.
Haz segera menelepon Rael.
Tut...
Tet...
"Halo, Haz?" Suara Rael lebih halus daripada yang dibayangkan oleh Haz. Dia merasa pernah mendengarnya di suatu tempat, namun dia lupa dimana tepatnya. Tapi, bukan itu yang harus dipikirkannya sekarang! Di depan sana ada seseorang yang berusaha mendobrak masuk ke dalam. Haz tidak tahu akan jadi apa dia jika Bara berhasil masuk ke dalam apartemennya.
"Rael... Begini... Katakan kepada Andrian dan Whisk untuk pergi terlebih dahulu tanpaku. Aku memiliki urusan mendadak. Hanya sebentar, tidak akan lama. Aku akan pergi memakai taksi saja jika urusanku sudah selesai," kata Haz.
"Hmp!! Hmpp!!!" Terdengar suara aneh dari seberang sana. Seperti... Ada orang yang mulutnya diperban. Haz mulai curiga terhadap Rael yang ada di telefon.
"Aku bisa mengatakan kepada Andrian dan Whisk untuk menunggu jika kamu menginginkannya," balas wanita di seberang telefon.
"Tak apa. Ini tidak akan lama. Kalian pergilah terlebih dulu. Aku akan menyusul," kata Haz.
Haz merasa ada sesuatu yang tidak beres terjadi di parkiran. Dia memutuskan untuk keluar dari balkon kamarnya dan berpindah ke balkon apartemen Whisk. Meski kamar Whisk hanya berjarak beberapa ruang dari kamarnya, itu memerlukan waktu yang cukup lama. Haz ingat jika balkon kamar Whisk tak pernah dikunci—pernah, namun jarang. Hanya itu satu-satunya cara yang terlintas di pikiran Haz.
Haz menutup pintu balkon kamarnya pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara bising. Sepertinya pintu apartemennya sudah tidak dapat menahan dobrakan sama sekali. Sudah terdengar suara sepatu jatuh dari depan sana.
Aku harap aku bisa melakukannya tepat waktu, batin Haz panik. Waktu yang ku miliki hanya sekitar satu setengah menit. Sedangkan untuk mencapai balkon apartemen Whisk membutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga menit, Haz menganalisis segalanya. Tidak ada waktu berpikir, Hazelia Lify! Jika kamu ingin selamat, maka kamu harus melakukan ini!
Haz melompat ke balkon seberang sana. Hampir saja dia terjatuh ke bawah, namun hal tersebut bisa dia atasi karena dia pernah belajar parkour. Astaga... Jika saja aku tak pernah belajar parkour, aku tak tahu lagi aku akan selamat atau tidak! seru Haz jengkel dalam hati.
Haz melakukan hal mengerikan itu lagi sampai dia mendarat tepat di balkon kamar Whisk. Seperti dugaannya, pintu balkon kamar pria bersurai kemerahan tidak dikunci, memudahkan dirinya untuk masuk dan bersembunyi di dalam. Dia mengunci pintu balkon apartemen Whisk dan menutupnya memakai tirai. Wanita itu mengintip ke seberang sana—balkon kamarnya—, terlihat Bara yang menggeram dan menampakkan ekspresi marah karena kehilangan buruannya.
Itu hampir saja! Aku berharap aku dan dia tak pernah bertemu lagi. Juga, apa-apaan suara aneh yang terdengar olehku saat berbicara dengan Rael di dalam telefon? tanya Haz bingung.
"Aku tidak menyangka seorang wanita dewasa sepertimu sebegitu inginnya makan malam denganku sampai harus masuk ke dalam kamarku di apartemen, Hazelia Lify," bisik suara parau seorang pria. Itu Whisk! Dia tidak berada di parkiran seperti yang dikatakan Rael!
Haz langsung memutar kepalanya ke belakang. Refleks, karena penasaran siapa yang tengah berbicara dengannya. Jika itu adalah Whisk, maka yang Rael maksud di parkiran adalah Whisk yang mana?
Itu adalah Whisk asli. Dada bidang dan perut ala roti sobeknya tertampang jelas di sana. Dia hanya menggunakan celana boxer pendek dan surai kemerahannya masih basah, tanda dia baru saja keluar dari kamar mandi.
Haz langsung memutar balik kepalanya. Wajahnya memerah, memanas, menatap Whisk yang berpenampilan seperti itu. Oh astaga Haz! Itu Whisk! Whisky Woods yang asli! Tapi, mengapa dia ada di apartemennya sendiri!? Bukankah Rael mengatakan kepadaku bahwa pria menyebalkan ini tengah bersamanya di parkiran? batin Haz bingung.
"A... Akuuu... Sepertiny-aaa ada kesalahpahaman di antara kita, Whisky Woods. Aku akan menunggumu di ruang tamu. Aku akan menceritakan apa yang baru saja kualami hingga aku terpaksa harus masuk ke dalam apartemenmu tanpa tahu pemiliknya berada di dalam!" kata Haz gagap.
Saat Haz ingin pergi dari sana, pergelangannya ditarik dan dirinya masuk ke dalam dekapan pria itu.
Deg! Deg! Deg!
Haz bisa mendengar detak jantungnya yang berpacu sangat kencang.
"Moodku sangat buruk sekarang, Hazelia Lify. Aku baru saja bangun dari tidurku dan lebih buruknya lagi aku memimpikan dirimu," bisik Whisk halus di telinga Haz.
Sudah tak bisa dibayangkan lagi wajah Haz yang merona, seperti kepiting rebus atau tomat matang, sangat merah. "Buk- Bukannn... seperti itu, Whisk... Bersiaplah terlebih dulu... Aku akan menceritakan mengapa aku terpaksa masuk ke apartemenmu!" seru Haz gugup.
Haz menaruh kedua telapak tangannya di dada bidang Whisk, berusaha mendorong pria itu.
"Bukan seperti itu? Lalu seperti apa, Hazelia Lify?" tanya Whisk. Pria itu semakin mengeratkan dekapannya.
Haz terdiam. Otaknya mulai crash dan tak bisa memikirkan hal apa yang harus dikatakannya kepada Whisk agar pria itu melepaskannya.
Whisk sendiri? Tentu saja dia hanya bermain-main. Mengingat Haz adalah orang yang sulit sekali diluluhkan, ide jahil mulai muncul di kepalanya. Apalagi seorang Hazelia Lify tertangkap basah tengah memaksa masuk ke dalam kamar seorang pria karena tahu pintu balkonnya tak pernah dikunci(?) Pria bersurai kemerahan tahu Haz tidak akan melakukan hal tersebut jika tidak terpaksa.
"Mengapa diam, Hazelia Lify?" tanya Whisk halus. Wajah pria itu semakin dekat dengan wajah Haz. Bahkan hidungnya sudah berani menyentuh hidung wanita tersebut!
Haz sendiri masih terdiam seribu bahasa, mematung, dengan wajah meronanya dan pikiran kacau yang sudah tak dapat dijelaskan.
"Tidak adakah kata-kata yang ingin kamu sampaikan?" tanya Whisk lagi. Dia senang sekali melihat ekspresi lucu wajah Haz yang terdiam seribu bahasa.
Tut...
Sebuah panggilan dari Andrian masuk ke ponselnya.
"Sayang sekali aku harus mengakhiri ini. Bersihkan pikiran kotormu itu, Haz. Maaf, aku hanya menggodamu," Whisk melepas dekapannya dan mencium kening Haz, lalu pergi mengangkat ponselnya yang terus berdering.
Haz jatuh terduduk di tepi ranjang Whisk. Wajah merahnya sudah tak dapat dijelaskan. Whisky Woods... Aku akan membunuhmu! seru Haz dalam hati ganas.