Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
94 : Penyesalan Selalu Datang Terlambat


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Hah! Lelucon macam apa yang sedang Anda lantunkan, Nona? Saya itu seorang polisi. Pihak saya sangatlah netral. Mencurigai orang tanpa bukti seperti ini, bukannya merupakan pencemaran nama baik?" tanya Nich, acuh tak acuh. Dia terlihat tidak sedang menyembunyikan sesuatu. Dan, bagian itulah yang paling dicurigai oleh Haz.


"Jika benar kamu tidak melakukan sesuatu," kata Whisk, menyela percakapan Haz dan Nich. "Aku akan segera mengetahuinya. Aku tidak akan segan menjebloskan dirimu ke dalam Penjara Alcatraz jika kamu berani berbohong." Pria bersurai kemerahan menatap tajam ke arah Nich. Pandangannya beralih dan tatapannya mulai menghangat ketika menatap ke arah wanita yang disukainya.


"Saya berani menjamin bahwa saya tidak sedang berkomplotan dengan siapa pun. Lagipula, kalian pasti tahu sesuatu tentang kasus ini. Terutama Anda, Nona Lify," kata Nich dengan percaya dirinya.


"Jika aku mengetahui sesuatu, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Haz, menantang.


"Saya tidak akan melakukan apa pun. Anda memiliki back-up yang sangat menakutkan," jawab Nich sambil melirik ke arah Whisk dan tersenyum tipis ke arah pria bersurai kemerahan.


"Jika kamu berpikir bahwa aku akan bergantung kepada Whisky Woods, maka kamu salah. Aku bisa saja menghancurkan dirimu jika kamu berani bermacam-macam," kata Haz.


"Menghancurkan ku dengan dirimu sendiri?" tanya Nich, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Haz.


Haz menyeringai lebar tanpa memperdulikan pertanyaan dari Nich, membuat polisi itu bingung dan sangat penasaran dengan pernyataan yang disampaikan oleh wanita berambut panjang gelombang.


"Tidak perlu dipikirkan," kata Whisk terang-terangan. "Semakin kamu pikirkan, kamu tidak akan pernah memecahkan teka-teki yang berhubungan dengan Hazelia Lify."


"Untuk apa Anda memberitahukan kepada saya?" tanya Nich, mencurigai Whisk.


Jika harus jujur, Haz dan Whisk bagai sejoli yang bisa membuat orang lain terjebak dalam permainan mereka yang bagai labirin. Bahkan seorang Profesor sekali pun.


"Menurut Anda, semua hal yang Anda lontarkan itu omong kosong?" Nich semakin curiga dengan Haz, yang menurutnya banyak menyimpan rahasia-rahasia. Mau kecil ataupun besar.


"Menurut kamu?" Haz mengangkat kedua bahunya sambil menyeringai manis.


"Entahlah. Saya juga tidak tahu-menahu apa yang dipikirkan Nona," kata Nich. Akhirnya, dia pun mengabaikan senyuman manis Haz terhadapnya. Dia menganggap senyuman itu adalah sebuah ejekan dan kengerian yang harus dihindari.


Haz menghela napas panjang sambil menatap ke arah Zenneth, yang wajahnya memucat, dengan frustasi. Dia tidak percaya bahwa Zenneth bisa diserang. Padahal, dia berada di tempat yang banyak orang dan sangat aman—menurut Haz.


"Kamu ingin menyalahkan diri sendiri lagi?"


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Whisk sukses membuat Haz berpaling ke arah pria itu. Si wanita menatap Whisk lekat-lekat, sebelum akhirnya menjawab, "Benar. Aku ingin menyalahkan diriku sendiri. Lagi. Segala hal yang terjadi, baik kepada Tyas Reddish, ataupun kepada Zenneth, ataupun kepada orang-orang yang sudah dicelakai. Semuanya adalah kesalahanku. Menganggap bahwa musuh terlalu mudah untuk ditangkap. Membuatku tidak memikirkan keadaan orang lain. Aku merasa sangat bersalah. Kepada Tyas Reddish adalah yang paling besar."


"Tapi, kamu tidak bisa menyelamatkan semua orang, Hazelia ...," kata Whisk, berusaha untuk membujuk Haz agar wanita berambut panjang gelombang tidak menyalahkan dirinya sendiri atas segala hal yang sudah terjadi.


"Setidaknya, aku bisa mencegahnya."