Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
101 : Kegelisahan Cyan


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Tidak, aku tidak berniat untuk mundur. Aku semakin tertarik. Terutama pada Qe- siapa pun kepribadianmu itu." Whisk berkata jujur. Dia penasaran dengan kepribadian Qerza yang misterius.


"Qerza? Kamu benar, dia adalah ahli strategi di dalam kepalaku. Tapi, dia adalah pribadi yang paling sentimental, melankolis, dan berperasaan. Kedua? Fabella, tentunya."


"Aku tidak mengatakan itu, Haz." Whisk menatap bingung ke arah Haz, kemudian ingat bahwa wanita itu bagaikan seorang cenayang. "Kamu mempermainkan diriku."


"Aku tidak pernah mempermainkan dirimu, Whisk," protes Haz.


"Kamu mempermainkan semua orang, Haz," kata Whisk sambil menatap datar ke arah wanita berambut panjang gelombang.


Haz hanya diam sambil menggembungkan pipi dan melipat kedua tangannya di depan dada. Dia ngambek.


Whisk tersenyum, kemudian berkata pada Haz, "Maaf, Haz. Aku hanya bercanda. Jangan marah, ya?"


Haz membalas, "Bercanda mu tidak lucu dan sangat keterlaluan, Whisky Woods."


Dari kejauhan ....


Mereka terlihat sangat bahagia ..., pikir Nich. Tidak mungkin aku bisa masuk ke dalam lingkaran itu, kan?


Tiba-tiba saja, ponsel Nich berdering nyaring. Ada telepon yang masuk. Dia segera mengangkatnya.


Entah kenapa, setelah menerima telepon itu, rahang Nich mengeras. Dia buru-buru pergi dari sana, seakan-akan tidak ada waktu untuk memandangi kemesraan Haz dan Whisk.


Menuju kamar pasien yang ditempati Zenneth ....


Bagaimana jika aku ikut dengan mereka? Begitu yang dipikirkan oleh Cyan.


Namun, segalanya sudah terjadi. Cyan juga tidak bisa menyalahkan Haz atau Whisk, karena mereka punya dunia sendiri. Dia tahu Haz dan Whisk sibuk mengungkapkan perasaan dan kecurigaan mereka masing-masing. Sedangkan Zenneth, wanita itu lebih memilih untuk tidak mengganggu hubungan pendekatan antara sahabatnya dengan seorang bule yang dikagumi wanita berambut panjang gelombang dan memilih untuk melihat-lihat brand keluaran terbaru.


Bagaimana jika seandainya aku tidak menolak untuk ikut? Apakah kamu akan menjadi seperti ini juga? Atau, aku yang akan menjadi seperti ini? tanya Cyan di dalam hati, menyesal.


"Hah ...." Cyan menghela napas berat. "Zenneth cepat siuman. Aku jadi merasa bersalah melihatmu menjadi seperti ini."


"Bug!" Cyan bisa mendengar sesuatu terjadi di luar ruangan. Dia tidak tahu tepatnya apa, tapi, sepertinya ada sesuatu yang jatuh ke atas lantai.


Saat Cyan mengecek dari jendela, tidak ada apa-apa maupun siapa-siapa. Perasaan curiga dan tak mengenakkan menyergapnya.


Kemana polisi yang tadi berjaga? Cyan ternyata masih ingat bahwa ada seorang polisi yang berjaga di depan sana. Dia mulai waswas. Aku harus segera menelepon Haz dan Whisk agar kembali ke sini. Aku tidak yakin aku bisa menjaga Zenneth dengan baik.


Cyan segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Dia menelepon Haz. Akhirnya, telepon tersambung dengan wanita berambut panjang gelombang.


"Cepat kembali ke sini. Aku ingin mengatakan sesuatu. Sepertinya Zenneth benar-benar dalam bahaya," kata Cyan tanpa tedeng aling-aling kepada Haz, yang ada di taman rumah sakit bersama Whisk.


"Aku mengerti."


Segera setelah telepon ditutup oleh pihak penerima, Cyan berjalan mondar-mandir sambil mengigit kuku-kuku jemarinya secara tak sabar. Beruntung dia tidak melukai jarinya sendiri.


Perasaanku tidak bagus.