Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
34 : Little Girl Met Her Relative


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


[NOTE : MEREKA MEMAKAI BAHASA INGGRIS KETIKA BERBINCANG!]


Yang sama dengan jawaban Haz adalah Andrian. "Saya akan memilih melakukan hal tersebut. Meskipun menyakitkan, tapi membuktikan bahwa seseorang bukanlah barang hanya dari keputusan yang mereka buat. Alur apa yang disajikan itu yang dijalani. Setelah badai berlalu, akan ada pelangi indah."


Haz dulu juga berpikir demikian. Pada akhirnya yang dia jalani hanya akan menyakiti dan menenggelamkan diri sendiri lebih dalam lagi. Tapi, dia tidak pernah menyerah sama sekali. Dia tidak pernah memilih untuk melawan masalah yang datang. Ibaratkan seseorang yang hanyut terbawa arus sungai, ada batu melompat ke atas batu, ada kayu berpegang kepada bagian kayu. Jika menerjun melalui air terjun, berdoalah agar diberikan anugerah dan keselematan.


Itu adalah sebuah pelajaran hidup. Masalah yang datang, jalani saja. Jangan pernah sekali-kali melawan mereka. Peluk erat saja semua, damaikan hati—bukan seperti Alkaf yang hampir melakukan hal bodoh dan membunuh dirinya sendiri dulu, atau Jel yang setiap hari terpuruk karena dia merupakan anak broken home, atau Ric yang sementang orang tuanya tidak dapat mendampingi dan dia tidak mendapat kasih sayang yang cukup sehingga dia bisa berbuat seenaknya, atau Milla yang tidak pernah melepas dendam atas kematian keluarga yang bahkan tidak menyayanginya. Melalui itu semua, Haz belajar banyak. Juga melalui kisah masa lalu yang membuatnya menyimpan tabiat buruk. Setidaknya, dia bersyukur sekali bisa hidup untuk hari ini.


"Baiklah! Kita akan melanjutkan kisah hidup Haz kecil!" Alkaf mengumumkan.


Keesokan paginya ...


Pukul 07.00 AM, saat Haz kecil baru saja membuka matanya ...


Suasana di panti asuhan saat itu masih sangat sepi. Kebanyakan anak-anak, khususnya di bawah usia dua belas tahun, belum bangun sama sekali. Bunda Shinta pun tidak terlihat di berbagai ruangan di panti, dia tengah pergi ke pasar untuk menjual beberapa sayuran hasil panen kebun kecil milik panti.


Haz kecil yang sedang duduk di tepi ranjang memutuskan untuk mandi dan menunggu kedatangan Bunda Shinta dan orang yang akan mengadopsinya. Dia menguping pembicaraan Bunda Shinta dengan orang itu kemarin malam, sesuai isi pembicaraan, hari ini adalah tepat hari dimana orang-orang tersebut akan datang menjemputnya.


Haz kecil menapakkan kakinya di lantai marmer yang dingin. Dia berjalan gontai menuju ke kamar mandi sambil menggulung lehernya dengan handuk seperti memakai syal. Dia juga membawa satu setelan baju santai untuk dipakainya. Susahsekali memiliki pemikiran orang dewasa seperti ini ... batinnya.


Tepat setelah Haz kecil keluar dari kamar mandi, dia bisa mendengar ada orang yang mengetuk pintu panti asuhan dengan sikap tak sabarannya.


Tok! Tok! Tok!


Belum saja satu menit berlalu, ketukan itu terdengar lagi.


Tok! Tok! Tok!


Ah ... dasar tidak punya sopan santun! Siapa yang berani ketuk pintu dengan keras seperti itu? pikir Haz kecil kesal.


Alkaf menjeda sejenak, ada yang menyela ceritanya,


"Tunggu, benarkah Hazelia berpikiran seperti itu?" tanya Milla.


"Aku benar-benar mengatakan hal itu dalam hatiku. Sudah dua puluh tahun berlalu, namun aku masih mengingatnya begitu jelas. Tak hanya sampai di sana, Alkaf lanjutkanlah ceritamu."


Alkaf melanjutkan cerita yang tertunda,


Haz kecil melempar handuk yang baru saja dipakainya ke dalam keranjang pakaian kotor—mengingat hari ini dia akan pindah rumah. Dia bergegas menuju pintu. Jika saja telat semenit lagi dia membuka pintu, dia rasa orang yang mengetuk pintu dengan sikap tak sabarannya akan membawa tank dan mengebom panti asuhan.


Sayang sekali Haz kecil tidak tertarik dengan mereka berdua. Dia mengetahui dia adalah sanak keluarga dari Li's Family. Ayah dan Ibunya kecelakaan pesawat saat dia berumur dua tahun. Dia akhirnya dipindahkan ke panti asuhan selama dua tahun, sebelum akhirnya ada orang—yang mengatakan mereka adalah sanak keluarganya—ingin mengadopsinya.


Haz kecil menatap mereka dari atas ke bawah, mengabaikan pakaian mewah dan dandanan menor mereka yang seolah mengatakan mereka adalah orang terkaya di dunia, lalu berkata, "Silahkan masuk! Jika Anda berdua ingin bicara dengan Bunda Shinta, beliau sedang keluar dan sebentar lagi akan pulang."


Tuan dan Nyonya Li menatap satu sama lain, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Maaf, apa kamu—seorang anak kecil yang umurnya tidak lebih dari lima tahun—tadi baru saja berbicara seperti wanita dewasa?" tanya Nyonya Li mencemooh.


"Tentu saja," katanya sambil menatap datar ke arah Tuan dan Nyonya Li. "Anda ingin masuk atau tidak?"


Tuan dan Nyonya Li mau tak mau harus masuk ke dalam dan menunggu kepulangan Bunda Shinta, pemilik panti asuhan. Mereka sebenarnya merasa sangat jengkel dengan client—tentu saja yang dimaksud adalah Bunda Shinta, mereka menganggapnya client karena sudah dapat dihitung melakukan transaksi, pertukaran antara sejumlah uang dan anak kecil—mereka tidak ada di rumah dan mereka harus menghadapi anak kecil yang bersikap seperti orang dewasa.


Alkaf menunda ceritanya lagi,


"Wah ... tidak bermoral! Mereka memperlakukan seorang anak kecil layaknya sebuah barang?" Whisk menyela.


"Seperti yang dikatakan Andrian, yang menentukan kamu barang atau bukan adalah dirimu sendiri. Manusia bukan benda mati! Untuk apa memiliki akal jika tidak pernah dipakai?" kata Haz. Dia meneguk coklat panas yang dibeli oleh Jel selama mereka mendengar cerita Alkaf. "Maaf merepotkanmu, Jelkesya."


"Oh. Tenang saja, jika penjahat itu berani bermacam-macam, aku masih memiliki stun gun dan semprotan lada. Aku akan menangkapnya terlebih dulu!" seru Jel.


Alkaf juga berharap ada jeda sebentar. Dia sangat haus, menyambar air mineral yang tersedia di dalam ruangan dan meneguknya rakus.


"Ini, aku juga membeli soba noodles sebagai sampingan makan makan. Untuk Whisk, kamu makan bubur saja," ledek Jel.


"Terima kasih, Nona," Whisk mengerutkan alisnya, jengkel dengan Jel.


"Tenang saja, Jelkesya tidak akan memberimu bubur rumah sakit. Dia cukup pengertian," kata Haz, mengambil porsi soba paling besar yang memang disediakan untuknya.


Semua orang di dalam sampai menganga tidak percaya melihat porsi makan Haz dengan soba jumbo-nya. Kecuali Alkaf dan Jel tentunya.


"Apa? Jangan membuat ekspresi kalian seolah seperti melihat setan!" seru Haz sebelum memasukkan makanan berupa mi itu ke dalam mulutnya.


"Wah, Hermana—sebutan untuk adik perempuan dalam Bahasa Spanyol—posi makanmu tidak main-main," kata James. Sekarang dia lebih bersahabat dibanding tadi. Dia juga sudah meluruskan masalahnya dengan Milla.


"Oh. Ini belum seberapa. Tunggu sampai ada event All You Can Eat! kalian pasti akan lebih terkejut lagi dengan porsi makan seorang Hazelia Lify," kata Alkaf, memegang porsi soba noodles yang sama besarnya dengan milik Haz. "Sampai mana ceritaku tadi?"


"Tuan dan Nyonya Li masuk ke dalam panti asuhan."