Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
107 : Mencari Anjing Pelacak


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Di lorong rumah sakit, Hazelia Lify dan Whisky Woods tengah mencari hoodie yang dibuang oleh pemiliknya ....


"Apakah kamu yakin ada di sekitar sini? Kenapa aku merasa ini akan sulit?" tanya Whisk.


"Teruslah mencari, Whisk. Aku yakin sekali dia membuangnya di salah satu tempat sampah di sini." Haz juga sedang mencarinya dengan seksama.


Kumohon, ketemulah! Aku membutuhkan bukti yang lebih banyak. Aku harus bisa menemukan pelaku dan komplotannya! seru Haz dalam hati.


Saat itu juga, mata Haz melihat bagian dari benda yang dicarinya. Dia buru-buru menyambar dan mengeluarkannya dari tempat sampah. Dengan hati-hati, tentu saja. Dia tidak ingin seisi tempat sampah itu keluar.


"Aku mendapatkannya!" seru Haz berbisik.


"Baguslah. Kita harus cepat. Waktu tidak akan menunggu orang."


Setelah itu, Haz memesan jasa dari sebuah aplikasi online untuk mengantarkan dirinya dan Whisk ke shopping mall. Mereka tidak mungkin meninggalkan mobil Whisk di sana. Sehingga, mau tak mau, mereka harus kembali untuk mengambilnya.


Selama perjalanan, tidak terdengar perkataan apa pun dari pihak Haz maupun Whisk. Keduanya saling berdiam diri dan menatap keluar jendela, menganalisa berbagai informasi di dalam kepala mereka.


Whisk memikirkan bagaimana cara untuk menangkap pelaku. Sedangkan Haz, tentu saja bercengkrama dengan teman imajinasinya sambil mendekap hoodie yang ditemukannya di tempat sampah lorong rumah sakit beberapa saat yang lalu. Melakukan dua hal yang berbeda, tapi, ingin menghasilkan output yang sama.


Mendapatkan barang bukti seperti ini, bukan selalu berarti pertanda yang bagus. Barang bukti itu bisa saja tercemar. Maksudku, direkayasa, batin Whisk. Dia menggigit kuku di jemarinya sendiri. Dia sering melakukannya ketika pikirannya sedang buntu.


"Kamu tahu barang bukti bisa direkayasa, kan?" tanya Qerza. Ternyata kepribadian Haz yang satu itu dan Whisk memiliki pikiran yang sama. Mereka takut hoodie yang didapatkan oleh Haz mendapatkan hasil yang tidak bagus. Berhubungan dengan sekutu mereka saat ini, si kembar Vinzeliulaika dan sederetan orang di dekatnya.


"Berpikir positif dulu. Bisa jadi berbeda. Jika saja memang direkayasa, itu artinya hanya ada satu. Orang itu pasti mengenal mereka." Bukan Haz yang menjawab, melainkan Fabel.


"Aku tidak akan ikut-ikutan. Aku tidak begitu paham dengan apa yang sedang kalian bahas. Kalian tidaklah romantis sama sekali," keluh Ziesya.


"Ini bukan soal romantis atau tidak," kata Qerza dingin.


Haz menggigit bibir bawahnya. Benar kata Qerza, aku tidak boleh begitu bergantung pada benda-benda yang kutemui, batinnya. Dia terlihat sangat gelisah, sama seperti Whisk.


Karena keadaan yang canggung seperti itu, supir taksi online mulai bertanya-tanya tentang beberapa hal kepada Haz dan Whisk. Untuk mencairkan suasana saja. Atmosfernya sangat tidak nyaman. Pria bersurai kemerahan dan wanita berambut panjang gelombang seperti sepasang kekasih yang baru saja melakukan keributan besar. Padahal, mereka sama sekali tidak melakukannya. Dan, mereka bukanlah sepasang kekasih seperti yang dipikirkan oleh Supir.


Perhatian Haz dan Whisk teralihkan sebentar oleh Supir. Mau tak mau, mereka harus menjawab. Tidaklah sopan jika tidak menjawab.


Setelah perbincangan ringan, tak terasa mobil sudah memasuki area shopping mall.


"Baik, Pak." Haz menjawab sopan.


Supir menurunkan Haz dan Whisk di pintu masuk lantai satu.


"Terima kasih ya, Pak." Haz dan Whisk mengatakannya secara bersamaan. Mereka berdua menatap satu sama lain dan menjadi salah tingkah.


Supir yang melihatnya hanya bisa terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Baik, Non. Jangan lupa bintang lima nya ya."


"Siap, Pak!"


Haz memberikan 5 bintang untuk Supir. Saldo aplikasinya juga sudah terpotong sesuai dengan harga yang tertera. Setelah melakukannya, dia dan Whisk masuk beriringan ke dalam mall.


Mata Haz menggerayangi seisi mall dan menemukan Iris sedang duduk di kafe J.co yang berada tak jauh dari sana. Perasaan aneh kembali menyergapnya.


Aneh sekali, perasaanku selalu tidak bagus saat melihat pacar dari Ric. Eh, tunggu ... apa mungkin mereka sudah putus? Melihatnya begitu santai di tempat ramai seperti ini ... sepertinya begitu, batin Haz. Ric kan terkenal playboy. Mana mungkin menjalin hubungan dengan orang dalam jangka waktu lama.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Whisk sambil mengikuti arah pandang Haz. Dia menemukan Haz sedang menatap ke arah Iris.


Oh? Bukannya itu adalah pacar dari Richard Vinzeliuka? tanya Whisk. Tadi juga bertemu dengannya. Entah kenapa perasaanku tak begitu bagus. Dia langsung menggelengkan kepalanya. Tidak boleh berprasangka buruk, Whisky Woods.


Haz mengalihkan pandangannya ke arah Whisk dan menggelengkan kepalanya. "Ayo pergi. Kamu benar, waktu tidak akan menunggu orang," katanya.


Iris menyadari ada yang melihat ke arahnya. Dia hanya berpura-pura tidak tahu. Namun, dia tidak memperhatikan apa yang sedang dibawa oleh Haz. Dia menerima sebuah panggilan masuk di ponselnya setelah Haz dan Whisk beranjak dari tempatnya.


Haz dan Whisk menuju ke lantai tiga. Mereka keluar dari mall menuju parkiran di sana. Untung saja mereka mendapatkan parkiran tepat di sebelah pintu. Jadi, tidak sulit bagi mereka untuk menemukan mobilnya.


Haz dan Whisk masuk ke dalam.


"Kamu ingin pergi kemana?" tanya Whisk.


"Aku pun bingung. Siapa yang kira-kira bisa menganalisis ini untukku?" Haz menatap ke arah Whisk.


"Aku akan mencoba menghubungi beberapa temanku. Kamu tenang saja. Kita akan segera menemukannya," kata Whisk.


Mobil pun melaju dari parkiran.