
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Sebelum pukul 06:30 AM ....
Aku akhirnya tidak tidur semalaman karena harus menjaga Whisky Woods, batin Haz.
Haz menatap Whisk yang masih memejamkan matanya. Dia memghela napas dan tersenyum. Ya, setidaknya dia tidak apa-apa. Apa yang akan kami lakukan hari ini jika saja dia tidak hilang ingatan ya?
Haz membayangkan dia dan Whisky Woods sarapan bersama, pergi ke taman hiburan, bermain wahana, membeli cola dari vending machine, berfoto di dalam photo box, makan siang bersama.
Malamnya, Haz dan Whisk akan pergi ke candle light dinner dan menonton film romantis bioskop. Lalu, mengunjungi sebuah taman yang buka 24 jam, melihat air mancur dengan lampu-lampu neon yang menghiasi, dan mengobrol ringan.
Itu akan sangat menyenangkan, pikir Haz.
Tapi, bukan saatnya Haz memikirkan hal tersebut. Dia buru-buru mengambil ponselnya dari dalam saku celana dan segera menelepon Zenneth.
Tet ....
Telepon langsung tersambung.
"Ada apa?" tanya Zenneth dari seberang sana. Dia terdengar sangat bersemangat pagi itu.
"Bukannya mengucapkan salam yang baik dan benar langsung diserobot saja!" seru Haz. Dia sebenarnya tidak kesal dengan Zenneth, tapi dia hanya sedikit berbasa-basi sebelum dia mengucapkan permintaannya.
"Sok suci! Mau tanya ya tanya saja. Jangan sok-sokan menyuruh orang untuk mengucapkan salam." Malah Zenneth yang sebal dengan ucapan Haz.
Dia benar-benar tidak berubah sama sekali. Semenjak pertama kali mengenalnya hingga sekarang, dia tetap saja sarkas. Tapi, baguslah. Setidaknya aku tidak perlu khawatir bahwa dia akan mengkhianatiku, pikir Haz.
"Iya. Iya. Aku memiliki satu permintaan padamu," ucap Haz sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia memutar bola matanya, memikirkan apakah hal yang dimintanya akan menyulitkan Zenneth atau tidak.
Tidak mungkin seorang Zenneth kesulitan hanya karena permintaan kecil dari Hazelia Lify. Dia itu informan paling hebat!
"Aku ingin kau mencari daftar Tempat Pembuangan yang berhubungan dengan jalan xxx. Apakah kau bisa membantu?" tanya Haz tanpa lebih banyak basa-basi.
"Gampang! Tunggu sebentar. Sepertinya aku menyimpan sebuah daftar tentangnya," ujar Zenneth bersemangat.
"Gubrak!"
Entah apa yang dilakukan Zenneth di seberang sana hingga suara keras benda jatuh memekakkan telinga Hazelia Lify. Wanita berambut panjang gelombang refleks menjauhkan telinganya dari telepon dan bergumam kesal, "Apa sih yang sedang dia lakukan?"
"Zen? Are you okay?—Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Haz dengan jengkel. Tidak ada jawaban.
Setelah menunggu hampir satu setengah menit, akhirnya Zen kembali dan berkata, "Aku menyimpan daftarnya. Kapan kamu akan mengambilnya?"
"Aku akan ke tempatmu sekarang. Terima kasih atas bantuannya, Zen," ujar Haz. Dia langsung menutup telepon dan bergegas keluar dari kamar pasien.
Sebelum Haz benar-benar pergi, dia menatap ke arah Whisk yang terbaring memejamkan matanya di atas hospital bed. Matanya mendelik tajam, di saat bersamaan juga tersirat sendu.
Whisky Woods ... kamu tidak benar-benar tidur. Berani sekali kamu menguping pembicaraanku! Tapi, ya sudahlah, pikir Haz.
Haz melangkahkan kakinya di sepanjang koridor rumah sakit, menuruni anak-anak tangga, dan menyapa pasien-pasien, dokter-dokter maupun perawat-perawat yang ditemuinya sepanjang perjalanannya keluar dari rumah sakit. Bahkan dia berpapasan dengan si kembar Vinzeliulaika.
"Selamat pagi, cici Rika, cici Riko." Hazelia Lify memamerkan senyum manisnya.
"Pagi, dedek." Riko menyapa balik. Dia terlihat sedikit memaksakan senyumannya.
Hari sialku, batin Haz. Kuharap mereka tidak akan mencariku ketika kukatakan aku akan pergi membeli sarapan atau aku tidak akan bisa menjalankan aksiku kali ini.
"Lagi mengunjungi teman ya?" tanya Rika berbasa-basi. Dia sebenarnya sudah tahu bahwa Haz menjadi wali dari Whisky Woods. Dan, mereka yang menyebabkan semua kejadian itu.
Cukup! Aku muak dengan kalian berdua .... ucap Haz dalam hati. Tapi, dia tetap menjawab pertanyaan Rika. "Iya, ci. Hazel agi mengunjungi teman."
"Oh, ya sudah. Terima kasih ya atas bantuannya semalam," ujar Rika.
"Sama-sama, ci. Hazel mau beli sarapan dulu. Sampai jumpa." Haz cepat-cepat menyudahi percakapannya dengan si kembar Rika dan Riko.
Untungnya si kembar Vinzeliulaika tidak bertanya yang macam-macam kepada Haz. Mereka hanya menyapa dan membiarkan Haz pergi begitu saja.
Haz menghela napas lega. Setidaknya mereka tidak bertanya-tanya lagi kemana aku akan pergi, pikirnya.
Haz sampai di rumah berpagar hijau milik Zenneth yang terbuka lebar dengan steling yang menjual sarapan pagi. Dia tersenyum. Kamu benar-benar pandai beradaptasi, Zen! serunya di dalam hati.
"Kak, nasi lemaknya satu. Telurnya pakai telur rendang, pakai buncis, kentang sambal, dan keripiknya dibanyakin ya!" kata Haz kepada Zenneth.
Zenneth menatap Haz dan tersenyum manis. Bukan untuk menyapa, Haz tahu. Lebih tepatnya wanita sebaya Hazelia Lify itu sedang mengatakan: "Sialan kamu!"
Haz terkekeh pelan ketika melihat tatapan tajam Zenneth kepadanya. "Oh ya kak, sekalian itu ya!" Dia menunjuk ke arah berkas tebal yang sengaja disediakan Zenneth untuknya di atas sebuah meja putih kosong dekat steling.
Selesai membungkus semua, Zenneth memberikan plastik hitam kepada Haz. "Harganya satu gram emas murni."
Tanpa banyak basa-basi, Zenneth langsung menyebutkan harga yang harus dibayar Haz kepadanya.
Haz menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. "Begitukah kamu memperlakukan pelangganmu, kak?" tanyanya dengan sebal. Dia hanya bercanda. Tentu saja dia akan membayar sesuai dengan harga yang dikatakan oleh Zenneth.
"Bayar atau pulang dengan tangan kosong," ujar Zenneth tak kalah sebalnya dari Hazelia Lify.
Haz mengeluarkan sebuah cincin emas seberat 1 gram kepada Zenneth. "Terima kasih atas kerja samanya!"
Haz segera pergi dari tempat Zenneth. Dia merasa diawasi oleh seseorang.
Saat Hazelia Lify berpura-pura menatap ke arah langit, di salah satu jendela kamar pasien yang letaknya masih tak berpindah dari kemarin malam, wanita berambut panjang gelombang bisa melihat Riko sedang mengawasi gerak-geriknya.
Untungnya Riko tidak melihat transaksi berkas-berkas tentang Tempat Pembuangan yang dilakukan oleh Haz dan Zenneth. Dia juga tidak sempat melihat Haz memberikan cincin emas kepada Zenneth. Bisa sangat berbahaya jika dia tahu bahwa Zenneth adalah sumber informasi Hazelia Lify.
Tenang saja, ci Riko. Aku tidak akan melancarkan aksi hari ini. Aku bukan orang bodoh, pikir Haz.
Saat Haz kembali ke kamar pasien yang ditempati oleh Whisky Woods, dia bisa melihat Jel, Milla, dan James, juga Whisk sendiri tentunya, sedang mendengarkan cerita yang terlontar dari bibir Alkaf dengan serius hingga tak menyadari bahwa Haz sudah berada di sana bergabung dengan mereka.
Alkaf saat itu tengah melanjutkan ceritanya yang tertunda semalam. Tentang masa kecil Hazelia Lify.