Lady Sherlock : First Unofficial Case

Lady Sherlock : First Unofficial Case
45 : Keributan Di Atas Kapal


#NOTE : SEMUA YANG DIKETIK DI SINI ADALAH FIKSI. MOHON PEMBACA TIDAK MENYALAHPAHAMI SEMUA HAL YANG DITULIS OLEH AUTHOR!


[Pada episode novel ini mengandung unsur kekerasan dan kata-kata tidak pantas. Diharapkan kepada para pembaca untuk menanggapi hal tersebut dengan bijak!]


Di atas kapal di pagi hari selanjutnya ....


"Bajingann! Diam kau, bbiadab!"


Di depan kamar Haz kecil terjadilah keributan yang cukup besar dan memekakkan telinga. Haz kecil sendiri terbangun karena mendengar suara gaduh tersebut.


Ada apa pagi ini? tanya Haz kecil dalam hati dengan jengkel.


Setelah didengar dengan seksama, ternyata itu suara dari Adi. Entah apa yang dilakukannya di luar sana dengan orang lain, Haz kecil tidak ingin tahu.


Namun, suara gaduh di depan kamar Haz kecil membuatnya tak nyaman, sehingga dia pun memutuskan untuk melihat-lihat apa yang telah terjadi.


Haz kecil membuka pintu kamarnya. Loh? Apa aku tidak kunci kamarku semalam? Dan, dia langsung menyaksikan Adi dan seseorang yang tak dikenalnya berkelahi, serta banyak orang-orang memperhatikan mereka. Tak ada yang melerai.


Mereka semua tampaknya sangat terhibur dengan adegan kekerasan tersebut. Bahkan Tuan Li dan Nyonya Li juga ikut menonton.


Haz kecil hanya bisa menghela napas. Dia tidak mengerti mengapa mereka suka keributan yang menggangu seperti itu. Namun karena dia masih kecil, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain kembali menutup pintu kamarnya.


Adi yang melihat Haz kecil sesaat tiba-tiba saja sadar. Dia berusaha menahan emosinya yang menguar. Entah kenapa dia begitu penasaran dan menuruti Haz kecil. Ada sesuatu yang aneh dan unik dari Haz kecil yang tak bisa dikatakan olehnya.


"Kau! Beruntung kau hari ini. Jika aku melihatmu melakukan sesuatu lagi lain kali, aku tidak akan segan-segan memutuskan lehermu dari tubuhmu!" Adi berseru sambil menatap tajam ke arah pria yang telah babak belur dibuatnya.


Sebelum kejadian baku hantam pagi itu ....


Akhirnya aku tak tidur semalaman karena perasaan bersalah terhadap gadis kecil, pikir Adi seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Adi menghela napas panjang. Dia memikirkan bagaimana cara untuk meminta maaf kepada Haz kecil tanpa menyinggung perasaannya.


Adi tahu Haz kecil adalah seseorang yang mudah tersinggung. Mungkin karena dia tahu tentang kedua orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang.


Aku harus lebih memperhatikan kata-kataku, pikir Adi.


Pria itu akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri saja. Aku akan berusaha untuk tidak menyinggung perasaannya saat minta maaf nanti.


Saat membuka pintu kamarnya, Adi dapat melihat seorang pria sebayanya dengan gelagat mencurigakan tengah berdiri persis di depan pintu kamar Haz kecil.


Adi tidak begitu memperdulikan orang tersebut dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Pria aneh, pikirnya.


Namun, perasaan Adi terhadap pria itu sungguh tak enak.


Apakah aku harus balik ke sana? Untuk apa dia berada di depan kamar gadis kecil? tanya Adi di dalam hati.


Adi pun memutuskan untuk menunda acara bersih-bersih diri dan berputar kembali ke arah kamarnya.


Baru saja Adi berbelok dari ujung lorong dek kapal, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah pria bergelagat aneh tersebut berhasil membuka pintu kamar Haz kecil yang terkunci.


Kekesalan langsung menguasai Adi. Dia, yang sudah menganggap Haz kecil sebagai adiknya, tak suka bila orang lain memperlakukan Haz kecil seenak jidat mereka.


Membayangkannya saja sudah membuat Adi jengkel, apalagi ketika harus melihatnya dengan mata kepala sendiri seperti saat itu.


Tanpa berpikir panjang, Adi langsung berlari menuju ke arah pria itu. Dia menarik kerah baju pria itu dan meninju dengan keras wajahnya.


Pria aneh itu sempat melawan. Namun dia kalah dalam perkelahian jarak pendek dengan Adi, hingga dia tak bisa melawan lagi.


"Katakan! Siapa yang menyuruhmu melakukan hal ini, brengsekk?"


"Katakan!"


Orang-orang yang mendengar suara gaduh langsung keluar dari kamar mereka untuk melihat apa yang sudah terjadi. Mereka langsung disuguhi pemandangan baku hantam itu.


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut pria aneh itu. Yang ada hanya senyuman menyebalkan yang membuat Adi semakin jengkel.


Adi menggertakkan giginya. "Katakan! Brengsekk mana yang menyuruhmu melakukan hal seperti ini?"


Adi berusaha sebisa mungkin mengecilkan suaranya agar tidak membangunkan Haz kecil yang terlihat olehnya masih tidur tadi, sebelum dia menutup pintu kamar yang dibuka oleh pria aneh yang sedang dihajarnya.


"Annjing yang setia tidak akan pernah menggigit Tuannya sendiri." Akhirnya sebuah kalimat terucap dari bibir pria aneh itu.


Perkataannya bukanlah jawaban yang diinginkan Adi. Malah membuat pria itu semakin kesal terhadapnya.


"Bukankah kau juga begitu, Tuan Adi? Kau sudah seperti annjing penjaga gadis kecil itu. Hehe ... hehehehe ...."


"Bajingann! Diam kau, bbiadab!"


Kembali ke kamar pasien yang ditempati oleh Whiskey Woods ....


"Begitulah kronologi kejadian yang menyebabkan keributan di depan kamar Haz kecil pagi itu di atas kapal yang sedang berlayar ke ibukota negara." Alkaf menghentikan ceritanya untuk minum sebentar. Dia kaget karena tidak menyadari bahwa Haz sudah di sana, mendengarkan mereka.


"Kapan kamu kembali?" tanya Alkaf kaget. Beruntung sekali karena dia belum sempat meminum air. Coba saja kalau sudah, dia pasti akan tersedak.


Semua orang langsung mengikuti pandangan Alkaf. Mereka menemukan Haz sudah duduk di hospital bed yang kosong di seberang mereka. Mereka juga sedikit kaget.


"Aku sedari tadi ada di sini," kata Haz dengan santainya.


"Kamu seperti hantu saja!" seru Alkaf dengan jengkel.


Haz tertawa geli mendengarnya. Memang dia merasa dia seperti hantu saja, yang terkadang kehadirannya tidak bisa dirasakan oleh seseorang sama sekali. Alkaf dan Jel sudah paham tentang hal itu, tapi mereka tetap saja bisa kaget.


"Tidak melakukan kegilaan?" tanya James sambil menyuapkan sesendok bubur ayam ke dalam mulutnya. Dia menatap Haz bingung.


"Tidak. Tidak perlu membuat onar di pagi hari seperti ini," jawab Haz. Dia dengan santai membuka bungkusan nasi lemak yang dibelinya dari Zenneth.


Padahal itu ada suapan pertama, dikira Hazelia Lify akan sangat berkesan dan enak. Ternyata ... ternyata nasi lemak itu tidak ada enaknya sama sekali.


Sialan Zen! Masakan macam apa yang telah kamu buat ini? Bahkan nasi lemak yang dibuat oleh seorang nenek tua saja lebih enak, keluh Haz dalam hati.


Namun karena Haz sudah membelinya seharga 1 gram emas, dia tetap menyuapkan sesendok demi sesendok nasi ke dalam mulutnya.


"Aku suka nasi lemak."


Haz tahu Jel paling suka dengan nasi lemak ataupun nasi tim ayam sebagai sarapan. Wanita berambut panjang gelombang berkata, "Jangan dicoba yang ini. Aku beli ini di bawah sana, di seberang rumah sakit. Tidak ada enaknya sama sekali. Telurnya juga sangat asin. Dia pakai telur asin. Sudah gila penjual itu."


Di tempat Zenneth ....


"Maaf ya, Hazelia Lify. Aku baru pertama kali memasak!"