Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
26 : Kencan Alkaf dan Jel yang Terganggu


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Sebuah telepon dari Whisky Woods masuk ke dalam ponsel Liulaika Jelkesya.


"Dari siapa?" tanya Alkaf jengkel. Mereka tengah di sela-sela perbincangan panas dan suasana candlelight dinner yang sangat romantis—menurutnya.


"Whisky Woods." Jel melambaikan ponselnya. "Tidak biasanya dia akan menelepon seperti ini. Juga kami kan tidak pernah melakukan kontak sama sekali. Untuk apa dia menelepon aku?"


"Angkat saja, barang kali penting, atau tentang Hazelnut," jawab Alkaf.


"Mungkin ...." Jel mengangkat telepon dari Whisk. "Halo?" sapanya kepada orang di seberang sana.


Namun, yang terdengar bukankah suara seorang pria, melainkan suara yang sangat dia kenal. Hazelia Lify.


"Jel ..., ini aku, Hazelia Lify. Tidak ada waktu untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi. Kumohon cepat pulang. Aku takut ...," ujar suara Haz yang parau di seberang sana.


"Astaga! Apa yang terjadi padamu?!" tanya Jel panik. "Mengapa kamu memakai ponsel Whisk dan bukan milikmu untuk menelepon?" Jel memandang Alkaf: Sepertinya Haz dalam masalah besar.


"Pulang dulu kumohon ...." Terdengar suara isak tangis Haz dari seberang.


"Baiklah. Aku dan Alkaf akan segera pulang. Tunggu aku, jangan gegabah, jangan pergi kemana pun! Kamu dengar aku Hazelia Lify? Sekarang, kamu ada dimana?"


Jel langsung bangkit dari duduknya. Wanita itu menatap Alkaf seraya menjauhkan ponsel dari telinga dan mulutnya. Dia berkata, "Hazelia terdengar sangat panik. Sepertinya kita harus segera pulang dan membatalkan acara candlelight dinner ini dan menggantinya ke hari lain, Alkaf."


"Tidak masalah," kata Alkaf. Dia justru senang mendengarnya. Pria berkacamata sangat gugup sekarang. Dia bahkan tidak tahu apa hal yang harus dikatakan kepada Jel soal hatinya. "Hazelia Lify lebih penting," lanjutnya.


"Aku berada di apartemen Whisky Woods," jawab Hazelia dari seberang sana. "Kumohon cepat pulang, aku tidak tahu harus melakukan apa."


"Aku akan segera ke sana. Jangan pergi kemana pun, tetap berada di tempatmu sekarang!" seru Jel kepada Haz. Dia mematikan telepon dan segera keluar dari tempatnya berada, disusul oleh Alkaf yang baru saja selesai melakukan pembayaran di kasir.


"Ada apa dengan Haz?!" teriak Jel panik dari dalam mobil.


"Aku saja yang mengemudi, Jel." Alkaf membuka pintu pengemudi. "Tugasmu adalah menelepon Hazelnut lagi dan menenangkannya. Dia bisa saja melakukan hal aneh dalam kondisi panik seperti itu. Ya, sayang?"


"Baiklah," kata Jel keluar dari jok pengemudi digantikan oleh Alkaf.


Mereka berdua melakukan aktivitas mereka masing-masing—Alkaf mengemudi mobil, Jel menelepon Haz untuk menenangkan wanita itu.


"Jangan panik Haz. Kami sedang dalam perjalanan kembali. Tidak akan ada yang menyakitimu setelah kami sampai di sana," kata Jel berusaha menenangkan Haz. Dia menggunakan mode speaker agar Alkaf bisa mendengar percakapan mereka juga.


"Tap-iii ..., masalahn- masalahnya, Whisk terluka!" seru Haz masih tersedu, dia tidak berhenti menangis sedari tadi. "Dia terluka karena aku egois! Seharusnya dia tidak perlu peduli seperti ini! Dia itu orang yang baru saja kukenal. Aku melihat darah, Jelkesya! Aku melihat darah bercucuran dari tubuhnya! Kumohon ... cepat sampai di sini ..., aku takut, aku takut sekali ...."


"Kamu harus tenang Hazelia Lify!" teriak Alkaf. "Itu bukan salahmu, juga bukan salah Whisky Woods. Itu salah orang yang melukainya. Jangan pernah berpikir seolah itu salahmu! Whisky Woods tidak akan suka jika kamu menyalahkan dirimu sendiri."


Beberapa menit kemudian, mobil sampai di parkiran apartemen. Segera setelah mesin dimatikan, Alkaf dan Jel keluar dari sana dan berlari menuju apartemen yang kebetulan berada di lantai empat—apartemen yang mereka tinggali memiliki enam lantai.


Alkaf membukakan pintu apartemen Whisk. "Masuklah terlebih dulu, Jel. Aku akan mengecek apartemen kalian," ucapnya dengan nada serius.


"Hati-hati, Alkaf." Jel menepuk pundak pria itu, dibalas anggukan singkat. Mereka berpisah di sana untuk sesaat.


Saat Alkaf sampai di apartemen Hazelia Lify dan Liulaika Jelkesya, betapa terkejutnya pria berkacamata karena pintu apartemen sudah roboh, ruangannya sangat berantakan. Sungguh tak bermoral! geramnya gemas.


Alkaf menelepon seseorang.


Tut...


Tet...


"Halo, Ferdi?" tanya Alkaf pada orang di seberang sana.


"Ya, Al? Kenapa? Tumben sekali menelepon. Apakah kamu ada masalah?" Orang di seberang sana—Ferdiansyah—bertanya balik kepada Alkaf.


"Bukan aku yang berada dalam masalah. Bisakah kamu menelepon polisi untuk menginvestasi ruang apartemen di daerah Xxx, jalan Xxx, ibukota negara?" Alkaf memegang keningnya.


"Kebetulan sekali aku berada di ibukota negara! Baiklah. Aku tidak akan bertanya. Ini pasti soal Hazelnut dan Jelly. Aku akan segera datang bersama polisi," ujar Fer.


"Terima kasih." Alkaf menutup telepon dan segera keluar dari sana.


Di ruangan sebelah...


"ASTAGA!" jerit Jel ketika melihat tubuh berdarah Whisk menimpa Haz. "Apa yang terjadi!?"


"TIDAK ADA WAKTU MENJELASKAN! PANGGIL AMBULAN!" kata Haz panik.


Jika saja aku tidak panik tadi, Whisk tidak akan mengucurkan darah sebanyak ini dan bahkan sudah berada di rumah sakit! Betapa bodohnya diriku, Haz merutuki dirinya sendiri dalam hati.


Sirene ambulan terdengar beberapa saat setelah Jel memanggil mereka. Petugas medis segera berlari ke lokasi. Mereka bekerja secara cepat. Mengangkat tubuh Whisk dan memindahkannya ke atas tandu.


Beberapa tetangga tentunya keluar untuk melihat apa yang terjadi. Banyak bisikan-bisikan yang terdengar. Namun, semuanya yang tengah panik dan mengabaikan mereka.


Haz teringat kata-kata Whisk. "Jika aku tidak kembali, hal yang harus kamu lakukan adalah menelepon seseorang bernama Winston Le Fay. Beritahukan kepadanya Whisk dalam masalah besar sekarang ...."


Haz yang sudah masuk ke dalam ambulan sebagai wali Whisk segera membuka ponsel pria bersurai kemerahan. Dia mencari kontak Winston Le Fay di sana. Ketemu! batinnya. Tidak ada yang bilang jika dia terluka aku tidak harus melaporkan kepada orang bernama Winston ini bukan?


Jemari Haz bergerak cepat di atas layar. Dia menekan tombol telepon.


Tut...


Tet...


Telepon tersambung ke seberang dunia sana.


"Whisky Woods! Très rare d'appeler!—Tumben sekali kamu menelepon!" ujar suara pria dari seberang sana—Winston Le Fay.


"Speak English please!—Tolong berbicaralah dalam Bahasa Inggris!" seru Haz jengkel.


"Oh! I'm so sorry, Miss—Saya minta maaf, Nona ...." Dia terdiam sejenak. "Are you Whisk's girlfriend?—Apakah kamu pacar Whisk?"


"It's not your concern! Listen carefully, Winston Le Fay, Whisk asked me to telephone you whenever he's in danger. And now, his life is in danger because saving my life!—Itu bukan masalahmu! Dengarkan baik-baik, Winston Le Fay, Whisk memintaku untuk menelepon kamu jika saja dia berada dalam bahaya. Dan sekarang, hidupnya berada dalam bahaya karena menyelamatkan nyawaku!"