Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
129. Akhirnya Aku Bertemu Denganmu : Liulaika Jelkesya Version


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Selama bersama dengan Alkaf, Jel merasa tak begitu bebas. Ada larangan-larangan yang harus dipatuhinya, tidak sama dengan ketika dia berada di sisi Haz.


Jel tahu, Alkaf menerapkan beberapa larangan untuk melindunginya. Namun sungguh dia tidak menginginkannya. Apalagi larangan tentang jangan terlalu dekat dengan Haz. Kenapa? Kenapa dia tidak boleh dekat dengan Haz? Haz sudah membantunya: Melindunginya, mencarikannya pekerjaan, bahkan tidak pernah sungkan untuk membantu apa pun kesulitannya.


"Ingin pergi kemana?" tanya Alkaf, memergoki pacarnya―atau, lebih tepat tunangan tidak resminya―yang mengendap-endap akan keluar dari apartemen.


"Aku butuh udara segar," jawab Jel.


"Ini sudah jam sembilan malam. Seharusnya kamu sudah tidur." Daripada balasan atas jawaban yang diberikan Jel, kalimat itu lebih mengarah ke paksa dan keposesifan seseorang atas pasangan. Pastinya, itu membuat Jel sedikit muak.


"Apakah aku tidak boleh mencari udara segar?" Jel juga sudah lelah. Setiap hari hanya harus mengikuti arahan Alkaf. Dia merasa bahwa dia hidup untuk diatur orang lain.


"Jujur saja, kamu mau kemana?" tanya Alkaf, berusaha mengorek informasi dari Jel.


"Aku akan kemana? Aku sudah bilang, aku ingin mencari udara segar!" Jel mulai meninggikan suaranya. Dia merasa ketidaksabarannya sudah mencapai puncaknya, mencapai ubun-ubunnya.


"Apa sulitnya menjawab tempat yang akan kamu kunjungi?" Alkaf juga tak mau kalah.


Sepertinya, sebentar lagi akan terjadi perang dingin yang hebat di antara kedua pasangan itu. Alkaf yang tak mau mengalah, dengan Jel yang lelah karena terus-terusan dikekang.


"Butuh udara segar itu kan banyak macam. Bisa saja aku di luar apartemen, bisa saja aku pergi ke taman, bisa saja aku pergi ke tempat-tempat yang aku suka. Lagipula, kamu menahan handphone-ku. Aku ga bisa menghubungi siapa pun, bahkan Mamaku sendiri! Jadi, ga usah berpikiran macam-macam!" Jel meledak.


Alkaf langsung terdiam setelahnya, tidak mengatakan apa-apa lagi. Sedangkan Jel sendiri, dia langsung melangkah pergi dari hadapan Alkaf. Dia keluar dari apartemen dengan jaket dan piyama tidur yang melekat di tubuhnya.


Alkaf hanya bisa menatap kepergian Jel. Wajah kecewa Jel terus-menerus terputar di dalam kepalanya. Salah satu hal yang dia takutkan adalah Jel yang akan meninggalkan dirinya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hal itu terjadi padanya.


Jel yang sudah berada di luar apartemen, menghela napas panjang dan bergumam pada dirinya sendiri, "Aku ingin pergi ke Cafe yang sering ku datangi bersama dengan Haz ...."


Jel merogoh saku celana piyama tidurnya, mengambil kunci mobil yang ada di dalam sana. Ternyata dia tidak lupa untuk membawa benda mungil itu.


Jel berjalan ke arah parkiran. Dia menghidupkan mesin dan melajukan mobil dari parkiran.


Pikiran Jel sangat kacau saat itu. Beberapa kali, dia hampir saja menabrak kucing jalanan. Untung saja, dia selalu menginjak rem di waktu yang tepat. Instingnya lumayan tajam. Dia merasa bahwa kucing-kucing itu sengaja ingin membiarkan diri mereka tertabrak. Beberapa kali dia harus pergi keluar dari mobil untuk memindahkan tubuh kucing-kucing itu.


"Baik-baik ya ...," kata Jel sembari mengelus kepala kucing yang dipindahkannya. Dia melakukan hal itu kepada semua kucing yang dipindahkannya.


Ternyata begini perasaan Haz. Walau aku tidak terlalu menyukai kucing, entah kenapa aku merasa bahwa hatiku hangat, batin Jel.


Satu hal gila yang pernah dilakukan oleh Haz yang terlintas di dalam kepala Jel adalah: Haz pernah dipergok oleh wanita itu, sedang membawa kaleng-kaleng makanan kucing dan berjalan-jalan ke setiap sudut kota Pematangsiantar untuk memberikan kucing-kucing jalanan makanan. Saat itu dia sangat ingin membantu Haz, tapi wanita berambut panjang gelombang malah kabur entah kemana.


Wajah Jel tersenyum. Menurutnya, perilaku Haz sangatlah konyol. Namun dia menyukainya. Haz itu tidak munafik, dia akan melakukan apa yang ada di dalam pikirannya tanpa harus mengubahnya. Haz yang dia kenal ... mungkin sedikit arogan dalam beberapa aspek, tapi sangat baik hati.


Jel kembali ke dalam mobil dengan perasaan yang baik saat memastikan bahwa kucing itu tidak akan tiba-tiba melompat ke jalanan. Akan sangat merepotkan jika tertabrak tentu saja.


"Apakah Haz masih mengikuti Club Pecinta Kucing?" gumam Jel, bertanya kepada dirinya sendiri. "Sepertinya aku sudah sedikit jatuh cinta kepada makhluk berbulu yang satu itu. Akan sangat baik jika ...."


Jel kembali murung. Dia tentu saja ingat kalau ponselnya masih ditahan oleh Alkaf, perkara ketahuan menelepon Haz beberapa saat yang lalu. Hanya seperti itu ... sampai ponselnya pun harus ikut disita oleh pria berkacamata.


Jel kembali menyalakan mesin mobil dengan perasaan kalut sembari berharap bahwa tidak akan ada lagi kucing-kucing yang akan melompat ke jalanan.


Mata Jel berembun, hidungnya memerah. Sebentar lagi, bulir-bulir akan jatuh dari kelopak matanya, mungkin. Padahal perasaannya sudah sedikit membaik ketika memikirkan tentang Haz, tapi malah menjadi buruk karena terbesit di dalam pikirannya perlakuan Alkaf yang sangat posesif.


Setiap orang, baik yang berpasangan ataupun belum, mendambakan sebuah hubungan tanpa rasa curiga, tanpa kelakuan posesif, dan ingin privasinya dihargai.


Jel sangat sadar kalau dirinya juga kurang bisa membagi waktu antara me time, waktu untuk Alkaf, dan waktu untuk Haz. Salahnya juga.


Namun selama Jel tinggal bersama dengan Haz, waktunya bisa diatur sedemikian rupa. Haz membantu mengingatkan Jel secara halus: Bertanya apakah Jel sudah memberikan kabar kepada Alkaf bahwa mereka akan kerja; Bertanya kepada Jel apakah sudah memberi kabar kepada Mama tentang rencana mereka yang akan pergi mendaki gunung; Bertanya apakah barang-barangnya sudah dikemas atau belum, atau ketika Jel memerlukan bantuan lain.


Dada Jel bagai dihantam, apalagi ketika mengingat kebaikan Haz kepadanya. Dia tak habis pikir, mengapa orang-orang suka menganggap Haz itu buruk padahal mereka sama sekali belum mengenalnya. Bahkan yang lebih parahnya lagi, yang tidak mau mengenalnya.


Cafe itu sudah terlihat di depan mata Jel, dia langsung berbelok menuju parkiran dan memarkirkan mobilnya.


Jel turun dari mobil dan tersenyum tipis. Setidaknya aku memiliki tempat ini ... aku hanya rindu dengan Haz, batinnya.


Saat Jel memasuki kafe, dia kaget karena melihat Haz yang ternyata juga ada di sana. Pikirannya langsung kosong dan otaknya langsung nge-blank, bagai orang linglung.


Jel tidak menyangka dia akan bertemu Haz secara kebetulan seperti ini.