Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
62 : Greget dan Ternyata ....


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


"Apakah kita harus melanjutkan sampai ke dalam sana?" tanya Whisk. Dia terlihat tidak yakin akan masuk sampai ke dalam. Perasaannya tidak begitu enak, apalagi setelah Zenneth mengatakan bahwa kemungkinan sinyal yang berasal dari sewer bukanlah sinyal perangkat elektronik.


"Apa yang harus ditakutkan?" tanya Haz. "Jika memang benar itu sinyal bom, juga tidak akan langsung meledak. Pasti memiliki durasi yang tidak pendek. Aku kan sudah bilang aku yang akan masuk ke dalam sini, kamu tidak perlu ikut jika kamu belum siap dengan apa yang harus dihadapi."


"Kamu itu keras kepala, Hazelia," kata Whisk sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, pasrah dengan sikap Haz yang seperti itu.


"Aku memang keras kepala. Hazelia Lify adalah Hazelia Lify. Tidak akan berubah menjadi orang lain," balas Haz. Dia tidak terima dengan perkataan Whisk. Dia sendiri juga sangat sadar bahwa dia itu keras kepala.


"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu ...." Whisk seolah seperti mengulur waktu agar Haz kehilangan mood-nya. Dia tidak mau Haz mengambil resiko yang sangat besar.


"Jika kamu ingin berdebat, Whisky Woods," kata Haz menyadari bahwa Whisk sedang mengulur waktunya. "Silahkan cari orang lain. Kamu tidak lihat aku sedang sibuk sekarang?"


"Hazelia Lify!" bentak Whisk. Akhirnya amarah yang dibendung oleh Whisk keluar juga. Itu kali pertamanya pria bersurai kemerahan marah terhadap Haz. Namun dia membentak Haz karena dia peduli.


Haz tersentak kaget ketika Whisk membentaknya seperti itu. Dia hanya tidak menyangka bahwa Whisk akan berlaku seperti itu kepadanya. Padahal kan wanita itu hanya ingin mengetahui apa yang ada di dalam sewer, dia juga sudah memperingatkan Whisk untuk tidak ikut jika dia tidak ingin.


"Sudah cukup sekarang kamu membentak diriku kan? Keluarlah. Aku yang akan mencari benda penting di tempat ini," kata Haz. Wajahnya merah padam menahan marah. Dia tidak ingin marah karena setiap kali dia marah terhadap seseorang, dia selalu menangis pada akhirnya dan menyalahkan dirinya sendiri.


Whisk pun akhirnya berbalik dan pergi dari sana, meninggalkan Haz seorang diri.


"Pzt! Hazelia Lify, masuk?" Terdengar kembali suara Zenneth setelah sepuluh menit Haz berkeliling di dalam sewer tanpa Whisk di sisinya.


"Masuk. Ganti." Haz membalas ucapan Zenneth sembari mengetuk-ngetuk pelan dinding batu di sewer dan tidak sengaja dia menemukan bagian yang sudah dibongkar oleh seseorang.


"Haz. Haz. Kamu di dalam sana, kan? Kamu sedang di dalam sana, kan?" Zenneth terdengar berusaha untuk tidak panik. Namun Haz berhasil menebak bahwa wanita itu sedang sangat panik dan tidak tenang di seberang sana.


"Ya. Aku sedang ada di dalam sini. Ganti," balas Haz.


"Sekarang, kamu cepat pergi dari sana. Sekarang, Hazelia!" Zenneth berseru dengan penuh penekanan, membuat Haz makin bingung dan ingin tahu alasannya sebelum dia meninggalkan tempat itu.


Dahi Haz berkerut. Dia kebingungan akibat reaksi Zenneth yang tiba-tiba dramatis dan dilebih-lebihkan—menurut Haz sendiri. Dia pun mencoba untuk meminta penjelasan kepada Zenneth.


"Apa maksud kamu? Apakah ada sesuatu di sini? Kenapa hawanya biasa saja? Aku tidak merasakan adanya bahaya apa pun."


"Hazelia, kamu keluar sekarang. Jangan menunda lagi!" bentak Zenneth dari walkie talkie di seberang sana.


Kenapa orang-orang hari ini suka membentak? Tidak bisakah dibicarakan dengan cara baik-baik? tanya Haz dalam hati dengan kesal. Dia paling tidak suka ada orang yang membentak.


Tapi, memang Haz harus diperingatkan secara keras. Jika tidak, dia tidak akan pernah mendengar ucapan orang tersebut. Contohnya saja seperti Whisky Woods. Sudah didesak untuk jangan dilanjutkan pun tetap dilanjutkan oleh wanita itu. Tidak ada yang paham dengan pemikirannya.


Haz itu ibaratkan seorang anak kecil. Apa pun yang dia rasakan, tidak akan menjadi beban baginya. Ketika dia marah, dia akan menangis—karenanya, Haz sangat menghindari marah dengan orang lain, dia juga tidak suka ada orang yang marah dan membentak. Orang tidak paham dengan pikirannya yang sesederhana itu.


"Astaga Hazelia! Kali ini saja. Tidak bisakah kamu mendengarkan orang lain sekali saja?" tanya Zenneth. Sudah bisa dipastikan bahwa wanita itu sangat marah dan sedih kepada Haz, terdengar sangat jelas dari suara seraknya.


"Dan apa sulitnya mengatakan alasannya?" Haz berusaha mengendalikan diri untuk tidak marah. Dia hanya meminta alasannya, tapi Zenneth seakan tidak ingin memberitahunya dan bersikukuh bahwa dia harus keluar dari sana tanpa diberi alasan.


"Astaga, Hazelia, kamu egois! Ini alasannya tidak ada orang yang ingin mendekatimu. Semuanya takut padamu yang egois dan sering marah. Apa sulitnya kamu pergi ke tempat aman dulu lalu aku menceritakannya kepadamu? APA ITU SANGAT SULIT BAGIMU?"


Haz yang semula sudah membuka mulutnya untuk membalas pertanyaan yang diajukan oleh Zenneth, mendadak menutup mulutnya kembali. Dia bukannya akan merasa bersalah setelah mengatakan hal yang ingin dikatakannya kepada Zenneth, melainkan karena mendengar sesuatu.


Haz langsung mematikan walkie talkie yang ada di dalam genggaman tangannya dan mendengar lebih seksama suara apa yang sedang mengganggunya itu.


Setelah mendengar lebih seksama, Haz akhirnya bisa mengetahui suara apa yang sedang mengganggunya: SEBUAH BOM YANG TERPASANG DI BALIK DINDING YANG DIKETUK-KETUK OLEHNYA TADI.


Oh astaga, untuk mengatakan itu sebuah bom saja harus sampai bertele-tele seperti ini. Berarti bom itu baru saja diaktifkan. Jika bom baru saja diaktifkan durasi paling singkat adalah sekitar satu sampai dua menit. Aku tidak tahu aku sudah melewatkan berapa detik, yang jelas aku harus segera kabur dari tempat ini kan? batin Haz. Dia masih bisa dengan santai menghitung durasi bom yang akan meledak itu.


Haz berlari dengan sangat cepat dan memanjat tangga sewer yang akan membawanya ke jalan raya.


Haz sampai dengan selamat di atas sana. Dia dengan santai berjalan ke arah mobil yang disetir oleh Whisk, yang berada cukup jauh dari sewer—yang jelas tidak tepat di atas rongga sewer.


Sebuah mobil hitam melintas di sebelah Haz. Tepat ketika mobil hitam itu berada di atas plang yang membawa masuk ke dalam sewer, sebuah ledakan besar terdengar. Haz langsung memutar kepalanya ke belakang untuk melihat apa yang terjadi.


Mobil hitam yang tadinya melewati Haz terpental beberapa meter ke depan sana. Posisinya terbalik. Tak lama setelah kejadian itu terjadi, terdengar ledakan lain. Mobil hitam itu kembali terpental beberapa meter ke depan sana, sebelum akhirnya meledak dan terbakar di atas jalan raya yang sepi dan dingin. Gelap, semua lampu di jalan itu mati total. Hanya ada kobaran api yang melahap mobil hitam.


Segalanya begitu cepat terjadi dan itu semua terjadi tepat di depan mata Haz. Dia adalah satu-satunya saksi yang melihat bagaimana ledakan itu terjadi dan bagaimana mobil itu terpental kemudian hancur.


Kejahatan apa yang sudah dilakukan oleh pengemudi mobil hitam itu sampai dia harus meninggal karena ledakan bom seperti ini?