Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
156 : Alasan Mengapa Nich Terlihat Aneh?


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Kerja bagus, Haz," kata Whisk. Mereka berdua berjalan menyusuri trotoar yang dilalui lumayan banyak orang.


Haz menatap ke arah Whisk dan menyungging sebuah senyuman manis. "Kamu juga bekerja dengan baik, Whisk."


Rasanya sedikit aneh ketika mendapati mereka berdua mengalami kecanggungan hanya karena saling menyemangati.


"Apakah kamu lapar? Ingin makan sesuatu?" tanya Whisk. Sebenarnya, dia sendirilah yang lapar. Mereka melewati sarapan pagi hanya dengan secangkir teh. Saat ini hari sudah siang.


"Tentu saja. Aku ingin makan sesuatu. Aku lapar," jawab Haz. Dia juga sama.


"Aku tidak mengerti dengan sistem kepolisian di Indonesia," kata Whisk sembari mencari tempat makan yang enak dan sesuai dengan seleranya. "Kenapa kalian harus melewati prosedur yang amat rumit? Kita sudah memiliki bukti dan tersangka. Bahkan pemalsuan identitas di PBB. Itu bisa dijadikan kejahatan internasional. Kenapa polisi di sini seakan menutup mata?"


"Kamu juga tahu kalau menjadi detektif, polisi, dan sederetannya adalah hal yang sangat sulit, Whisk. Orang-orang seperti kalian ditambah dengan pihak rumah sakit adalah orang-orang yang bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang diperbuat, bukankah begitu?" Haz menunjuk ke arah KFC yang dibuka di seberang jalan. "Bagaimana kalau kita makan ayam saja?"


"Tentu saja." Whisk belum pernah mencoba KFC di Indonesia, tapi kata para rekannya yang sudah ke Negara Seribu Pulau itu, ayam di sana sangatlah enak. Dia jadi penasaran. "Balasan untuk perkataanmu, Haz ... memang mereka memiliki tanggung jawab yang besar. Tapi, jangan lupa, mereka juga merupakan manusia."


"Tentu saja aku tidak akan melupakan kalau mereka adalah manusia," gerutu Haz sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menggembungkan pipinya.


Whisk tertawa kecil melihat tingkah Haz. Dia membuka pintu kaca untuk wanita itu dan dirinya sendiri.


"Selamat datang." Sebuah sapaan terdengar ketika mereka berdua masuk ke dalam.


Haz menunjuk ke arah kasir. "Pesan di sana. Aku akan mencari meja di lantai dua. Belikan aku ayam dan nasi, lalu cola, sup krim, dan burger. Mohon bantuannya, Tuan Muda Rosewoods."


"Jangan panggil aku dengan nama itu. Aku sudah bukan merupakan bagian dari keluarga itu. Aku akan memesan yang kamu inginkan, Nona Muda Li," kata Whisk.


Haz melambaikan tangannya dan menaiki tangga menuju ke lantai dua. Dia bisa melihat banyak kursi kosong. Seperti biasa, dia akan memilih kursi yang paling dekat dengan jendela sehingga dia bisa mengamati situasi di luar dengan mudah. Juga bertujuan untuk menghindari perhatian orang-orang.


Antrean di bawah sana sangat panjang, itu sebabnya Whisk sangat lama. Setelah sepuluh menit berlalu pun, pria itu tak kunjung kembali.


Haz menggerakkan jemarinya di atas papan keyboard dengan perasaan bosan. Dia sedang membalas pesan dari Waikit. Entah kenapa semenjak bertukar nomor dengannya, Waikit jadi suka sekali chat dengannya.


"Maafkan aku. Antrean di bawah tidak main-main." Akhirnya Whisk Kembali. Haz pun langsung menonaktifkan ponselnya.


"Tidak masalah," kata Haz. "Memang di sini itu selalu ramai. Bahkan di kampung halamanku juga begitu."


"Kamu yakin bisa menghabiskan semuanya sendiri? Kamu tidak takut gendut?" tanya Whisk sambil meletakkan pesanan Haz dari nampan ke atas meja.


"Kamu takut wanita yang gendut? Maka dari itu, jangan mencari wanita seperti aku. Aku itu maniak makan, kamu tak akan percaya jika ku sebutkan berapa berat badanku," jawab Haz. "Oh ya, aku lupa memesan kentang goreng. Tunggu sebentar ya, Tuan Woods. Aku akan segera kembali."


"Kamu yakin ingin mengantre lagi di bawah sana? Antreannya bukan main!" kata Whisk.


Sesuai dengan perkataan Haz, dia kembali dalam waktu kurang dari lima menit.


"Bagaimana caranya kamu melakukannya? Memakai orang dalam?" tanya Whisk.


"Bingo! Memang aku memiliki orang dalam di sini." Haz tertawa dan segera duduk.


"Jawaban atas pertanyaanmu tadi, aku tidak takut wanita gendut, karena kamu adalah kamu. Tapi, kalau itu wanita lain, aku akan pertimbangkan terlebih dulu," kata Whisk. Dia mengambil kentang goreng miliknya, mencocolnya ke dalam saus, dan menikmatinya. "Aku jadi penasaran dengan berat badanmu."


"Tujuh puluh dua," kata Haz tanpa basa-basi.


"Aku tidak percaya. Saat aku mengangkat dirimu, kamu terasa sangat ringan," kata Whisk.


"Berapa berat benda atletik yang bisa kamu angkat, hah?!" pekik Haz.


"Dua ratus tujuh puluh lima kilogram?" Whisk terlihat berpikir, lalu menggelengkan kepalanya. "Bukan, mungkin tiga ratus dua puluh lima kilogram."


"Kamu bahkan bisa mencetak rekor dunia, Whisk! Dengan tubuhmu yang ... ya, begitulah!" seru Haz. Dia menatap ngeri ke arah Whisk.


"Jangan menatapku seperti itu Haz! Juga, tidak ada yang salah dengan tubuhku. Masih roti sobek loh. Kamu tidak tertarik?" Whisk memakan ayam tanpa nasi. Dia memesan hingga empat. Dia lebih parah dibanding Haz.


"Aku tidak akan munafik, Tuan Muda Rosewoods. Aku adalah pecinta roti sobek, juga versi aslinya yang bisa dimakan. Tapi, aku selalu menilai orang juga dari kepribadiannya," kata Haz.


"Lagipula, bisa mengangkat beban atau roti sobek itu bukan sesuatu yang harus dibanggakan." Whisk sudah selesai menikmati satu ayamnya. Dia mengambil potongan selanjutnya. "Aku lebih penasaran dengan apa yang disembunyikan oleh Nicholas sehingga dia bersikap sangat aneh."


"Tidak hanya kamu yang penasaran dengan hal itu, Whisk," kata Haz yang juga penasaran dengan Nich yang aneh hari ini—sebenarnya dia sudah merasakannya lama, tapi puncaknya adalah sekarang, lebih tepatnya beberapa saat yang lalu.


"Apakah menurutmu dia juga merupakan anggota keluarga Hassan?" tanya Whisk.


"Tidak." Haz langsung menjawabnya. "Maksudku, pikirkan Whisk, dia dan kantor polisinya pernah melaporkan keluarga itu. Meskipun persidangan telah dibuka dan dimenangkan oleh Hassan. Tapi, aku rasa aku tidak pernah mendengar bahwa Nich akan menyerah soal itu."


"Lalu, apa yang ada di dalam pikiranmu, Haz?"


"Aku memiliki satu asumsi. Tapi, mungkin bukan kebenaran yang sedang kita cari," kata Haz sambil memainkan sedotan limun dan es batu yang ada di dalam gelas styrofoam. Dia menekan salah satu es batu dengan sedotan limun hingga tenggelam ke bawah, lalu melepasnya hingga naik kembali ke atas.


Tidak ada hal yang bisa dilakukan selain menunggu waktu yang tepat. Polisi pasti sudah menutup kasus penculikan Cyan dan Zenneth, menganggap bahwa sekarang mereka sudah baik-baik saja. Kecuali jika ada hal lain yang bisa memperjuangkan semua itu, pikir Haz.


"Entah pikiranku denganmu sama atau tidak Haz, tapi kalau kemungkinan yang kamu maksud adalah Nich memiliki hubungan persahabatan atau lebih, seperti pacaran, dengan salah satu anggota keluarga Hassan tanpa dia sadari. Lalu, dia mulai diberitahu soal itu sekarang ... ah ... tidak mungkin, kan?" Whisk merasa kalau fantasinya terlalu dalam.


"Memang itu yang sedang kupikirkan, Whisk."