Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
144 : Bagaimana Jika ...?


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Kalian harus bekerja keras. Semangat!" seru Waikit, menyemangati Haz dan Whisk yang harus memecahkan teka-teki di balik apa yang terjadi.


Pukul 4:30 A. M. di subuh hari ....


Whisk mengendarai mobil hingga sampai di Cafe yang mereka datangi hingga tengah malam tadi.


Di Cafe itu, Whisk menurunkan Jel.


"Kamu yakin kamu baik-baik saja?" Haz terlihat sangat cemas ketika bertanya.


"Aku baik-baik saja dan akan begitu, Haz. Jangan terlalu memikirkan diriku, oke? Temanmu yang diculik juga penting. Aku bisa menangani Alkaf," jawab Jel, meyakinkan Haz kalau dia akan baik-baik saja. Kalaupun dirinya harus berhadapan dengan Alkaf dan amarahnya.


Haz mengangguk mengerti. "Jaga dirimu baik-baik."


"Kamu juga."


Jel masuk ke dalam mobil dan berkendara pulang seorang diri.


Haz merasa bersalah.


"Dia tidak menuntut banyak," kata Whisk.


"Aku tahu," balas Haz.


"Jangan menyalahkan dirimu sendiri." Whisk menepuk-nepuk lembut kepala Haz.


"Aku tidak melakukannya." Haz melakukannya. Apa pun yang terjadi kepada orang lain, jika itu melibatkan dirinya, dia akan menyalahkan dirinya sendiri terlebih dulu.


"Kamu melakukannya. Aku tahu. Jangan melakukannya lagi." Whisk membujuk Haz.


"Bisa kita pulang?" tanya Haz mengalihkan pembicaraan. "Ke apartemen saja. Aku sedang tidak ingin mengenang sesuatu."


Whisk mengerti maksud Haz. Dia mengangguk, menyalakan mobil, dan berkendara ke apartemen.


Sesampainya di apartemen ....


"Haz? Hazelia Lify?" panggil Whisk.


Haz mengabaikan panggilan Whisk dan berfokus pada dunianya sendiri.


Whisk hampir saja menyerah menghadapi Haz yang seperti itu, jika saja dia tak ingat kalau Haz bisa ditenangkan dengan camilan atau segelas teh hangat.


"Apakah kamu ingin segelas teh?" tanya Whisk dengan lembut.


Haz mengalihkan perhatiannya pada Whisk. Wajah cemberutnya sangat jelek. Dia tidak tahu dan tidak peduli. Dia ingin relaksasi. Namun dia tidak bisa melakukan hal yang diinginkannya. Oleh karena itu, dia sangat memerlukan bantuan orang lain untuk membuat dirinya tenang.


Haz mengangguk mengiyakan.


"Kamu ingin teh apa?" Sebelum Whisk beranjak, dia mengajukan satu pertanyaan lagi kepada Haz.


"Terserah." Haz menjawabnya dengan jutek.


Alkaf benar. Seharusnya Whisk mempelajari sesuatu yang menjadi kesukaan Haz terlebih dulu. Jika seperti ini, dia akan bingung sendiri.


"Aku akan buatkan Teh Chinese kalau begitu." Whisk menghilang di balik dinding.


Sementara Whisk membuat teh untuk Haz dan juga dirinya sendiri, wanita berambut panjang gelombang kembali tenggelam dalam dunianya. Bercengkrama dengan teman imajiner-nya.


"Jika kejadian ini bukan pertama kali untuknya, berarti skandal yang tertulis di dalam berita itu adalah karena Keluarga Hassan." Fabel menyimpulkan.


Ada satu hal yang Haz tidak mengerti: Kenapa Keluarga Hassan harus menciptakan skandal seperti itu? Apa yang mendorong mereka berbuat hal gila? Pasti ada pemicunya. Bukan hanya suatu spontanitas belaka.


"Mereka melakukan percobaan pembunuhan namanya. Ric sekarat di dalam Rumah Sakit, dia pasti tahu sesuatu. Maka dari itu, Keluarga Hassan meracuninya dan berusaha membunuhnya," asumsi Ziesya.


Ziesya benar. Pasti Ric mengetahui sesuatu yang tak seharusnya orang-orang, termasuk dirinya sendiri ketahui. Oleh karena itu, dia menjadi pemicu semua hal yang terjadi sekarang, batin Haz.


Whisk kembali dengan dua gelas teh di tangannya. Dia meletakkan satu cangkir di hadapan Haz yang sedang duduk di sofa di ruang kerjanya. Dia sendiri duduk di kursi di depan laptopnya.


Sebuah e-mail masuk ke dalam laptopnya. Whisk langsung membukanya.


Untung saja aku menyuruh Andrian memasang printer. Ini memudahkan semua orang untuk membaca data, batin Whisk, lega karena pilihannya tepat.


Haz mengaduk teh dan menciptakan putaran air di dalam gelas.


Whisk menyerahkan berkas data yang dikirim oleh Fleur dalam bentuk hard-copy ke hadapan Haz.


Haz mengalihkan perhatiannya dan tersenyum lemas. "Terima kasih," katanya.


"Semangat, Haz!" Whisk menyemangati Haz. Dia tidak tahan melihat Haz berada di titik terendah terus-menerus.


Whisk duduk kembali dan membaca berkas data yang dikirimkan. Otaknya langsung berputar dengan cepat, berusaha memecahkan segala teka-teki.


Haz juga melakukan hal yang sama.


"Tunggu sebentar. Iris Hassan adalah anak pertama dari keluarga Hassan. Riyan adalah anak pertama dari keluarga Hassan?" tanya Fabel. Dia juga ikut serta membaca berkas data itu.


Meja kaca ruang kerja Whisk saat itu dipenuhi oleh kertas berkas data.


Haz membaca semua berkas data dengan cepat. Di dalam kepalanya seperti terdapat banyak algoritma yang berlalu-lalang. Dia berusaha memecahkan semua hal ganjil yang ada.


Whisk juga demikian. Bedanya, dia membayangkan sesuatu.


Whisk juga menemukan bahwa Keluarga Hassan sedang melakukan percobaan pembunuhan terhadap Ric. Dia sedang membayangkan jika dirinya adalah Ric.


Apa yang diketahui oleh Tuan Muda Vinzeliuka? tanya Whisk dalam hati.


Whisk melihat Ric menguping pembicaraan Iris dengan seseorang, yang diyakininya adalah Riyan. Dia mendengar dengan seksama, tapi yang terdengar hanyalah bisikan tak jelas.


Ayolah ... kamu harus tahu apa yang sedang mereka bicarakan, Whisky Woods, batin Whisk. Dia mendorong dirinya sendiri lebih jauh, menyelami momen dimana Ric mendengar sesuatu yang dikatakan oleh Iris dan Riyan.


Nihil. Semua yang terdengar hanya berupa bisikan tak jelas.


Whisk menggigit bibir bawah, berusaha untuk menyelami lebih dalam. Lagi.


Sementara itu, Haz dan teman-teman imajiner-nya melontarkan banyak pertanyaan untuk kelompok mereka.


"Kenapa Iris dan Riyan sama-sama adalah anak pertama?"


"Apa yang sebenarnya terjadi di dalam Keluarga Hassan?"


"Meninggalnya Kepala Keluarga Hassan, Tuan Besar Hassan, apakah hanya sebuah kecelakaan?"


"Nyonya Hassan menghilang setelah kecelakaan Tuan Besar Hassan. Kemana perginya Nyonya Hassan?"


"Kenapa tiba-tiba Iris Hassan bisa muncul di Indonesia setelah dikabarkan tinggal di Amerika Serikat semenjak kecil?"


"Apa hubungan itu semua?"


"Riyan Hassan, pernah terjebak kasus Perampokan dan Pelecehan Seksual? Bukan! Itu pasti Ayahnya."


"Nyonya Hassan mengalami pelecehan seksual oleh R yang merupakan Ayah dari Riyan Hassan."


"Riyan Hassan merupakan anak dari R dan Nyonya Hassan."


"Lalu, Iris? Iris adalah anak dari Tuan Besar dan Nyonya Hassan?"


"Masih sama, kemana perginya Nyonya Hassan? Kenapa dia bisa menghilang begitu saja? Tidak mungkin hal itu terjadi."


"Nyonya Hassan adalah kunci dari segala hal. Jika bisa menemukan keberadaannya, semua hal yang sudah terjadi akan menjadi jelas."


"Kenapa Nyonya Hassan menghilang?"


"Kenapa Nyonya Hassan menghilang?"


"Kenapa Nyonya Hassan menghilang?"


"Kenapa Nyonya Hassan menghilang?"


"Bagaimana jika ...."


"Bagaimana jika ...."


"Bagaimana jika ...."


"Bagaimana jika ...."


"Bagaimana jika Iris Hassan adalah Nyonya Hassan sendiri?"