
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Treng!
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel milik Whisky Woods. Terteralah nama "Abang Ipar Stetson", yang mengarah kepada James Stetson, di sana. Dan, Hazelia Lify-lah yang tengah membaca pesan yang dikirim oleh James.
~
James: Aku tahu kamu sedang menggenggam ponsel Whisky Woods, Hazelia.
~
Haz tersenyum singkat ketika membaca pesan dari James. Di layar ponsel, tapi dia tidak benar-benar membacanya—Haz hanya membacanya dari layar kunci ponsel Whisk.
Treng!
Sebuah pesan masuk lagi dan Haz tak lagi membacanya. Dia sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh James kepadanya.
Dia hanya akan bertanya satu hal, "Kamu tidak akan benar-benar melepaskan mereka semudah itu kan?". Itu sudah pasti. Aku tidak akan melepaskan mereka semudah itu, pikir Haz.
Haz mengelap keringat dingin yang mengucur dari dahi Whisk menggunakan sapu tangan kecil yang selalu dibawanya.
"Jangan memaksakan diri, Whisky Woods. Jika kamu melakukannya, aku bersumpah akan membunuhmu," gumam Haz.
Whisk saat itu tidak benar-benar tidur. Dan, sialnya dia ketika mendengar gumaman kecil dari mulut seorang Hazelia Lify untuknya, dia malah membuka matanya perlahan-lahan untuk menatap ke arah wanita berambut panjang gelombang yang tengah menjaganya di kala orang-orang sudah pulang.
"Kamu tidak pulang?" tanya Whisk dengan suara parau, menahan rasa sakit yang masih menderanya.
"Jika aku pulang, resiko kematianmu akan lebih besar daripada aku yang 'bersumpah akan membunuhmu'," jawab Haz. Dia terkekeh pelan saat mendapati Whisk sedang memelototi dirinya karena ucapannya.
"Sepertinya begitu," kata Whisk. Dia merasa tenang dan nyaman karena Haz ada di sana untuk menjaganya.
Aku merasa bersalah. Aku tidak ingat hal apa saja yang sudah kulakukan denganmu, pikir Whisk. Aku pasti memiliki janji yang belum sempat ku tepati, bukankah begitu?
Whisk menatap dengan tatapan sendu ke arah Haz. Meskipun kepalanya semakin sakit akibat pikirannya yang kacau-balau, tetapi entah kenapa dirinya senang sekali mendapati Haz di sana untuknya.
"Mengapa kamu melihatku seperti itu? Apakah ada sesuatu yang salah di wajahku?" Haz bertanya ketus. Sebenarnya dia merasa senang diperhatikan oleh Whisk seperti itu.
Whisk tidak menjawab pertanyaan konyol Haz. Kamu sudah tahu jawabannya, batinnya.
Whisk menahan pergelangan tangan Haz saat wanita itu ingin menarik kembali tangannya secara tak sadar. Dia menampakkan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
Haz tersentak kaget saat Whisk menahan tangannya. Dia memandang wajah Whisk dengan polosnya dan berharap agar pria bersurai kemerahan itu segera melepaskan cengkeramannya.
Pandangan mereka bertemu, saling beradu. Dibalut keheningan malam yang sepi di rumah sakit, Hazelia Lify bisa mendengar detak jantungnya sendiri dan juga ... detak jantung Whisk yang bagaikan sebuah gendang.
Untuk sepersekian detik kemudian, Whisky Woods menyadari perlakuannya yang mungkin membuat Haz menjadi tak nyaman dan segera melepaskan cengkraman tangannya.
Apa yang sudah kulakukan? Whisk bertanya dalam hatinya.
"Maaf." Hanya satu kata itu yang bisa diucapkan Whisk. Tak ada lagi untaian kata-kata ataupun topik pembicaraan yang muncul di dalam kepalanya yang berdenyut hebat.
"Tak apa," balas Haz. "Sekarang tidurlah. Jangan memikirkan apa pun. Itu hanya akan memperburuk keadaanmu."
"Tidak ada bantahan, Whisky Woods," ujar Haz ketika dia melihat Whisk membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.
"Selamat ... em ... pagi," kata Haz. Dia sedikit bingung harus mengucapkan selamat malam atau selamat pagi, sehingga dia memutuskan untuk mengucapkan selamat pagi saja. "Semoga tidurmu nyenyak."
"Ya, selamat beristirahat juga," ucap Whisk. Dia pun memejamkan mata.
Pukul 06:30 AM Whisky Woods membuka matanya ....
Doa dari wanita itu benar-benar manjur. Aku tertidur sangat nyenyak. Jam berapa sekarang? tanya Whisk dalam hati.
Whisk menoleh ke arah kanan-kiri ruangan. Dia mencari sosok Haz yang sudah tak berada di kamar pasien.
Kemana perginya wanita itu?
Whisk tiba-tiba ingat. Beberapa saat yang lalu, dia samar-samar mendengar suara orang yang berbicara melalui telepon. Mereka membahas soal Tempat Pembuangan Akhir di ibukota.
"Apakah dia pergi ke Tempat Pembuangan Akhir di ibukota?" tanya Whisk bergumam tepat ketika James dan Milla masuk ke dalam kamar pasien yang ditempatinya.
"Loh? Kamu seorang diri? Hazelia Lify dimana?" Milla bertanya kepada Whisk seraya meletakkan sewadah bubur di meja yang tersedia di dalam kamar pasien.
"Aku tidak tahu," jawab Whisk. Dia tak mungkin bilang bahwa Haz sedang pergi ke Tempat Pembuangan Akhir sesuai dengan apa yang didengarnya samar-samar beberapa waktu lalu.
"Pasti dia melakukan kegilaan lagi," gumam James.
"Apa? Melakukan kegilaan apa?" tanya Milla penasaran.
"Bukan apa-apa, Sayang. Aku hanya asal menebak saja. Hazelia Lify kan suka melakukan kegilaan," ujar James. Dia terkekeh gugup.
Milla menatap James curiga, kemudian memutar bola matanya malas dan menyerah mencari tahu.
James benar, Hazelia Lify adalah orang yang suka melakukan kegilaan. Jadi, Milla tidak perlu heran jika wanita berambut panjang gelombang suka sekali menghilang.
"Apakah kamu sudah sarapan?" tanya Milla sambil menatap Whisk.
Whisk menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Milla.
"Baguslah. Aku membawakanmu bubur. Aku tahu makanan di rumah sakit tidaklah enak," kata Milla. Dia memberikan Whisk wadah yang berisikan bubur. "Tidak dimana pun, makanan rumah sakit tetaplah tidak enak."
"Terima kasih, Senor," ucap Whisk.
Dulu, aku sangat menyukai Senor Milla hingga tidak bisa sehari pun lepas. Jika dipikir-pikir sekarang, aku sangatlah konyol dan labil, batin Whisk.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Milla memicingkan matanya pada Whisk.
Whisk tersadar dari lamunannya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa."
Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan wanita itu sekarang ya? Apakah aku sudah boleh keluar dari tempat ini? Apakah aku bisa pergi menemuinya yang sedang melakukan hal gila? Aku ingin tahu banyak tentangnya ....
Whisk menggelengkan kepalanya dan menepis apa yang sedang melintas di dalam kepalanya.
Tidak boleh! Dia sudah berpesan agar aku baik-baik beristirahat. Jika dia marah padaku, aku harus berbuat apa? Mengapa aku sedikit takut ketika memikirkannya? tanya Whisk dalam hatinya. Dia frustasi dengan pikirannya yang tengah kacau-balau memikirkan seorang Haelia Lify.
Milla yang melihat kegelisahan Whisk langsung menepuk pundaknya untuk menyadarkan pria itu. "Kamu tidak baik-baik saja. Apakah kamu sudah mengingat hal yang kamu lupakan?" tanya wanita tuna netra itu.
"Aku tidak mengingat apa pun, Senor. Aku hanya memikirkan hal apa yang sedang dilakukan wanita itu sekarang."