
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Pukul 4:10 pagi hari, di jalanan ibukota negara. Hazelia Lify, Cyan Vilmasyah, Whisky Woods, dan Zenneth saling berdiam-diaman di dalam mobil yang melesat menuju ke rumah sakit di dekat rumah Zenneth ....
Mereka berempat sampai sekitar lima menit kemudian.
Cyan dan Zenneth memutuskan untuk pergi menyiapkan barang-barang yang diperlukan di rumah Zenneth, sedangkan Haz dan Whisk akan pergi menemui Tyas Reddish di dalam rumah sakit.
Saat berjalan di lantai dasar rumah sakit dan ingin pergi ke lobi untuk menanyakan beberapa hal ke bagian resepsionis, seorang perawat datang mendekati Haz dan Whisk. Dia menatap mereka berdua secara bergantian, kemudian bertanya, "Apakah Anda adalah Nona Hazelia Lify, wali dari Tuan Tyas Reddish?"
Haz menatap balik ke arah perawat dan menjawab, "Benar. Saya adalah wali dari Tyas Reddish. Ada apa ya?"
"Bolehkah Anda ikut dengan saya sebentar ke bagian administrasi?" tanya perawat.
Haz dan Whisk saling bertatapan.
"Baiklah."
Mereka berdua pun mengikuti sang perawat.
Saat sampai di bagian administrasi, sang perawat kembali berbicara kepada mereka. "Ada orang yang ingin mengambil alih wali atas Tuan Tyas Reddish," kata perawat menjelaskan. "Apakah Anda bersedia memindahtangankan alih wali kepada orang tersebut?"
"Oh maaf." Sang perawat baru saja menyadari kesalahannya saat Haz dan Whisk menampakkan wajah bingung mereka terhadap ucapannya. Dia berdeham kecil dan melanjutkan, "Namanya Baskara. Tuan Baskara."
"Baskara?" Haz bertanya. Dia sama sekali tidak pernah mendengar nama itu. Tapi, perasaan buruk langsung menyergapnya. Dia pun tidak menghiraukan perkataan perawat dan langsung bertanya, "Apakah kami boleh menjenguk pasien terlebih dulu?"
"Tentu saja boleh. Tapi ...."
Tanpa mendengarkan tapi-tapian dari perawat, Haz langsung berlari menuju tangga darurat rumah sakit yang terletak tepat di samping bagian administrasi.
"Maafkan kami. Kami akan segera kembali ke tempat ini," kata Whisk. Dia pun mengejar Haz yang sudah berlari terlebih dulu. Entah kenapa dia merasakan adanya keanehan saat perawat menyebutkan nama "Baskara" dan dia yakin Haz pun merasakan hal yang sama, sehingga wanita itu langsung berlari meninggalkan bagian administrasi setelah bertanya apakah mereka boleh mengunjungi Tyas Reddish.
Whisk yang baru saja datang juga meringis melihat pemandangan yang mengerikan itu. Namun tidak seperti Haz yang hanya berdiam diri di depan pintu kamar pasien, pria itu segera berlari untuk memencet emergency bell yang ada di dekat hospital bed.
Beberapa orang suster serta satu dokter yang berjaga di dekat tempat itu langsung menuju ke sana. Mereka sama kagetnya dengan Haz dan Whisk.
"Cepat telepon polisi!"
Hanya dalam waktu satu menit, suasana rumah sakit menjadi gaduh. Banyak sekali orang yang kepo dengan kejadian itu.
Haz sendiri hanya bisa menghela napas berat. Dia berada di antara fase kesal, marah, takut, serta kecewa. Beberapa saat yang lalu, di dalam mobil yang dikendarai oleh Whisk, dia baru saja menyadari bahwa Tyas Reddish lah yang bisa memberikan titik terang kepada dirinya dan Whisk tentang hal yang menimpa mereka.
Meskipun Tyas Reddish adalah seorang mantan narapidana, akan tetapi dia juga orang yang bersedia membantu mereka. Haz malah membuatnya masuk rumah sakit dan secara tidak langsung membunuhnya—dengan cara mengirimkannya ke rumah sakit tanpa diawasi oleh siapa pun. Wanita berambut panjang gelombang sangat menyesali perbuatannya yang sangat ceroboh. Dia sama sekali tidak menyangka kesalahan kecil yang dibuatnya malah membunuh seseorang yang berjasa terhadap kasus ini malah terbunuh di rumah sakit.
Saat berada di luar rumah sakit, di dalam mobil bersama dengan Whisk, hanya berdua. Cyan dan Zenneth masih berada di rumah Zenneth untuk menyiapkan barang-barang yang dibutuhkan. Haz menggigit bibir bawahnya dengan perasaan gelisah dan merasa sangat bersalah.
"Berarti apa yang dikatakan oleh Tyas Reddish, semua itu adalah benar! Semua itu adalah kebenaran! Dia sudah memberikan kita semua petunjuk yang dia punya!" seru Haz. "Dan aku malah membuatnya berakhir di rumah sakit, dengan kondisi patah tulang, dan tidak dijaga oleh siapa-siapa." Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri. Dia menangkup wajahnya dengan telapak tangan dan mulai menangis.
"Haz. Hazelia." Whisk mengelus kepala Haz dengan gemas. Dia sangat lemah dengan air mata seorang wanita, apalagi Haz adalah wanita yang dicintainya. Tidak mudah baginya untuk terus-menerus melihat Haz menangis seperti itu. Dia berusaha menenangkan wanita itu.
"Haz ini bukan salahmu. Kamu mendengar ku?" Whisk menghibur. Dia tahu perasaan Haz sangat mudah berubah, tapi dia tidak yakin ini akan cepat berubah seperti sebelum-sebelumnya. "Kita yang salah. Aku juga melakukan kesalahan. Seharusnya aku tidur berprasangka buruk terhadap Tyas Reddish. Aku pernah bertemu dengannya satu kali. Meskipun saat itu dia sedang melakukan hal yang buruk. Aku tidak menyangka dia akan membantu pada akhirnya. Aku juga bertanggung jawab atas kematiannya."
"Tapi, aku yang paling bersalah di sini!" seru Haz. Tangisannya makin menjadi. "Aku tidak seharusnya membantingnya seperti itu, membuatnya masuk ke rumah sakit, membuatnya masuk ke kandang harimau! Dia bahkan ingin memberitahu kita tentang sewer. Dia mengatakan kebenaran. Dan ... dan ...."
Haz tidak bisa melanjutkan perkataannya. Segalanya, segalanya terlihat salah. Dia sekarang berada di posisi serba salah. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah menangis meratapi kepergian Tyas Reddish, yang begitu baik ingin memberikan titik terang atas kasus aneh itu. Namun tidak ada yang bisa dilakukannya saat itu, segalanya sudah hilang. Mulai dari data yang ada di sewer, hingga Tyas Reddish yang dibunuh, segalanya telah hilang hanya dalam waktu beberapa jam saja! Dan wanita berambut panjang gelombang merasa bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas segala hal yang terjadi.
"Dengar Haz!" Whisk membalikkan badan Haz hingga menatapnya. Dia menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk mata Haz. "Menangis tidak akan mengubah apa pun, Sekarang kamu diam dulu, kamu harus menenangkan dirimu sendiri. Setelah itu, kita akan masuk ke rumah sakit lagi."
"Untuk apa?" tanya Haz di sela-sela isak tangisnya.
"Mencari tahu siapa itu "Baskara" dari perawat yang membawa kita ke bagian administrasi. Tidak mungkin dia tidak melihat wajah orang yang disebut "Baskara". Jadi, aku meminta baik-baik untuk berhenti menangis. Ayo kita cari tahu kebenaran di balik semua ini!"