Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
159 : Aku Harap Aku Mengambil Keputusan yang Benar


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Haz terbatuk-batuk karena bau pedas yang menyengat. Dia menatap marah ke arah ruangan yang remang-remang. Si Fanolize gila itu, apa yang sedang dibuatnya?! serunya. Dan karena tak tahan, dia pun membuka pintu ruang kerja secara kasar, lalu pergi ke dapur.


"Apa yang kamu masak?!" Haz berteriak ketika sudah sampai di dapur.


"Maafkan aku. Apa kamu suka pedas? Aku sedang masak mapo tofu. Aku kira kamu akan suka," Whisk berkata, tapi tak melepaskan pandangannya dari masakannya.


"Aku suka pedas memang. Tapi, ini pedasnya hingga sampai ke ruang kerjamu, Fanolize! Aku bisa gila," kata Haz. Dia terbatuk-batuk tak berhenti.


"Ini akan selesai sebentar lagi, Haz," hibur Whisk. "Maafkan aku karena bubuk cabainya terlalu menusuk hidung. Jangan marah, ya…?"


Sekitar dua menit kemudian, sesuai dengan perkataan Whisk, pria itu mematikan kompor dan memindahkan, serta membagi dua masakannya ke atas piring.


"Ini punyamu," Whisk menyodorkan sepiring mapo tofu kepada Haz, yang tentunya diterima dengan senang hati.


"Terima kasih," kata Haz. Dia sedikit tersipu karena seharusnya dialah yang memasak. Dia masih terlalu takut untuk mengendalikan segala hal yang terjadi di dapur saja—kecuali untuk membuat minuman.


"Kamu ingin secangkir teh?" tanya Whisk.


"Ya, tolong buatkan untukku," jawab Haz.


"Baiklah. Kamu duluan saja ke ruang kerja. Aku akan menyusul."


Whisk terlihat sibuk dengan kantong teh dan air yang direbus di atas kompor.


Haz mengangguk, tanpa menyadari kalau Whisk tidak sedang melihat ke arahnya. Dia pun pergi dari dapur menuju ruang kerja.


Sesampainya di ruang kerja, Haz menyalakan lampu. Seisi ruangan akhirnya tampak terang. Dia meletakkan piring ke atas meja kaca, kemudian menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Dia menghembuskan napas, bingung dan kesal karena kelakuan Nich yang menurutnya labil.


Apa yang harus kulakukan? Semua sedang menunggu jawabanku, pikir Haz. Apakah aku harus mabuk dulu? Orang bilang kalau "in vino veritas"; "dalam anggur terkandung kebenaran", akan memberikan hasil yang telanjang, tak dibuat-buat, dan jauh lebih tulus daripada kesadaran yang membuat kebingungan. Kurasa, aku ingin mencobanya. Wanita berambut panjang gelombang memijit pelan kepalanya yang terasa berdenyut.


Haz berteriak keras tepat ketika Whisk masuk ke dalam ruangan hingga membuat pria itu menatap bingung ke arahnya.


Haz menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya. "Maafkan aku, Fanolize. Aku sedang dilanda kebingungan," katanya. Dia terlihat sangat malu akan perbuatannya sendiri. "Aku sedang bingung, ingin mempercayai Nich atau tidak."


"Aku rasa kamu harus melihat hp-mu dulu, Hazelia," usul Whisk.


"Benar, kamu benar. Aku harus melihat hp-ku dulu, Fanolize. Aku harus melihat hp-ku dulu!" Haz mendengus kesal dan segera menyambar ponselnya dari tangan Whisk.


Whisk duduk di sebelah Haz dan menepuk kepalanya pelan untuk menenangkan wanita itu. Dia tahu Haz sedang sangat gelisah. Namun dia tak ingin Haz menjadi keterlaluan sensitif.


Haz membuka ponselnya. "Kamu tidak membaca pesan sama sekali?" tanyanya ketika melihat pesan masih bertumpuk.


"Aku memiliki milikku sendiri, Hazelia. Aku tak perlu melihat milikmu. Juga karena aku menghargai setiap privasimu dengan orang lain," dusta Whisk.


"Aku sedikit tak percaya dengan perkataanmu, Tuan Fanolize Jacqueline Rosewoods," Haz memicingkan mata untuk mengungkapkan ketidakpercayaannya terhadap Whisk.


"Ya… sebenarnya aku melihat sedikit dari chat-mu dengan Nicholas. Tapi, aku tidak apa-apa kok," Whisk memasukkan sesendok penuh mapo tofu ke dalam mulutnya.


Haz tahu Whisk sedang cemburu. "Kamu tidak perlu cemburu. Aku benar-benar tidak memiliki hubungan apa pun dengan Nich. Dia sering menggodaku memang. Tapi, aku tahu dia itu playboy. Makanya aku tidak terlalu menanggapinya."


Haz membuka pesan dari Nich.


Nich : Tentu saja aku tahu… makanya aku memberitahu kamu dulu. Aku tidak ingin kamu salah paham. Aku tidak bermaksud menggodamu sementara aku punya pacar.


Haz memutar bola mata malas. "Munafik," satu kata itu keluar dari bibirnya. Dia pun jadi mengerti dengan keputusannya sendiri setelah membaca pesan Nich.


Haz menggerakkan jempolnya dengan cepat di atas keypad ponsel. Kemudian, dia menekan tombol kirim dan blokir di tanda titik tiga di sebelah kanan atas.


Haz : Aku tidak akan percaya padamu! Tak perlu kamu jelaskan lagi. Berpacaran dengan Heyer dari Keluarga Hassan. Tapi, masih bisa mengincar orang lain. Bagaimana caranya orang akan percaya padamu? Dan kamu bilang untuk tidak salah paham? Hahaha… itu sangat lucu!


Kemudian di bawah pesan itu ada notifikasi 「Anda sudah memblokir kontak ini」.


Whisk mengelus lembut punggung Haz. Dia sudah menjadi orang pertama yang tahu tentang keputusan Haz. Dia hanya ingin menenangkan gadis itu.


"Lebih baik kamu makan malam dulu. Tak perlu terlalu dipikirkan soal Nicholas. Aku akan mengabarkan kepada mereka tentang keputusanmu," kata Whisk.


"Aku takut dengan keputusanku sendiri, Fazolize…," mata Haz mulai berkaca-kaca. Dia mulai menangis.


Whisk mengecup lembut kening Haz. "Tidak perlu merasa takut. Aku akan selalu membelamu apa pun yang terjadi ke depannya. Sekarang, kamu harus mengisi perutmu dulu. Jangan sampai makan malamnya mendingin."


Haz mengangguk. Kemudian, dia menyuap sesendok demi sesendok mapo tofu hingga habis tak bersisa.


"Baguslah kamu akhirnya menghabiskannya," Whisk tersenyum dan mengelus kepala Haz. Wanita berambut panjang gelombang memang bagai anak kecil, suka sekali dielus ataupun ditepuk pelan kepalanya. Dan pria itu tidak akan melewatkan kesempatan untuk melakukannya.


"Kalau begitu aku akan mencuci piring. Kamu tenangkan dulu dirimu," kata Whisk. Dia mengambil piring kotor di atas meja kaca, kemudian pergi dari ruang kerja.


Apakah keputusanku sudah benar? Kenapa aku sering berpikir panjang seperti ini? Aku sudah memutuskan hal itu. Tapi, aku jugalah yang meragukan keputusan sendiri. Aku… kenapa aku seperti ini…? Haz sedari tadi terus memikirkan hal tersebut. Dan dia tak kunjung mendapatkan jawabannya.


Lima menit kemudian, Whisk kembali dengan sebuah teko berwarna arang berukuran sedang. Dia menuangkan teh yang ada di dalam teko ke dalam cangkir Haz yang sudah kosong. Begitu juga miliknya sendiri.


"Jangan ragu terhadap keputusan sendiri, Hazelia…," kata Whisk sambil menuangkan teh ke dalam cangkir. "Aku yakin kamu sudah memilih keputusan yang benar. Kamu tidak perlu menyesali apa yang sudah kamu putuskan."


"Aku hanya takut kalau aku salah mengambil keputusan," Haz berbisik. Bahkan suaranya serak dan hampir hilang.


"Tidak apa-apa. Aku yakin dengan keputusan yang kamu buat," hibur Whisk.