
#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!
"Zenneth tidak akan senang ketika dia menemukan kamu sedang menyalahkan diri sendiri. Kamu terlalu sensitif, Haz," kata Whisk, menepuk pundak Haz.
"Memang, sebagai seorang manusia, aku terlalu sensitif. Aku selalu berharap bahwa aku tidak akan melakukan kesalahan sekecil apa pun, walau pada akhirnya aku tidak bisa melakukannya." Mata Haz berkaca-kaca saat mengatakannya.
Whisk langsung menghentikan semua hal yang ingin dikatakan maupun ditanyakan nya. Dia cukup paham dengan perubahan Haz. Baginya, wanita berambut panjang gelombang terlalu ekspresif.
Memang bagus menjadi orang yang ekspresif. Namun, tidak dalam saat yang bersamaan. Bagi orang yang sudah terbiasa hidup dalam keadaan 'tidak memiliki perasaan', mati rasa, ataupun 'dingin', orang yang ekspresif sangatlah lemah. Itu hanya menurut sudut pandang mereka saja.
Orang-orang memiliki pandangan yang berbeda-beda. Bisa saja menurut seseorang orang ekspresif cenderung memiliki kejujuran yang amat tinggi dan sangat menghargai orang lain.
Bagi Whisk sendiri, dia senang ketika Haz menjadi dirinya sendiri. Menjadi orang yang ekspresif. Orang yang melankolis dan sentimental. Orang yang tulus dan rendah hati.
Nich hanya bisa diam menikmati adegan dramatis yang sedang terjadi di depan mata kepalanya sendiri. Entah kenapa, dia merasa bahwa dirinya bisa benar-benar jatuh cinta kepada seorang Hazelia Lify.
Whisk langsung menatap tajam ke arah Nich saat dia menangkap gelagat aneh yang ditampakkan oleh si polisi. Dia jelas tahu bahwa Nich juga menyukai Haz. Dari segi sifat tentu saja. Walaupun fisik Haz tidaklah begitu buruk.
"Untuk apa Anda menatap saya seperti itu?" tanya Nich. Dia balas menatap datar dan dingin ke arah Whisk.
"Aku tidak akan membiarkanmu melakukan macam-macam hal." Whisk berkata, tak kalah dingin dari Nich.
Mereka terlihat seperti saingan yang akan mengguncang dunia hanya untuk memperebutkan Haz.
"Kalian berdua tidak usah bicara macam-macam! Whisky Woods, naik!" bentak Haz, yang sudah ada di dalam ambulans.
Whisk tersenyum tipis kepada Nich, mengejek si polisi. "Semoga kamu bisa mendapatkan posisi itu juga, Nicholas Qet Farnaz." Dia pun naik ke ambulans dan pintu belakang ambulans tertutup, menyisakan wajah jengkel Nich di belakangnya.
Whisky Woods, kamu kira kamu akan lebih baik dariku? Mari kita bersaing. Cara apa pun itu, batin Nich.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Nicholas tadi?" tanya Haz.
Whisk menatap ke arah Haz dan menggelengkan kepalanya, lalu dia tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Hanya sedikit kesalahpahaman," jawabnya.
Haz menatap Whisk dengan tatapan curiga, kemudian dia memutar bola mata malas dan mengangguk mengerti. Sebenarnya, dia ingin tahu. Namun, dia juga bisa dan sangat menghargai privasi orang lain.
Whisk terkekeh kecil melihat wajah ingin tahu Haz yang sangat menggemaskan. Dia hanya tak ingin membagi fokus Haz. Sudah cukup wanita berambut panjang gelombang pusing karena dirinya yang menyukainya.
Katakanlah bahwa Whisk egois, tapi, begitu lebih baik. Dia tidak perlu mengatakan kepada Haz bahwa Nich menyukainya. Hal itu hanya akan menjadi beban pikiran wanita yang disukainya. Lagipula, pria bersurai kemerahan tidak rela jika Haz harus memikirkan orang lain juga.
"Kamu sangat aneh hari ini," celetuk Haz sambil menatap ke arah Whisk. "Atau, lebih tepatnya, setelah perbincangan kecilmu dengan Nicholas Qet Farnaz."
"Benarkah? Suasana hatiku sedang baik, juga buruk di saat bersamaan."