
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
Alkaf menarik tangannya. Dengan kasar, dia mencengkram tangan Jel dan ingin menarik wanita itu keluar dari Cafe.
"Ih! Apa-apaan sih?" Haz berteriak marah dan menarik Jel hingga cengkraman Alkaf terlepas. Dia menyembunyikan wanita itu di belakang tubuhnya.
"Jangan kira karena orang-orang kenal kamu. Jadi, kamu bisa seenaknya ya, Hazelia Lify!" seru Alkaf.
"Kamu yang jangan seenaknya! Ga tahu malu banget sih! Ga ngaca! Posesif keterlaluan." Haz membalikkan perkataan Alkaf. Dia tidak senang akan perkataan Alkaf yang mengatakan bahwa dirinya seenaknya. Menurutnya, Alkaf tidak bercermin pada dirinya sendiri. "Kunci mobil disita. Handphone orang juga disita. Toh kejadiannya bukannya melibatkan Jelkesya. Toh kamu sama dia juga lagi dinner di luar. Mikir dong pakai otak. Percuma Sarjana Dua, lulusan terbaik, nilai 3.98, tapi otak ga dipakai."
"Aku ga ada melibatkan Jel dalam situasi apa pun. Pernah? Enggak. Yang melibatkan aku di situasi paling buruk siapa? Ga bercermin. Ga berkaca. Dulu ngusir aku sampai ga punya tempat tinggal. Oh iya, maaf maaf nih ya, bukan orang ga punya uang kok. Kalau dulu masih minta Mama-Papa sih mana bisa dibandingin sama yang nyari sendiri."
Haz keterlaluan. Memang, tapi dia mengatakan kebenarannya. Dia tidak merasa bersalah setelah mengatakannya. Kali itu, tamparan Alkaf berhasil mengenai pipi Haz.
Whisk yang melihatnya marah dan langsung meninju Alkaf sampai terjatuh ke atas lantai.
"Dapat uang dari hasil jual diri aja bangga," kata Alkaf.
"Kamu yang jual diri atau aku yang jual diri?" Haz tersenyum manis. Dia sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Alkaf. Untuk apa dia tersinggung jika tidak pernah melakukannya.
"Lebih baik kalian hentikan mereka sekarang. Pria itu memiliki mulut yang sangat kasar," kata Pak Putra kepada para staff-nya.
Jel marah dengan perkataan Alkaf. Phila pernah mengatakan alasan dia putus dengan Alkaf, yaitu: Alkaf adalah orang yang sangat kasar dari tutur kata dan Phila tidak menyukai hal itu. Perkataan Phila terbukti hari itu, di Cafe, di depan semua pengunjung. Namun wanita itu tidak bisa mengamuk lantaran Haz menenangkannya dan mengisyaratkan kepadanya untuk tetap diam.
Andreas dan Leo keluar dari bagian belakang Cafe. Mereka melerai Alkaf dan Haz.
Haz sudah diam, tapi Alkaf masih saja mengoceh.
"J*lang macam kau harusnya tidur bersama segerombol pria di hotel saja. Untuk apa datang dan merusak hubungan orang lain."
"Tuan, jika Anda tidak suka, tolong pergi keluar saja." Pak Putra yang mengambil alih situasi di sana. Dia tahu Haz sedang menahan diri agar tidak keluar dari batasannya. Dia juga tahu Haz memiliki kepribadian lain yang gampang tersinggung dan gampang juga membunuh orang, yang tak lain adalah Qerza.
"J*lang tak tahu diri."
"Buk!" Whisk membogem mentah pipi Alkaf. Cukup keras, mungkin sebentar lagi akan membengkak. Apa yang dikatakan oleh Alkaf benar-benar keterlaluan. Pria bersurai kemerahan naik pitam dibuatnya.
"Saya bisa saja melaporkan Anda atas pencemaran nama baik jika Anda tidak berhenti sekarang," ancam Pak Putra.
Alkaf berdiri dan menatap benci ke arah Haz. "Lihat saja kau, l*nte murah!" Dia pergi dari Cafe itu setelah mengumpati Haz.
Whisk langsung mengelus pipi Haz yang memerah. "Sakit?" tanya pria bersurai kemerahan. Raut wajahnya tak bisa ditebak, antara marah atau sedang menyalahkan diri sendiri.
Haz menggelengkan kepalanya. "不痛!―Tidak sakit!" Wanita itu menepis jemari yang mengelus bagian pipi yang terkena tamparan dari Alkaf. Tentu saja sakit, dia hanya tak ingin membuat orang di sekitarnya khawatir. Apalagi Jel, pasti dia yang paling syok.
"如果痛, 说吧!—Kalau sakit, katakan saja!" Whisk sepertinya tidak akan berhenti mengkhawatirkan Haz. Apalagi mental Haz pasti terganggu. Dia cukup mengerti kalau Haz menahan Qerza ya sedang mengamuk di dalam dirinya.
Yang paling terpukul melihat kejadian itu adalah Jel. Dia sudah lama menjalin hubungan dengan Alkaf, tapi dia tidak tahu kalau Alkaf memiliki sisi seburuk itu. Apa yang dikatakan Phila saat mengetahui mereka berdua menjalin hubungan tidaklah salah.
Jel menundukkan kepalanya. Malu dan sedih, semuanya bercampur menjadi satu. Dia malu karena sebagai sahabat, dia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Di sisi lain, wanita itu merasa gagal menjadi pasangan yang baik.
Haz menepuk pelan pundak Jel. Dia tersenyum kepada wanita yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu tidak salah," katanya. "Terkadang, ada satu batasan yang pasti tidak bisa diterobos ketika menjalin sebuah hubungan."
Alasan Haz masih tidak ingin memiliki hubungan adalah karena dia sadar kalau dirinya masih sangat labil. Apalagi semenjak putus dengan Ric. Dia semakin yakin kalau dia masih belum siap. Bahkan sampai beberapa waktu ke depan pun mungkin belum.
"Kalian berdua. Tidak, kalian bertiga, mari ikut saya ke atas," kata Pak Putra dengan suara pelan.
Pak Putra menginstruksikan staff-nya untuk membereskan kekacauan yang diperbuat oleh Haz dan Alkaf. Dia juga menenangkan para pengunjung yang menatap penasaran ke arah Haz dan Jel, ingin mengetahui apa gerangan yang telah terjadi di antara mereka yang berkonflik.
Daripada memikirkan pipinya yang ditampar, Haz lebih memikirkan pergelangan tangan Jel yang terluka akibat cengkraman erat Alkaf. Ada bekas goresan kuku di sana. Pasti sangat perih.
"Tanganmu baik-baik saja?" tanya Haz. Dia sangat tenang, walau di dalam dirinya Qerza sedang mengamuk. Dia mengunci akses ketiga kepribadian agar tidak terjadi masalah. Meski begitu, dia tetap bisa merasakan perasaan Fabel, Qerza, dan Ziesya yang tidak karuan.
"Ayo!" Pak Putra sudah lebih dulu menaiki anak tangga. Diikuti oleh Haz dan Jel yang berjalan beriringan, serta Whisk yang berada di paling belakang.
Mereka berempat sampai di depan pintu ruang kerja Pak Putra.
Pak Putra mengizinkan mereka untuk masuk ke dalam sana. Entah apa yang ada di pikiran pria tua itu. Mungkin untuk menceramahi para anak muda.
Haz sudah menghafal setiap lekuk ruangan itu. Bahkan tempat Pak Putra menaruh kotak P3K saja dia tahu. Tak lupa dia meminta izin kepada pemilik ruangan agar bisa mengobati luka di pergelangan tangan Jel.
Anak ini masih bisa memikirkan orang lain. Padahal yang paling terluka adalah dirinya sendiri, batin Pak Putra. Whisk pun berpikir demikian.
"Pria tadi, tidak perlu diberitahu pun saya sudah bisa menebak dia siapa," kata Pak Putra ketika Jel akan membuka mulutnya dan berkata 'maaf' kepada semua orang yang ada di ruangan itu.
Jel merasa bahwa dirinya lah yang paling bersalah dan harus bertanggung jawab atas kejadian demi kejadian yang sudah dialami oleh Haz dan orang-orang di sekitarnya.
"Itu pacarmu, Jelkesya?" tanya Pak Putra.