
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Pukul 04:35 A.M. WIB, 25 menit setelah Tyas Reddish ditemukan meninggal di dalam kamar pasien rumah sakit ....
Haz akhirnya sudah tenang. Dia tidak lagi menangis. Sesuai janjinya dengan Whisk, mereka akan mencari tahu siapa itu Baskara dari perawat yang memandu mereka berdua untuk pergi ke bagian administrasi.
"Kamu yakin kamu baik-baik saja kan, Haz?" tanya Whisk. Dia cemas dengan keadaan Haz yang tidak stabil. Di sisi lain, dia juga tidak ingin Haz menghancurkan rencana yang telah mereka buat karena mood-nya sendiri. Dia ingin segera kasus ini terungkap, secepatnya.
"I'm pretty sure that I'm okay now—Aku sangat yakin bahwa aku baik-baik saja sekarang," balas Haz. Dia tersenyum canggung kepada Whisk.
Whisk mengangguk mengerti. "Baiklah. Ayo coba kita cari tahu. Di rumah sakit seluas ini, pasti banyak cctv. Dan, tidak mungkin tidak ada saksi mata yang melihat orang bernama Baskara itu," kata pria itu.
"Tentu saja. Dengan menemukan siapa itu Baskara, kita bisa menemukan titik terang dari semua hal yang telah terjadi."
Saat Haz dan Whisk baru saja keluar dari mobil, Cyan dan Zenneth juga sudah selesai dengan urusan mereka.
"Kalian ingin pergi kemana?" tanya Zenneth dengan ekspresi wajah bingung.
"Kami akan kembali lagi ke dalam rumah sakit," jawab Haz. Dia menatap ke arah Whisk sesaat, lalu melanjutkan, "Tyas Reddish, dia dibunuh."
Zenneth memukul jidatnya pelan. "Pantas saja ada suara sirene polisi dan banyak orang berkerumun di rumah sakit," katanya. Dia juga memperhatikan ternyata. "Apa motif pembunuhannya?"
"Karena dia adalah saksi yang bisa memberitahu tentang siapa pelaku di balik semua ini." Haz mengetuk-ngetuk jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Aku dan Whisk akan kembali untuk memastikan sesuatu."
"Baiklah. Aku dan Cyan akan menunggu di dalam mobil. Cepat kembali," kata Zenneth.
Haz mengangguk singkat dan menarik Whisk pergi dari sana.
"Menurutmu, apakah si kembar Vinzeliulaika yang menyebabkan semua kejadian ini?" Cyan bertanya tiba-tiba kepada Zenneth.
"Menurutku ... tidak," jawab Zenneth, setelah menjeda untuk berpikir sesaat.
"Kenapa?"
"Aku juga tidak yakin sebenarnya. Tapi, jika asumsi ku benar, maka penjelasannya adalah seperti ini: Untuk masalah Rael yang diceritakan oleh Haz mungkin benar. Untuk soal Thomas Bara juga benar. Tapi, tidakkah kamu merasa aneh? Kenapa Thomas Bara ada di Indonesia jika tidak disewa oleh seseorang? Anggap saja si kembar Vinzeliulaika yang memesannya. Sebagai seorang mata-mata, bukan sebagai pembunuh bayaran. Rael adalah kepribadian yang dibuat oleh dua orang. Yang satu tentu saja adalah Rika. Satu lagi adalah Riko, kembarannya. Apakah mereka akan meracuni adik mereka sendiri? Itu tidak mungkin sama sekali. Kita putar dari sisi sebaliknya. Rika dan Riko memang pergi ke rumah Ric saat itu. Tapi, itu mungkin beberapa jam yang lalu karena mereka harus berperan sebagai Rael dan Thomas Bara turut serta dalam membantu mereka. Dengan kata lain, Ric kembali sendirian di rumah. Lalu, ada orang yang mengunjunginya lagi. Yang pasti bukan Tyas Reddish, orang yang disewa oleh Ric. Ketika orang ini datang dan meracuni adik si kembar, kebetulan sekali Tyas Reddish ada di sana. Tapi, dia kabur agar tidak ketahuan. Bisa saja kejadian begitu. Tapi, untuk sekarang si kembar dan Thomas Bara menurutku tidak pantas dicurigai. Aku curiga dengan si polisi baru, Nicholas Qet Farnaz. Orang yang mengejar Whisk dari apartemen, aku yakin sekali itu bukan si polisi baru melainkan orang lain. Satu lagi adalah Andrian."
Di dalam rumah sakit ....
"Maaf, tapi ada kepentingan apa Anda berdua mencari perawat bernama Yuni Erika?" tanya perawat yang menjaga bagian resepsionis.
"Kami adalah detektif kepolisian internasional." Whisk memperlihatkan tanda pengenal detektif yang bisa digunakan di semua negara. Dia mendapatkannya karena usaha dan kerja kerasnya. "Kebetulan saya pernah menangani kasus yang berhubungan dengan orang yang baru saja meninggal dunia, Tyas Reddish. Mohon bantuannya. Saya dan rekan saya hanya ingin menanyakan beberapa hal kepada perawat wanita bernama Yuni Erika."
"Tunggu sebentar," kata perawat yang menjaga bagian resepsionis. Dia akhirnya menyerah setelah Whisk memperlihatkan tanda pengenal detektif internasional miliknya.
Sementara Whisk menunggu kabar dari perawat itu, Haz memutar kepalanya ke sana-sini. Dia merasa aneh. Dia merasa ada yang memperhatikan dirinya dan Whisk. Namun dia tidak bisa menemukan dari mana asal tatapan itu. Terlalu banyak orang yang berlalu-lalang karena kejadian barusan. Reporter yang berkumpul di rumah sakit juga lumayan banyak.
Haz akhirnya menyerah. Dia kemudian berbalik dan melakukan hal yang sama seperti Whisk. Wanita berambut panjang gelombang menyenggol lengan Whisk dan berbisik kepadanya, "Ada yang memperhatikan kita berdua."
"Tidak perlu dihiraukan. Semakin kita mencari, semakin dia tidak terlihat. Biarkan saja. Nanti dia juga akan menampakkan eksistensinya sendiri." Whisk balik berbisik kepada Haz.
"Maaf, Tuan. Tapi, perawat bernama Yuni Erika telah berhenti bekerja dari sebulan yang lalu. Mungkinkah Anda salah melihat?" tanya perawat. Dia menatap Whisk dengan tatapan bingung, tetapi meyakinkan.
"Berhenti bekerja selama satu bulan?" Whisk berbalik tanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Ini tidak mungkin. Apakah dia benar-benar sudah berhenti bekerja selama satu bulan?" Dia ingin memastikan satu kali lagi.
"Benar. Perawat bernama Yuni Erika telah berhenti bekerja selama satu bulan. Ini berkasnya." Perawat itu menyerahkan sebuah berkas kepada Whisk.
Whisk langsung menerimanya dan membacanya bersama dengan Haz. Mereka berdua saling bertatapan.
"Baiklah. Terima kasih atas informasinya." Whisk mengembalikan berkas itu kepada perawat. "Mohon maaf jika saya banyak bertanya, apakah cctv di rumah sakit ini aktif semuanya?"
Perawat menatap ke arah Whisk dan tertawa ringan. "Tentu saja semuanya aktif. Apakah Anda ingin bertanya dimana ruang keamanan?" Dia balik bertanya kepada Whisk.
Whisk mengangguk dan menjawab, "Ya, saya dan rekan saya ingin tahu dimana ruang keamanan rumah sakit."
"Silahkan Anda jalan lurus dari sebelah sini." Perawat menunjukkan lorong yang berada tepat di sebelah kiri mejanya. "Ketika berada di ujung, belok ke kiri lagi. Jalan saja sampai ujung dan Anda berdua akan menemukan ruang keamanan rumah sakit."
"Terima kasih dan maaf merepotkan Anda." Whisk tersenyum singkat kepada perawat itu dan langsung pergi mengikuti arahannya bersama dengan Haz.
Haz tidak banyak bicara. Bisa dilihat dia sedang memikirkan sesuatu. Dia terlihat dengan menyusun puzzle-puzzle yang telah didapatkannya di dalam kepalanya.
"Jangan terlalu serius, Hazelia. Aku bisa melihat bahwa kepalamu akan meledak sebentar lagi."