Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
150 : Romantisme (Bagian 2)


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


Tak berapa lama kemudian, Whisk datang dengan sebuah nampan di tangan. Dia meletakkan sepiring Spaghetti Carbonara di atas meja di hadapan Haz yang sedang membaca laporan dan bercakap-cakap sendiri.


Walau Whisk kecewa karena Haz belum memiliki perasaan terhadapnya, dia tidak bisa berlarut-larut mengabaikan Haz.


Namun tidak dengan seorang Hazelia Lify. Jikalau pun dia suka dengan seseorang, ketika orang itu membuatnya marah, dia betah berdiam diri dan mengabaikan orang itu.


Whisk merebut berkas yang sedang dilihat oleh Haz.


"Matamu bisa sakit. Lebih baik kamu istirahat dulu," kata Whisk.


Haz menggembungkan pipinya sambil melirik ke arah Whisk yang menaruh berkas di atas meja kerjanya. Sudah lama tidak ada orang yang begitu perhatian terhadapnya. Dia turut senang karena Whisk ingin memperhatikan manusia keras kepala sepertinya―walau sebenarnya Jel dan Zenneth juga memberikan perhatian, tapi mereka tidak pernah benar-benar memberikannya lantaran harus berbagi dengan pasangan sendiri.


Haz mengambil piring di atas meja dan menikmati Spaghetti Carbonara racikan Whisk. Dia terlihat sangat menikmati dan itu membuat Whisk lega.


Baguslah jika dia menyukainya, batin Whisk.


Saat itu pukul delapan malam dan dua puluh menit kemudian Haz dan Whisk baru siap dengan acara makan malam mereka.


Haz menaruh piring-piring kosong ke atas nampan yang tadinya dibawa oleh Whisk. Dia memperhatikan pria bersurai kemerahan yang sudah tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia tahu Whisk sedang merencanakan sesuatu agar Cyan dan Zenneth segera ditemukan. Dia sangat berterima kasih karena sebagai 'orang baru'―orang yang baru saja hadir di dalam hidupnya tak lebih dari satu tahun―pria itu bisa diandalkan, juga ingin menjalin hubungan baik dengannya.


Di dunia ini, sering kali manusia menemukan orang yang berseteru dengannya daripada orang yang ingin menikmati segala sesuatu baik dalam suka maupun duka.


Mungkin Haz sudah melewati berbagai macam pengkhianatan, tapi wanita itu selalu bersyukur karenanya. Dengan pengkhianatan yang diperbuat, dia menjadi lebih bijak dalam memilih dan bertindak.


Maaf karena melibatkan orang baru sepertimu masuk ke dalam duniaku yang rumit ya, Whisky Woods, batin Haz.


Ketika mencuci piring-piring kotor pun Haz melamun. Jika saja dia tak segera sadar, piring yang ada di tangannya pasti sudah terbelah menjadi beberapa bagian.


Apa yang sedang kupikirkan? tanya Haz dalam hati.


Haz segera menyelesaikan acara cuci piring kotor. Setelahnya, dia menyalakan kompor dan merebus air. Dia menyeduh teh dalam gelas kosong yang tadinya dia pakai.


Whisk datang, juga untuk menyeduh teh di gelas yang sudah kosong.


"Oh? Aku tadi mencari kamu. Tapi, kamu tidak ada dalam ruangan," celetuk Whisk.


Haz hanya tersenyum. Dia mendidihkan air. Lagi. Tentu saja untuk Whisk.


"Aku akan melaksanakannya besok. Selama ini merekalah yang terus membuntuti kita. Besok adalah saat yang tepat untuk membalas kelakuan itu," jawab Whisk.


Haz tertawa ringan.


"Terkadang kamu ini benar-benar ...."


Haz memang tidak menyelesaikan kata-katanya. Namun Whisk tahu maksud wanita berambut panjang gelombang. Pria itu juga ikut tertawa.


"Baguslah jika kamu senang. Untuk Cyan dan Zenneth, aku akan bertanggung jawab penuh, Haz. Kamu tidak perlu khawatir," kata Whisk.


"Aku senang karena ada orang yang ingin memperhatikanku ketika aku mengalami kesulitan. Terima kasih, Whisk."


Haz berjalan beriringan dengan Whisk menuju ke ruang kerja. Mereka harus membaca banyak berkas dan mengetahui apa yang disembunyikan oleh Keluarga Hassan. Mereka juga harus berpikir ekstra agar bisa memastikan Cyan dan Zenneth baik-baik saja. Yang paling tertekan dalam masalah itu adalah Hazelia Lify. Whisk mengerti.


Wajah Whisk merona saat dia mendengar kata 'terima kasih' yang diucapkan oleh Haz. Oh, ayolah! Semua orang menyukai jika orang yang dibantunya mengucapkan kata itu walau hanya membantu menyelesaikan masalah kecil, bukankah begitu?


Whisk juga sama. Dia itu manusia biasa yang ingin membantu orang yang kesulitan. Terlepas dari karena dia adalah seorang detektif, seorang yang mengabdi pada masyarakat. Namun juga karena siapa Haz baginya. Pria bersurai kemerahan sangat bersemangat ketika tahu dia banyak membantu dan memberikan perhatian pada wanita yang disukainya.


Romantisme adalah kata yang cocok untuk menggambarkan hubungan mutualisme Haz dan Whisk. Ya, walaupun Sang Wanita sendiri masih belum bisa membuka hatinya untuk Whisk, tapi, tentu saja dia akan membukanya tak lama lagi. Yang Haz perlukan hanyalah waktu yang tepat. Whisk harus bersabar untuk itu.


Haz dan Whisk duduk terpisah dengan jarak yang agak berjauhan. Bukan menjadi masalah untuk mereka berdua karena mereka adalah tipe orang yang menginginkan ruang sendiri untuk berpikir tentang beberapa hal. Mereka juga bisa dikatakan mengerti maksud satu sama lain.


Haz membuka lembar demi lembar berkas bertumpuk di atas meja kaca. Sesekali, dia menandai beberapa bagian berkas yang dirasanya penting dan dapat membantu. Di lain waktu, dia melirik ke arah Whisk yang setia berpikir. Juga, beberapa kali pandangan kedua insan itu tak sengaja bertemu dan wanita berambut panjang gelombang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sedangkan Whisk, dia hanya bisa tersenyum tipis.


Whisk mengembuskan napas beberapa kali. Setiap kali rencana yang dibuatnya berakhir dengan buruk atau dengan tanda tanya besar. Dia tidak tahu harus bagaimana.


Terkadang Whisk berhenti dan menatap ke arah langit-langit putih.


Mereka suka sekali mengecat rumah dengan warna putih, batin Whisk.


Whisk mengeluh tentang warna putih yang selalu dipakai untuk mengecat tembok rumah di dalam hatinya. Jika dia tinggal lebih lama―dia memang tinggal lama di Indonesia, di ibukota, dia akan mengecat apartemen yang ditinggalinya dengan berbagai macam warna yang menurutnya bagus. Namun tidak se-lama yang dibayangkan, tapi juga tidak rela lepas dari Haz.


Whisk melihat ke arah Haz yang mengeluarkan berbagai macam ekspresi lucu. Mulai dari menggaruk kepala yang tidak gatal, mengerutkan kening dan menggerutu panjang dengan pelan, memanyunkan bibirnya, menjulurkan lidah karena ada bualan di dalam berkas yang dibacanya, hingga beberapa hal lain. Menurut pria bersurai kemerahan, berbagai macam ekspresi yang dikeluarkan oleh Haz sangat lucu. Terkadang pun dia ingin tertawa dengan keras, tapi tidak ingin Haz menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan.


Beberapa waktu, Whisk dipergok sedang menatap ke arah Haz. Wajahnya merona merah. Namun dia tidak mengalihkan pandangannya dan tetap memperhatikan Sang Wanita. Dia juga bisa melihat sudut bibir Haz yang tertarik ke atas ketika senang kalau ada hal baru yang bisa membantunya.


Dua insan itu sangatlah damai dan serasi.